hasil karya filsfat
Pengertian
Awal Logika
Logika adalah sebuah ilmu. Setiap ilmu
memperlajari suatu gerak khusus dalam hubungannya dengan corak gerak material lainnya, dan
berusaha untuk menemukan hukum-hukum umum dan corak tertentu dari gerakan
tersebut. Logika adalah ilmu tentang proses berfikir.
Dalam
perkembangannya terdapat dua bentuk logika (proses berpikir) dalam dua tahap perkembangan itu adalah: logika
formal dan logika dialektik.
Dalam diskusi kali ini, kita akan membedah dua bentuk Metode Berpikir
dalam aliran filsafat tersebut.
Perkembangan
Logika
Dalam sejarah perkembangan LOGIKA. Logika
formal merupakan hasil karya filasat zaman yunani kuno, seperti Aristoteles
dalam mensistimasikan hasil-hasil positif dari berbagai pemikiran dan membangun
sebuah sistim berfikir yang disebut logika formal. Euklides melakukan hal yang
sama untuk dasar-dasar geoemetri; Archimides untuk dasar-dasar mekanika;
Ptolomeus dari Alexandria kemudian menemukan astronomi dan geografi; dan Galen
untuk anatomi. Dan dalam perkembanganya logika formal digantikan oleh Logika
Dialetika
Logika
aristoteles mempengaruhi cara berfikir umat manusia selama dua ribu tahun yang
pada akhirnya kemudian ditantang, dijatuhkan dan menjadi ketinggalan zaman oleh
dialektika, sebuah sistim besar kedua dalam ilmu cara berfikir.
Dialektika merupakan hasil dari gerakan ilmu-pengetahuan revolusioner selama
seabad, yang dilakukan oleh pekerja-pekerja intelektual. Dialektiaka muncul sebagai cara fikir terbaru dari
filsuf-filsuf besar dalam Revolusi Demokratik di Eropa Barat pada abad ke-16
dan abad ke-17. Hegel, seorang tokoh dari sekolah filsafat idealis (borjuis) di
Jerman, adalah seorang guru besar yang pertama kali mentransformasikan ilmu
logika, seperti di sebutkan oleh Marx: “bentuk-bentuk umum gerakan dialektika
yang memiliki cara yang komprehensif dan
sadar sepenuhnya.”
Marx dan Engels adalah murid Hegel di
lapangan Logika. Dalam ilmu logika, mereka kemudian melakukan revolusi pada
revolusi Hegelian—dengan menyingkirkan elemen mistik dalam dialektikanya,
dan menggantikan dialektika idealistik dengan sebuah landasan material yang
konsisten.
Para akhli Dialektika modern tidak melihat logika formal sebagai
sesuatu yang tak berguna. Sebaliknya, menganggap bahwa logika formal tidak
sekadar sesuatu yang penting dalam sejarah perkembangan metode berfikir tapi
juga cukup penting pada saat ini agar berfikir benar. Yang memang dalam
dirinya, logika formal jelas kurang lengkap. Dengan mengetahui logika formal
kita dapat membedakan dengan metode dialetik.
Akhirnya,
lewat prosedur tersebut, kita mendapatkan pelajaran berharga dalam pemikiran
dialektik. Hegel menjelaskan lagi: “Sesuatu tidak bisa dikenali secara
menyeluruh sebelum mengenali lawannya.” Contohnya, kita tidak dapat benar-benar
mengerti tentang seorang buruh-upahan sampai belum mengetahui bagaimana lawan
sosial ekonominya, kelas kapitalis.
3.
Tiga Hukum Dasar Logika Formal
Ada
tiga hukum dasar yang menjadi ciri pokok logika formal.
1.
hukum identitas.
Hukum tersebut dapat disebutkan dengan berbagai cara seperti: “sesuatu adalah
selalu sama dengan atau identik dengan dirinya, dalam bidang Aljabar: A sama dengan A.” Rumusan khusus hukum tersebut tak
terlalu penting. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya, maka
dalam segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan tak berubah.
Keberadaannya absolut. Seperti yang dikatakan oleh akhli fisika: ” materi tidak
dapat di buat dan dihancurkan.” Materi selalu tetap sebagai materi.
Jika sesuatu adalah selalu dan dalam semua
kondisi sama atau identik dengan dirinya, maka ia tidak dapat tidak sama atau
berbeda dari dirinya. Kesimpulan tersebut secara logis patuh pada hukum
identitas: Jika A selalu sama dengan A,
maka ia tidak pernah sama dengan bukan A (Non-A).
2. hukum
kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan Non-A.
Itu tidak lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan posistif, yang
dituntun oleh hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut
pemikiran formal, A tidak dapat menjadi Non-A. Jadi hukum kedua dari logika
formal, yakni hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial pada hukum
pertama. Beberapa contoh: manusia tidak dapat menjadi bukan manusia; demokrasi
tidak dapat menjadi tidak demokratik; buruh-upahan tidak dapat menjadi bukan
buruh-upahan.
Hukum
kontradiksi menunjukkan pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan
fikiran. Jika A selalu sama dengan dirinya maka ia tidak mungkin berbeda dengan
dirinya. Perbedaan dan persamaan menurut dua hukum di atas adalah benar-benar
berbeda, sepenuhnya tak berhubungan, dan menunjukkan saling berbedanya antara
karakter benda (things) dengan karakter fikiran (thought)
3.
hukum tiada jalan tengah. (the law of excluded middle). Menurut
hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu.
Jika A sama dengan A, maka ia
tidak dapat sama dengan Non-A. A tidak dapat menjadi bagian dari dua kelas yang
bertentangan pada waktu yang bersamaan. Dimana pun dua hal yang berlawanan
tersebut akan saling bertentangan, keduanya tidak dapat dikatakan benar atau
salah. A adalah bukan B; dan B adalah bukan A. Kebenaran dari sebuah pernyataan
selalu menunjukkan kesalahan (berdasarkan lawan pertentangannya) dan
sebaliknya.
Hukum yang
ketiga tersebut adalah sebuah kombinasi dari dua hukum pertama dan berkembang
secara logis.
Isi Material dan Realitas Obyektif
Hukum-hukum Tersebut
Seperti
yang aku katakan sebelumnnya, dialektika modern tidak menolak kebenaran yang
dikandung oleh hukum-hukum logika formal. Sikap penolakan terhadap logika
formal akan berlawanan dengan semangat dialektika, yang melihat beberapa
kebenaran dalam kenyataan logika formal itu sendiri. Pada saat bersamaan,
dialektika membuat kita bisa melihat batas-batas dan kesalahan dalam
memformalkan pandangan tentang sesuatu.
Karakter
macam apa yang ada dalam realitas material yang hendak dicerminkan, dan secara
konseptual dihasilkan kembali, oleh hukum-hukum berfikir formal?
Hukum identitas bertujuan merumuskan fakta material agar
bisa mendefinisikan segala sesuatu dan memperlakukan segala hal dalam semua
perubahan fenomenanya. Dimana pun kelanjutan (perubahan) esensial hadir dalam
realitas, hukum identitas tetap bisa mendeteksinya.
Kita
tak bisa berbuat atau berfikir secara sadar bila menolak hukum tersebut. Jika
kita tidak bisa lagi mengenali diri kita sendiri karena amnesia atau karena
sesuatu hal—karena kerusakan mental, misalnya—hingga menghilangkan kesadaran
identitas pribadi kita, maka diri kita akan hilang. Tapi hukum identitas hanya
lah absyah untuk melihat dunia secara universal ketimbang untuk melihat
kesadaran manusia itu sendiri. Jika kita tidak bisa mengenali bagian mental
yang sama, lewat beberapa tindakan, maka kita tidak akan bisa melakukan
produksi. Jika seorang petani tidak bisa mengerti perkembangan jagung yang ia
tanam dari biji sampai menghasilkan jagung lagi, dan kemudian menjadi bahan
makanan, maka tidak mungkin ada pertanian.
Anak-anak
yang telah mengerti lebih jauh, bisa memahami alam dunianya saat pertama kali
ia menemukan fakta bahwa ibu yang menyusuinya adalah orang yang sama yang,
dengan berbagai cara, memberinya makan. Pengenalan kebenaran dengan cara
seperti itu tak lain merupakan sebuah contoh khusus tentang pengenalan terhadap
hukum identitas.
Hukum
identititas mengarahkan hingga bisa mengenali keragaman, perubahan permanen,
kesamaan, pemisahan dan penampakan yang berbeda, guna mencakup keseluruhan
semua itu, serta guna mendapatkan penghubung antar fase-fase berbeda dari
fenomena tertentu. Oleh sebab itu, penemuan dan penggunaan hukum tersebut
disimpulkan telah membuat sejarah dalam pemikiran ilmiah dan, oleh karenanya,
kita memberikan penghargaan pada Aristoteles untuk semua yang telah
dirumuskannya. Oleh karena itu pula, manusia berbuat dan berpikir sesuai dengan
hukum dasar logika fiormal tersebut.
Amat
lah penting kehadiran hukum dasar tersebut dalam sejarah. Merupakan sebuah
kemajuan yang besar sekali dalam sistim pengetahunan tentang dunia ketika
manusia menemukan bahwa awan, uap, hujan dan es semuanya berasal dari air. Tidak
kah merupakan sebuah langkah yang menakjubkan dalam pengetahuan sosial dan
politik ketika kelas pekerja menemukan pengetahuan, di satu sisi, bahwa buruh
upahan adalah buruh upahan dan, di sisi lain, kapitalis adalah kapitalis.
Pengetahuan bahwa buruh di mana saja memiliki kepentingan yang sama, menembus
batas wilayah, nasional dan ras. Sehingga pengakuan terhadap kebenaran yang
berasal dari hukum identitas adalah sebuah syarat untuk menjadi seorang
sosialis yang revolusioner.
Hukum
formal kontradiksi, atau
penajaman perbedaan-perbedaan adalah penting untuk memperoleh
kelasifikasi yang tepat sesuai dengan hukum identitas. Tanpa keberadaan
perbedaan-perbedaan tersebut, tak perlu ada kelasifikasi. Tetapi tanpa
identitas maka tak mungkin melakukan klasifikasi.
Hukum
tak ada jalan tengah (excluded middle) menunjukkan
bahwa semua hal saling bertentangan dan saling mengisi dalam kenyataannya. Aku
pasti lah aku atau orang lain; hari ini aku seharusnya sama atau berbeda dengan
kemarin; Uni Soviet seharusnya sama atau berbeda dengan negeri lain; aku pasti
lah manusia atau binatang; aku tidak dapat secara bersamaan merupakan dua
identitas yang berbeda.
Ketiga
hukum yang kita pelajari di atas bukan merupakan keseluruhan logika formal.
Namun merupakan hukum-hukum dasar yang sederhana. Di atas dasar itu lah, dan di luar darinya lah, muncul sejumlah
struktur ilmu logika yang kompleks, yang memiliki kerumitan rincian-rincian
setiap elemennya, dan yang di dalamnya memiliki bentuk mekanisme berpikir. Tapi
kita tak akan masuk ke diskusi tentang berbagai kategori, bentuk proposisi,
sikap-sikap, silogisme dan yang lainnya, yang membentuk isi tubuh logika
formal. Hal tersebut bisa dicari di buku tentang logika elementer atau buku
metode berpikir dan filsafat borjuis lainnya. Secara prinsipil kita lebih
peduli pada pemahaman ide-ide esensial logika formal, tapi bukan pada detail
perkembangannya.
Keterbatasan Logika
Formal
Dari penjelasan di atas, kita mendapat
hukum-hukum dasar logika formal; bagaimana dan mengapa mereka hadir; hubungan
apa yang dimiliki dialektika terhadapnya; dan batas-batas apa yang kemudian
menjadikan logika formal tak berguna lagi.
Kita akan melihat 5
kesalahan mendasar dalam elemen hukum identitas:
1. Logika formal
menolak suatu gerak, perubahan dan perkembangan dalam
realitas. Penolakan tersebut tidak secara eksplisit ditujukan pada keberadaan
realitas. Tapi, secara tak langsung, yakni, hukum-hukumnya menolak implikasi
penting logika internalnya.
Seperti
yang dikemukan oleh hukum identitas, jika setiap hal sama dengan dirinya maka,
seperi yang ditunjukkan oleh hukum kontradiksi, tak ada yang tidak sama dengan
dirinya, semuanya sama. Tapi ketidaksamaannya merupakan manifestasi dari
perbedaan—dan, sebenarnya, perbedaan mengindikasikan operasional perubahan. Jika
semua perbedaan ditolak maka tidak akan ada gerak dan perubahan itu sendiri,
oleh karenanya tidak ada alasan menjadi berbeda. Misalnya A = A ; Maka
Pemerintahan Masa Orde Baru adalah sama dengan Pemerintahan Pasca Orde Baru.
Perkembangan dan bentuk kompleks gerak,
seperti perkembangan perlawanan massa rakyat dalam melawan Orde Baru yang
menemukan Momentumnya Mei 98 adalah bukan lahir dari sebuah kontradiksi
massa rakyat dengan penguasa yang otokratik.
Dimana
pun mereka dikonfrontasikan dengan kontradiksi nyata, penganut logika formal
selalu akan gagal. Apa yang akan mereka lakukan? Anak kecil sewaktu berhadapan
dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang menakutkan mereka, yang mereka tak
mengerti dan tak dapat mereka kuasai, akan menutup mata mereka dan menutup
mukanya dengan kedua tangannya, serta akhirnya melarikan diri dari ketakutan
tersebut. Penganut formalis bereaksi dan terus
bereaksi, sama seperti anak-anak berhadapan dengan kontradiksi. Ketika mereka
tidak bisa secara komprehensif melihat kenyataan alamiahnya dan tidak
mengetahui apa yang harus dilakukan
dengan semua hal yang mengerikan—itu lah yang menyedihkan dari dunia logika
formal—maka, dengan ledakan kontradiksi, segera mereka akan menghancurkan
logika formal mereka.
Dimana pun, saat otoritas reaksioner diancam oleh kekuatan subversif,
mereka akan menekan, memenjara dan membuang kekuatan subversif tersebut.
Penganut logika formal menjawab kontradiksi dengan cara yang demikian. Seperti
yang dilakukan oleh MALINGKUNDANG
terhadap IBUNYA dalam lakon Cerita Rakyat: “…Jangan mengdekat dan
menjauh dariku, kau bukan ibuku jangan
berani menghirup udara dan menggunakan lampu bersamaku, tapi menjauhlah dariku, kau orang miskin dan
jelek, Aku orang kaya , cari lah hidupmu sendiri ...”
Hukum
tersebut menunjukkan bahwa A tidak pernah menjadi Non-A. Itu bukan sebuah
ekspresi nyata dari kontradiksi yang nyata, atau, terbaca: A bukan Minus A atau
bukan Non-A. Dalam dunia yang
direpresentasikan oleh logika formal, segala sesuatu berdiri dalam oposisi absolut terhadap yang
lainnya. A adalah A; B adalah B; C adalah C, namun, sebenarnya, secara logis,
mereka tidak ada yang sama
Kontradiksi
dieliminasi dari sistim logika formal,
kemudian bergerak naik menghindari semua kenyataan. Penganut logika formal
menolak kontradiksi dalam sistimnya sendiri hanya demi merestorasinya,
mengambil kekuasaan dari luar sistim mereka. Kontradiksi nyata harus memasukkan
kedua hal: kesamaan dan perbedaan di dalam dirinya. Penganut logika formal tak
bisa melakukannya. Semua hukum logika formal sebenarnya tidak lain merupakan
kesamaan-kesamaan dalam berbagai versi. Merka tak mengenal apa
perbedaan-perbedaan.
Logika
formal tidak bisa mengetahui atau menganalisa kontradiksi alam nyata—yang di
dalamnya terdapat gerak—tanpa melanggar dirinya sendiri, tanpa menjatuhkan
hukum-hukumnya sendiri, tanpa menerjang
dan masuk ke alam yang lain. Adalah
mimpi mengharapakan logika formal menjadi dialektik. Itu tepatnya
dengan apa yang terjadi pada logika dalam evolusi. Tapi, logika formal, dalam
dirinya dan oleh dirinya, tidak dapat mengambil lompatan revolusioner, tidak
bisa keluar dari kulitnya. Semua pemikir formal yang konsisten tetap bertahan
pada azas jeneralitas identitas dan terus menolak—cukup logis menurut logika
mereka, tapi tak logis menurut kenyataan-keberadaan objektif yang nyata, yakni
kenyataan perbedaan diri atau kontradiksi.
Bila melihat apa yang terjadi pada kasus
lain, yang bergerak, ternyata tidak saja saling berhubungan, dan tidak saja
secara eksternal tapi juga secara internal, sesuatu akan kehilangan identitas
dan bergerak menuju sesuatu yang lain. Sungai Hudson mengalir dan bergabung
dengan samudra Atlantik; apa ini masih bisa disebut air sungai Hudson. Apa yang bisa dilakukan oleh sesuatu hal
dapat dilihat saat ia kehilangan identitas. Hasil internal dan eksternal gerak
benda-benda nyata terwujud secara kontradiktif.
Segala sesuatu akan melaju dan mengubah dirinya menjadi sesuatu yang
baru. Untuk mengerti hal tersebut, kita harus menerobos batasan-batasan formal
yang memisahkan satu dengan yang
lainnya. Sejauh ini, kita tahu bahwa tak ada benda yang diam.
Penghancuran
batas-batas, perjalan sesuatu menjadi yang lainnya, ketergantugan bersamanya,
tidak terlepas dari garis perkembangan sejarah itu sendiri; semuanya berjalan
bersama kita. Kita bertindak berbasiskan ide, dan ide tersebut kehilangan
karakter mental yang mendominasinya serta menjadi kekuatan aktif di dalam dunia
lewat diri kita. Marx menunjukkan bahwa sebuah sistim ide, seperti sosialisme,
menjadi sebuah kekuatan material ketika ia berada dalam pikiran massa kelas
pekerja, dan akan bergerak dalam aksi-aksi untuk merealisasikannya—perjuangan
menuju sosialisme.
2. Logika Formal
Menolak Pembedaan Setiap Identitas
Kita
telah melihat bahwa logika formal menggambarkan pembatasan tajam antara
kesamaan, atau identitas (identity), dengan perbedaan (difference).
Semuanya ditempatkan dalam pertentangan yang mutlak satu dengan yang
lainnya. Jika terdapat hubungan antara
keduanya, dianggap kebetulan dan eksternal serta tidak akan berdampak pada keberadaan internalnya.
Penganut
logika formal melihat semua itu sebagai sebuah kontradiksi logis, dan merupakan
sebuah horor yang mengerikan untuk mengatakan—seperti para penganut
dialektika—bahwa identitas bisa menjadi perbedaan, dan perbedaan bisa menjadi
identitas. Mereka yakin bahwa identitas adalah identitas dan perbedaan dalah
perbedaan, dan tidak dapat sama pada saat yang bersamaan. Coba kita
bandingkan kesimpulan-kesimpulan
tersebut dengan fakta-fakta pengalaman yang diuji dari kebenaran semua hukum
dan ide.
Dalam
Dialectic of Nature, Engels mengatakan: “Tumbuhan, binatang, dan setiap
sel, setiap saat dalam hidupnya adalah sama dengan dirinya dan menjadi berbeda
dari dirinya, karena bergabung dan mengalir dalam substansi hidup, karena
respirasinya, karena pembentukan sel dan karena kematian sel—lewat proses
perputaran yang bergantian, dengan singkatnya bisa disebutkan: karena ada
perubahan molekul yang membuatnya hidup. Dan karena kesimpulan dari setiap
hasilnya merupakan bukti bagi mata kita
bahwa mereka memiliki setiap fase kehidupan: fase embrio, remaja, kematangn
seksual, proses reproduksi, usia lanjut dan kematian. Semua itu adalah bagian
dari evolusi semua spesies di bumi. Fisiologi lebih lanjut menggamblangkannya:
yang lebih penting adalah ia tidak berhenti, tidak selesai dan, yang lebih penting lagi, adalah bahwa semuanya
tetap berbeda di dalam identitasnya. Namun pandangan abstrak-kuno indetitas
formal memahaminya bahwa suatu organik berada seperti sebuah identitas yang
sederhana dalam dirinya, konstan dan statis—menjadi ketinggalan jaman.
3. Hukum-hukum
Logika Formal: Absolut
Ketidaklengkapan
hukum logika formal adalah bahwa mereka menyatakan dirinya sebagi sesuatu yang
absolut, mutlak, final, tak bersyarat, dan pengecualian adalah tidak mungkin.
Mereka mengatur dunia pemikirannya dengan cara yang totaliter, memastikan
kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan dalam segala hal, memanjat otoritas
tanpa batas demi kedaulatan mereka. A selalu sama dengan A, tak ada satu pun
yang bisa menggugatnya.
Sialnya,
bagi penganut logika formal, tak ada di
dunia ini yang seperti mereka kemukakan. Ternyata, segalanya hadir
sebagaimana aslinya, dengan sejarah dan syarat-syarat materialnya yang sudah
tertentu, baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya maupun dalam
keterpisahannya, dan setiap waktu proporsinya sudah tertentu serta dapat
diukur. Masyarakat manusia, contohnya.
Ketika,
pada akhir abad ke-19, ilmuwan mulai mengadakan dan memperoleh berbagai macam
penemuan, ilmuwan sosial Amerika Serikat malah meyakini bahwa demokrasi borjuis
merupakan bentuk mahkota pemerintahan bagi peradaban manusia. Namun, pengalaman
sejarah sejak 1917 telah menjadi saksi bahwa demokrasi borjuis telah
ditumbangkan oleh bolsevikisme dan fascisme—telah terbukti bahwa alangkah
terbatasnya sejarah ini, dan alangkah banyak serta bersyaratnya bentuk-bentuk
kapitalisme.
Bagaimana
logika formal dan hukummya? Dimana, kapan dan mengapa segala hal bertumbuh,
bagaimana segala hal berkembang? Apakah segala hal abadi?
Jika
kau menantang penganut logika formal, bertanya bagaimana cara menerapkan
hukum-hukum logika ke dalam sejarah dan bagaimana menerima aturan-aturan
universal tersebut maka, tak ada yang
berbeda, mereka akan menjawab seperti halnya kaum monarki menjawabnya: kami
melakukannya atas nama ... (Sang Absolut)
Dalam
kenyataanya, logika formal berjalan bergandengan dengan ke-Absolut-an dan
dogmatisme. Sebagai hukum-hukum keabadian. Logika formal berdiri bersamaan
dengan prinsip-prinsip keabadian moralitas, seperti yang digambarkan Trotsky:
“Surga selalu hanya dijadikan senjata—yang digunakan dalam operasi
militer—untuk melawan dialektika materialis.”[i]
Pada
kenyataannya, logika formal muncul dalam suatu masyarakat pada tahapan
tertentu, dalam sebuah titik perkembangannya. Dan, kemudian, manusia dapat
menundukkan alam; kemudian ia berkembang
sepanjang pertumbuhan umat manusia, sepanjang pertumbuhan tenaga-tenaga
produktifnya, hingga bisa bekerja sama dengan pemikiran dialektik, yang
ditanamkan lewat perkembangan lebih lanjutnya. Tempat bagi logika dialektik ada
dimana saja, tapi dibutuhkan suatu revolusi dalam pemikiran manusia untuk
menempatkannya secara tepat.
Salah
satu kelebihan dialektika dari logika formal bisa dilihat dalam kenyataan;
tidak seperti logika formal, dialektika tidak hanya dapat menghitung keberadaan
logika formal namun juga dapat menunjukkan mengapa harus menggantikan logika
formal tersebut. Dialektika dapat menjelaskan tentang dirinya, pada dirinya,
dan pada yang lain. Oleh karenanya, dielektika lebih logis ketimbang logika
formal.
Logika Dialektika
Prinsip dialektika dijabarkan dari
analisa bagaimana dunia sebenarnya berkembang; jadi bukan sekadar jatuh dari
pikiran orang. Jadi dialektika bukanlah skema yg dipaksakan atas kenyataan,
tapi ia merupakan seperangkat prinsip-prinsip ilmiah untuk memudahkan orang
memahami kompleksitas perubahan dan perkembangan.
Metode dialektika hanya dapat dipahami
dalam pertentangannya dengan cara pandang metafisik. berikut ini diringkaskan
ciri-ciri pokok dialektika ;
1. Dunia kenyataan
objektip adalah material
Materialisme dialektik pertama-tama
mengakui, bahwa materi atau keadaan (being) adalah primer dan idea atau pikiran
itu adalah sekunder. Materi yang dimaksudkan disini tidak berarti hanya benda
tapi segala sesuatu yang adanya secara nyata (riil), yang dapat ditangkap oleh
indera, dilihat, dibaui, didengar, diraba dan dirasakan. Selain itu yang lebih
penting bahwa materialisme dialektik mengakui materi atau kenyataan objektip
itu berada diluar kesadaran subjektip, artinya adanya suatu materi itu tidak
ditentukan oleh kesadaran atau pengetahuan kita. Misal, adanya pengaruh resesi
dunia kapitalis dalam kehidupan ekonomi kita, kita sadari atau tidak kenyataan
itu tetap ada. Ada sementara orang yang hanya mau mengakui suatu hal sebagai
suatu kenyataan apabila sudah ia sadari, dengan kata lain ada atau tidak adanya
suatu kenyataan itu ditentukan oleh kesadaran subjektif.
Dasar material dari pendirian
bahwa idea atau fikiran itu sekunder adalah sebagai berikut:
1.
Suatu
ide atau pikiran mesti dilahirkan oleh suatu materi yang dinamakan otak, tanpa
otak tak akan ada idea atau pikiran .
2.
Menurut
isinya, suatu idea mesti merupakan suatu pencerminan dari suatu kenyatan
objektip atau materi, sekalipun betapa abstraknya materi itu, misalnya ide
masyarakat adil makmur, adalah pencerminan yang berpangkal dari suatu kenyataan
masyarakat yang serba tidak adil dan miskin, hingga menimbulkan angan atau
cita-cita akan sebuah masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam mencerminkan kenyataan objektif,
ide atau pikiran tidak hanya seperti sebuah cermin atau alat pemotret yang
dapat mencerminkan objek sebagaimana adanya, tapi dapat juga mengembangkannya lebih jauh; menghubungkan,
membandingkan dengan kenyataan-kenyataan lain lalu menarik kesimpulan atau
keputusan, hingga melahirkan suatu idea untuk merubah kenyataan itu. Peranan aktif ide ini mendapatkan tempat yang
sangat penting dalam pandangan dialektik, karena motif berpikir kita pada
umumnya untuk memecahkan persoalan atau mengubah kenyataan, dan tidak hanya
sekedar mencerminkan kenyataan begitu saja.
Gagasan Indonesia tidak akan dapat
menjadi kenyataan apabila tak dapat menghimpun dan menggerakkan Rakyat
Indonesia untuk mewujudkannya. Kegunaaan praktis dari prinsip pertama filsafat
materialisme dialektik adalah, bahwa dalam menghadapi suatu persoalan kita
harus bertolak dari kenyataan objektif sebagaiman adanya, bukan dari dugaan
atau pikiran subjektif kita. Dan dengan pengetahuan kita yang lengkap mengenai
kenyataan itu kita baru dapat menyusun suatu ide atau cara yang tepat untuk
pemecahannya.
2. Dunia kenyataan
objektip merupakan suatu kesatuan organik
Dunia materiil atau kenyataan objektip
merupakan suatu kesatuan organik, artinya
setiap gejala atau peristiwa yang terjadi di dunia sekeliling kita, tidak
berdiri sendirian, tapi saling berhubungan satu dengan yang lainnya. seperti
tubuh kita, setiap bagian badan mempunyai saling hubungan dengan bagian badan
lainnya secara tak terpisah. Pertumbuhan padi hanya dapat dimengerti hanya
bila kita mengetahui saling hubungannya dengan keadaan tanah, air, dan matahari
dsb. yang ada disekitarnya; disamping keadaan saling hubungan antara
bagian-bagian dari pohon padi tadi yaitu, akar, batang, daun, dsb. Saling
hubungan antara gejala-gejala di sekitar kita itu banyak corak dan ragamnya,
ada yang langsung dan ada yang tak langsung; ada saling hubungan yang penting
dan yang tak penting; ada saling hubungan keharusan dan kebetulan dsb. Semua
harus dipelajari dan dapat dibedakan. Terutama saling hubungan keharusan dan
yang kebetulan. Salah satu bentuk saling hubungan kausal atau sebab-akibat. Dan
kita hanya dapat memahami sesuatu hal apabila kita mengetahui sebab dan
syarat-syarat serta faktor yang melahirkan hal-hal tersebut.
Dengan mengenal baik saling hubungan
(internal) suatu hal- ikhawal, serta saling hubungannya dengan keadaan
sekeliling (ekstern), kita dapat mengetahui hukum-hukum yang menguasai
perkembangannya . Dengan mengenal baik saling hubungan antar klas yang barada
dalam masyarakat serta hubungannya dengan dunia sekitar sebagai keseluruhan,
kita dapat memahami watak masyarakat. Materialisme dengan logika
dialektikanya memandang suatu hal ikhwal tidak secara terpisah dari
hubungannya dengan keadaan sekitarnya. Dan hanya berdasarkan hukum-hukum yang ada,
kita dapat mengubah hal ikhwal tersebut.
3. Dunia kenyataan
objektip senantiasa bergerak dan berkembang
Materialisme dialektis selanjutnya
menunjukkan bahwa, dunia materi atau kenyataan objektip itu senantiasa dalam
keadaan bergerak dan berkembang terus menerus. Keadaan diam atau statis, hanya
bersifat sementara atau relatif, disebabkan karena kekuatan didalamnya serta
hubungannya dengan kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarnya dalam keadaan
seimbang. Misalnya air dalam satu panci, dalam keadaan temperatur dan tekanan
udara yang bias, nampaknya diam, padahal molukel-molukel air itu dalam keadaan
bergerak, hanya saja dalam kecepatan yang rendah dan stabil, dan tak dapat
dilihat dengan mata telanjang. Demikian juga kekuatan-kekuatan antara air
dengan dinding-dinding panci itu, tapi setelah panci dipanasi maka
gerakan-gerakan molukel air makin cepat hingga makin nampak geraknya, akhirnya
sampai pada 100 derajat celsius. Pecahlah keseimbangan mereka hingga air
berubah menjadi uap dan meninggalkan panci tersebut.
Materialisme dilalektika tidak hanya
berpendapat, bahwa materi itu senantiasa dalam keadaan bergerak dan berkembang,
tapi juga berpendapat bahwa gerak materi itu adalah gerak sendiri, bukan
digerakkan oleh kekuatan di luarnya. Gerak bumi kita adalah gerak sendiri,
diantara benda-benda yang ada di bumi.
Materialisme
dialektik juga menjelaskan bahwa gerak materi itu tidak tergantung atau
ditentukan oleh keinginan atau kehendak subjektif manusia, melainkan menurut
hukum-hukum yang menguasainya. Setiap hal yang khusus mempunyai hukum-hukum
gerak yang khusus. Hukum perkembangan dunia tumbuhan berlainan dengan hewan;
hukum perkembangan masyarakat desa berlainan dengan yang di kota. Hukum-hukum
gerak itu disebut hukum dialektika. Disamping hukum- hukum dialektika yang
berlaku khusus dari hal-hal yang khusus, sudah tentu juga ada hukum-hukum yang
berlaku umum, yang berlaku buat semua hal. Prinsip-prinsip dialektika secara
praktis mengajar kita agar supaya selalu berpandangan ke depan, jangan selalu
ke belakang, supaya selalu berorientasi pada hal-hal atau kekuatan yang sedang
tumbuh dan berkembang, jangan pada sesuatu yang sedang lapuk atau mati. Dengan
kata lain, supaya kita selalu berpandangan progresip revolusioner.
Hukum dialektika dan metode dialektika
Seperti dalam Logika formal, maka
logika dialektika juga mempunyai hukum-hukum sebagai dasar berpikirnya dalam
menjelaskan proses perkembangan masyarakat dan alam. Hukum-hukum tersebut
adalah;
1. Hukum umum
dialektika: Kesatuan dari segi-segi yang berlawanan
Hukum dialektika Kesatuan dari segi- segi yang belawanan
atau kontradiksi, menunjukkan bahwa gerak dunia materiil atau dunia kenyataan
objektip ada karena segi- segi, faktor-faktor yang berlawanan dalam dirinya.
Oleh karena itu menurut arti sebenarnya, 'dialektika adalah studi tentang
kontradiksi di dalam hakekat segala sesuatu itu sendiri'.
a.
Pengertian tentang Kontradiksi.
Dalam pengertian filsafat, sangatlah luas, tidak sebatas
pada segi-segi yang saling berlawanan atau bertentangan, tapi segi yang berlainan
dan berbeda sekalipun termasuk dalam kontradiksi.
b.
Keumuman kontradiksi
Ada dua pengertian: pertama,
bahwa di dalam segala hal terdapat segi-segi yang berkontradiksi. Kedua, bahwa di dalam segala hal dalam
seluruh proses perkembangannya, dari satu tingkat ke tingkat yang lain selalu
terdapat kontradiksi di dalamnya. Setelah satu kontradiksi pada suatu tingkat
perkembangan selesai, timbullah kontradiksi baru pada tingkat perkembangan yang
baru. Begitu seterusnya tiada habis-habisnya. Arti praktis dari pengertian
keumuman kontradiksi ini adalah bahwa kita tak boleh melarikan diri dari
kontradiksi atau persoalan, bahwa kita tak boleh merasa jemu atau jera
menghadapi dan memecahkan kontradiksi (persoalan). Di dunia ini tidak ada satu
hal atau masalah yang dapat dengan satu kali diselesaikan untuk selama-lamanya,
tanpa timbul persoalan baru.
c. Kekhususan
kontradiksi
Mempunyai dua pengertian, pertama bahwa di dalam setiap hal terdapat kontradiksinya sendiri
secara khusus, yang berbeda dengan kontradiksi di dalam hal yang lain. kedua, bahwa suatu hal dalam proses
perkembangannya, maka di setiap tingkat perkembangannya terdapat kontradiksinya
yang khusus, sehingga kita dapat membedakan tingkat perkembangannya yang satu
dengan yang lain. Misalnya dalam proses perkembangan kupu-kupu, kontradiksi
yang terkandung pada tingkat perkembangannya sebagai telur berbeda dengan yang
pada tingkat perkembangannya sebagai ulat, dan seterusnya. Pengertian ini
mempunyai arti praktis, bahwa sekali lagi kita dalam mengenal dan memecahkan
persoalan harus secara kongkrit, tidak boleh secara umum dan garis besar saja,
tidak boleh asal menjiplak saja. Cara pemecahan suatu persoalan tertentu tak
dapat digunakan mentah-mentah untuk memecahkan persoalan yang lain. Demikian
juga pemecahan untuk suatu tingkat perkembangan tertentu dari suatu persoalan
tak dapat dipakai begitu saja untuk pemecahan tingkat perkembangannya yang
lain.
d. Kontradiksi
dasar.
Dalam suatu materi atau kenyataan objektif terdapat lebih
dari satu kontradiksi. Kontradiksi atau kontradiksi-kontradiksi yang menentukan
kualitas suatu materi atau kenyataan objektif, atau dengan perkataan lain, yang
menentukan adanya materi atau kenyataan objektif itu, disebut kontradiksi atau
kontradiksi- kontradiksi dasar. Perubahan kontradiksi dasar berarti terjadi
perubahan dari kwalitas yang satu menjadi kwalitas yang lain, berarti
terjadinya suatu perubahan dari suatu materi pertama menjadi materi yang lain.
Misalnya, Penghisapan kaum kapitais terhadap kaum buruh merupakan suatu kontradiksi
dasar dari masyarakat kapitalis, dan dengan lenyapnya kontradiksi itu berarti
lenyaplah pula masyarakat kapitalis yang berubah menjadi masyarakat yang lain.
Arti praktis dari pengertian ini ialah,
kita hanya bisa mengambil sesuatu hal dengan baik, apabila kita mengetahui
dengan jelas apa kontradiksi dasarnya. Hanya dengan demikian kita akan
mengetahui dengan jelas pula suatu hal itu mengalami perubahan yang kualitatif
ataukah tidak, juga dengan hanya demikian kita baru bisa mengusahakan untuk mengubahnya.
e. Kontradiksi
Pokok atau kontradiksi utama
Pada setiap tingkat perkembangan
sesuatu hal, tidak semua kontradiksi yang terkandung memainkan peranan yang
sama. Dianta- ranya pasti ada satu dan hanya satu kontrdiksi yang mamainkan
peranannya yang paling menonjol. Kontradiksi ini disebut kontradiksi pokok atau
utama. Misalnya, kontradiksi antara rakyat Indonesia (terutama rakyat pekerja)
dengan kaum penjajah kolonial sebelum kemerdekaan 45 merupakan kontradisi pokok
dalam masyarakat Indonesia pada tahap itu. Arti praktis dari ini adakah bahwa
kita harus dapat mengenal kunci persoalan atau kontradiksi pokok ini, maka
kontradiksi-kontradiksi lainnya dapat diselesaikan dengan lebih mudah. Tanpa
memecahkan kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan penguasa kolonial, kita
tidak akan dapat me- nyelesaikan kontradiksi antara kaum petani dengan
tuan-tuan feudal, suatu klas yang dipertahankan oleh sistim kolonial.
f. Mutasi
Kontradiksi
Kontradiksi pokok itu tidak tetap
kedudukannya. dalam keadaan dan syarat tertentu bisa diambil alih oleh
kontradiksi yang tadinya bukan pokok. Pergeseran atau pergantian ini disebut
mutasi kontradiksi pokok .Misalnya kaum imperialis pernah berusaha agar
kontradiksi antar daerah atau suku bermutasi menjadi kontradiksi pokok di Indonesia,
hingga bangsa kita dapat dipecah belah dan tetap mereka kuasai. Arti praktisnya
ialah, bahwa kita harus mengenal baik keadaan atau syarat-syarat yang
dibutuhkan oleh suatu kontradiksi hingga dapat bermutasi menempati kedudukan
sebagai kontradiksi pokok. Hanya dengan demikian kita baru dapat
mendorong/mempercepat atau sebaliknya mencegah/menghambat terjadinya mutasi
itu. Hanya dengan mengetahui dengan jelas dan tepat syarat-syarat yang
diperlukan telor ayam untuk mendapat menetas menjadi anak ayam, maka manusia
dapat menciptakan mesin penetas.
g. Kedudukan dua
segi dalam suatu kontradiksi.
Dua segi yang berkontradiksi itu tentu
berbeda kualitasnya. diantaranya pasti akan ada yang mewakili kekuatan lama,
yang tak mempunyai hari depan, dan segi lainnya mewakili kekuatan baru atau
yang sedang tumbuh. Kedudukan mereka dalam proses perkembangan adalah tidak
sama pula. Segi lama yang nampak besar dan kuat pada awal perkembangan
kontradiksi itu menempati kedudukan yang menguasai dan yang memimpin. Sebaliknya
segi yang baru yang semula nampak masih kecil dan lemah, berkedudukan sebagai
yang dikuasai dan yang dipimpin. Tapi dalam perkembangan selanjutnya segi baru
itu berkembang besar dan makin kuat. sedang segi lama makin lemah dan makin
lapuk sehingga suatu saat segi baru yang berkedudukan dipimpin berkembang dan
bermutasi menjadi yang memimpin. Ini berarti arah perkembangan kontradiksi itu
mengalami perubahan. Kalau tadinya ke kanan misalnya, sekarang ke kiri. Lebih
lanjut, segi baru yang tadinya dikuasai sekarang bermutasi ke tempat yang
menguasai. Dengan perkataan lain, terjadi perubahan kwalitatip, hal yang lama
berubah menjadi yang baru.
Arti praktis dari pengertian itu adalah
kita harus selalu berusaha mengenal sebaik-baiknya segi-segi yang berkontradiksi.
Baik kualitasnya, maupun kedudukan atau posisinya dalam proses perkembangannya.
Jadi kalau kita mau mengalahkan musuh-musuh rakyat yang tertindas, kita
harus mempelajari mendalam mengenai segi-segi dan keadaan musuh dan posisinya,
dan dari pihak kita sendiri. Disamping itu, bagi kita yang menginginkan
perubahan dan pembebasan, harus selalu berorientasi pada kekuatan-kekuatan yang
sedang tumbuh, yang mempunyai hari depan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi
perkembangannya, agar kita membantu mempercepat pertumbuhannya.
h. Kesatuannya
relatif, pertentangannya mutlak
Apabila kita memperhatikan dua segi
dalam suatu kontradiksi maka kita dapat melihat, bahwa dua segi itu sejak dari
awal sampai akhir proses perkembangannya selalu bertentangan satu sama lainnya,
selalu dalam perjuangan mengenyahkan lawannya tanpa syarat. Artinya
pertentangan dua segi itu adalah mutlak, tak peduli dalam keadaan bagaimanapun
juga. Kesatuannya bisa terjadi karena kedua segi itu berbeda kualitasnya, dan
menempati kedudukan yang berbeda pula dalam kesatuan itu, ada yang menguasai
dan ada yang dikuasai. Dan hal ini dikatakan bersifat sementara karena dalam
perkembangannya kedua segi itu akan terjadi mutasi, yang semula dikuasai akan
menguasai, sehingga terjadi perubahan kwalitatip, kesatuan yang lama diganti
dengan kesatuan yang baru. Pengertian ini berarti, sikap kompromi dengan musuh
itu relatif sementara (taktis), sedangkan perjuangan melawan musuh itu mutlak
(strategis), tetap berlangsung terus, bervariasi dalam bentuk dan bidangnya.
i. Antagonisme
Dalam kontradiksi hal ini mempunyai dua
pengertian: Pertama, menurut wataknya
ada yang antagonistik, misalnya kaum buruh dan kaum kapitalis, buruh tani lawan
tuan-tuan feodal, yang langsung berlawanan kepentingannya. Ada pula kontradiksi
yang non-antagonistik.
Kedua, menurut bentuknya perjuangan dari
kedua segi yang berkontradiksi ada yang bersifat antagonistik dan ada yang non-
antagonistik. Yang dimaksud dengan perjuangan yang non-antagonistik itu adalah
perjuangan yang terbuka dan dengan kekerasan. Misalnya perjuangan kaum buruh
melawan majikan selama masih dalam bentuk pernyataan protes dan berunding di
meja perundingan, atau bahkan merupakan pemogokkan dengan tata tertib, masih
dapat digolongkan dalam bentuk perjuangan yang non-antagonistik. Tetapi kalau
sudah terjadi pengambil alihan pabrik atau penindas dan dari majikan dengan
kekerasan sehingga terjadi perkelahian, maka perjuangan tersebut disebut
perjuangan yang antagonistik. Kontradiksi yang menurut wataknya antagonis
belum tentu harus sudah mengambil bentuk perjuangan yang antagonistik, dapat
jua masih mengambil bentuk perjuangan yang non antagonistik. Misalnya
kontradiksi antara rakyat dan musuh-musuh rakyat, menurut watak- nya adalah
antagonistik. Namun bentuk perjuangannya dalam proses perkembangan masih bisa
bersifat non-antagnistik misalnya aksi- aksi reform. jadi tidak mutlak sudah
harus angkat senjata atau dengan kekerasan. Semua tergantung pada kondisi dan
situasi serta syarat-syarat kongkrit yang ada. Akan tetapi pada tingkat
terakhir di tingkat perkembangannya, pada pokoknya secara mutlak mengambil
perjuangan antagonistik. Karena tidak ada penguasa yang rela menyerahkan
kekuasaannya dengan suka rela, malah mereka akan mempertahankan dengan
kekerasan.
Pengertian ini mengingatkan kita supaya
kita pada satu pilihan memperkuat persatuan kita dengan kelompok progresif
lainnya dengan menciptakan dan mempertahankan syarat-syarat yang diperlukan.
Dipihak lain kita harus berusaha supaya musuh terus terpencil dari sekutunya dan
memperlemah persatuan mereka.
Disamping itu kita harus melihat dengan
cermat, bahwa pada keadaan yang bagaimana kita akan mengambil bentuk perjuangan
yang antagonistik atau non-antagonistik dalam menghadapi musuh.
2. Hukum umum
dialektika ke dua: Perubahan kuantitatif ke perubahan kwalitatif
Hukum umum dialektika yang kedua ini
menyatakan, bahwa proses perkembangan dunia material atau dunia kenyataan
objektip terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah perubahan kuantitatif
yang berlangsung secara perlahan, berangsur atau evolusioner. Kemudian
meningkat ketahap kedua, yaitu perubahan kualitatif yang berlangsung dengan
cepat, mendadak dalam bentuk lompatan dari satu keadaan ke keadaan lain, atau
revolusioner. Perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif merupakan dua
macam bentuk dasar dari segala perubahan. Segala perubahan yang terjadi dalam
dunia kenyataan objektif itu kalau bukan dalam bentuk perubahan kuantitatif,
maka dalam bentuk kualitatif.
a. Pengertian
tentang kuantitas,
adalah jumlah dalam arti seluas-luasnya tidak terbatas
mengenai ruang (banyak-sedikit, besar-kecil, panjang-pendek, tebal-tipis) dan
waktu (lama-sebentar, cepat-lambat) saja tapi juga mengenai pikiran dan
perasaan (tinggi-rendahnya kesadaraan politik, kuat-lemahnya keyakinan atau
kepercayaan, dalam-dang- kalnya pengetahuan, besar-kecilnya minat atau
pengetahuan) sebagai contoh:
kwantitas-kwantitas tertentu yang dimiliki seorang juara bulu tangkis,
selain kuat keadaan fisiknya, stamina, cepatnya gerak, pengalaman bertanding dan
latihan dll. Demikian pula bagi seorang kader revolusioner, selain
ketentuan-ketentuan formal dalam konstitusi organisasi, seperti umur dan masa
calon anggota, maka yang terpenting lainnya ialah kesadaran klas /kesadaran
politik, yang terbentuk dari aktivitasnya dalam keterlibatan dalam perjuangan
massa rakyat pekerja,
b. Pengertian tentang
kualitas,
adalah ciri yang membedakan hal yang satu dengan yang lain.
Kita dapat membedakan minyak dari air, demikian jua kita dapat membedakan
antara kaum buruh dan kaum tani, antara desa dan kota, karena kualitas mereka
berbeda satu dan lainnya. Telah dinyatakan, bahwa kuantitas-kuantitas tertentu
yang dimiliki oleh sesuatu hal membentuk dan menunjukkan kualitas tertentu
dalam sesuatu hal itu. misalnya, antara ormas kaum buruh dan partai politik
klas buruh, mempunyai ketentuan susunan intern yang berlainan, antara lain
adalah keterikatan para anggota dari organisasi massa kaum buruh itu
berdasarkan terutama pada kepentingan sosial ekonominya, sedangkan dalam partai
buruh, sangat berdasarkan pada cita-cita politiknya. Ketentuan susunan intern
mereka secara praktis dinyatakan selengkapnya dalam anggaran dasar organisasi
mereka masing-masing dan aktivitas mereka sehari-hari dalam mewujudkan program
mereka masing-masing. Jelas kiranya bahwa kualitas yang mencirikan sesuatu hal
itu adalah pernyataan dari ketentuan susunan internnya.
c. Perubahan
kuantitatif
Perubahan kuantitatif seperti telah
dikemukakan berlangsung secara perlahan-lahan dan tidak menyolok. selama dalam proses
perubahan kuantitatif tersebut, kualitasnya nampak tidak berubah. Keadaan itu
disebut kemantapan relatip kualitas.
Keadaan kemantapan relatip kualitas
tersebut mempunyai batas tertentu. Bila perubahan kuantitatif melampaui batas
itu maka rusaklah kemantapan relatip kualitas itu yang berarti kualitasnya
mengalami perubahan. Misal, seceret air dibawah tekanan udara biasa, apabila
penambahan suhunya tidak melampaui batas 100 derajat celcius, cirinya sebagai
cairan masih dapat dipertahankan, tapi bila perubahan suhu melampaui batas itu,
maka kualitas cairan mengalami perubahan menjadi uap. Demikian pula
perkembangan rakyat revolusioner bila melampaui batas tertentu, akan menjadi
suatu revolusi sosial, hingga kualitas masyarakat lama akan disingkirkan oleh
masyarakat baru . Oleh karena itu dalam proses perubahan kuantitatif, kualitas
nampaknya tidak mengalami perubahan apa-apa, maka seakan-akan perubahan
kuantitatif itu tak ada hubungannya dengan kualitas. Dari uraian singkat diatas
kita dapat melihat bahwa perubahan kuantitatif adalah persiapan untuk perubahan
kualitatif, atau dengan kata lain, bahwa perubahan kualitatif menyelesaikan
atau mengakhiri perubahan kuantitatif yang sedang berlangsung, dan menimbulkan
atau melahirkan perubahan-perubahan kuantitatif yang baru.
Hal yang sangat sederhana ini perlu
ditandaskan karena ada sebagian orang hanya mau mengakui perubahan kuantitatif
saja tetapi tidak mengakui adanya perubahan kualitatif. Mereka berpendapat di
dunia ini tak ada perubahan yang melahirkan hal yang baru, karena menurut
mereka anak ayam itu sejak semula telah berada di dalam telur hanya saja masih
terlalu kecil dan tersembunyi di dalam telur hingga tak dapat kita lihat.
Kemudian setelah mengalami perubahan kuantitatif, ia tumbuh semakin besar hingga
pada saat ia mampu memecahkan kulit dinding telur yang melindunginya dan
menampakkan dirinya di dunia ini. Demikian juga kata mereka, bahwa penindasan
dan penghisapan oleh manusia atas manusia sudah ada sejak adanya manusia di
bumi ini. Kalau semula penindasan dan penghisapan itu dilakukan dengan cara
primitif, sederhana, terbuka dan tidak intensif, tepi setelah mengalami
perubahan-perubahan kuantitatif maka penghisapan mengambil bentuk yang
terselubung, halus dan makin intensif.
Pandangan metafisik (non-dialektis)
semacam ini dapat menyesatkan kita dan ini pula yang terkandung dalam logika
formal. Dia merupakann basis filosofis kesalahan-kesalahan reformis di dalam
bidang politik, hingga membuat orang merasa puas dengan hanya
perubahan-perubahan reformis atau perbaikkan tambal sulam rakyat pekerja, tanpa
menghendaki adanya pembebasan rakyat pekerja dari penghisapan manusia lainnya,
tidak menghendaki adanya perubahan revolusioner untuk mengubah sistim
masyarakat penindasan. Pandangan ini sangat terlihat pada era ini setelah
simbol orde baru tumbang Sudah tentu pandangan filosofis semacam ini
menguntungkan dan dipelukan oleh klas-klas penghisap dalam mempertahankan
kekuasaan dan penghisapannya.
Sebagaimana selalu diingatkan oleh
pejuang-pejuang besar revolusi, bahwa klas penghisap yang berkuasa tak akan
pernah dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya, bahwa rakyat tertindas harus
melakukan perjuangan revolusioner untuk membebaskan dirinya.
d. Perubahan
kualitatif
Sebagaimana telah dikemukan sebelumnya
bahwa perubahan kualitatif itu terjadi secara mendadak, cepat dalam bentuk
lompatan dari satu keadaan ke satu keadaan lainnya. Sedikit mengulangi tentang
telur ayam selama dalam proses perubahan kualitatif dalam masa pengeraman,
cirinya yang berbentuk telur itu nampak tepat tak berubah, masih tetap
bertahan, atau masih dalam kemantapan relatif. Tetapi begitu perubahan
kuantitatif melampaui batas relatif kualitasnya, terjadilah perubahan
kualitatif dengan mendadak. Perubahan kuantitatif yang berlangsung dalam telur
itu segera berhenti atau terputus, kemantapan relatif kualitasnya sebagai telur
tak dapat dipertahankan lagi dan lenyap seketika itu juga. Sebagai gantinya
muncullah anak ayam yang ciri atau kualitasnya berlainan dengan telur tadi.
Demikianlah kita melihat perubahan dari telur ke anak ayam itu merupakan suatu
lompatan yang disebut keterputusan kesinambungan. Artinya terputusnya keadaan
kesinambungan perubahan kuantitatif atau kemantapan relatif kualitasnya.
Mengenai perubahan kualitatif ini, Engels di dalam bukunya "Dialektika
alam" mengemukan bahwa "kimia boleh dikatakan ilmu tentang perubahan
kualitatif yang terjadi dalam benda sebagai akibat perubahan kuantitatif
komposisinya. Contohnya oksigen atau zat asam apabila molekul itu terdiri dari
3 atom dan bukan 2 sebagaimana biasanya maka kita mendapatkan ozon yaitu suatu
benda yang dalam hal bau dan reaksi kimianya sangat berlainan dengan zat asam
biasa. "
Kelanjutannya, oleh karena perubahan
kualitatif itu terjadi secara mendadak, merupakan lompatan dari suatu lompatan
keadaan ke keadaan lainnya, atau terputus sama sekali kesinambungannya dengan
keadaan sebelumnya, maka ada sementara orang mengira bahwa perubahan kualitatif
itu terlepas dari perubahan kuantitatif, tak ada hubungan sama sekali dengan
kuantitas atau perubahan kuantitatif. Mereka tak mau mengeakui perubahan
kuantitatif, dan hanya mengakui perubahan kualitatif saja. Meletusnya gunung
krakatau satu abad yang lampau hingga gunung tenggelam ke dasar laut, menurut
mereka, merupakan perubahan kualitatif yang mendadak tanpa melalui perubahan
kuantitatif. Demikian juga mereka menganggap, misalnya meletusnya GERAKAN
98 terjadi secara mendadak dalam
momentum yang kebetulan, sama sekali tak ada hubungannya dengan perubahan-perubahan
kuantitatif sebelumnya, yang berupa gerakan massa rakyat. Katanya lagi, ibarat
meletusnya sebuah petasan, yang hanya dengan menyulut sumbunya saja (maksudnya,
cukup dengan agitasi atau menghasut massa rakyat)
Pandangan ini juga suatu jenis
metafisik yang juga dianut oleh logika formal, yang dapat menyesatkan kita
dengan melakukan kesalahan-kesalahan avonturis dibidang politik, misalnya
kendak menyelesaikan suatu revolusi sosial dengan kudeta militer atau
avonturisme militer. Padahal pejuang- pejuang besar revolusi, selalu mengingatkan
kita bahwa revolusi adalah urusan dan karya rakyat, merupakan puncak dari
perjuangan rakyat untuk membebaskan dirinya. Rakyat pekerja tak akan dapat
dibebaskan oleh siapapun, kecuali oleh perjuangan mereka sendiri. Kesadaran
politik dan organisasional pada rakyat sangat menentukan sebuah revolusi
rakyat.
Telah diketahui, bahwa setiap perubahan
yang terjadi dalam kuantitas dengan sendirinya menimbulkan perubahan juga dalam
kualitas. Sebagai contoh, air yang dipanasi sehingga suhunya meningkat, perubahan
kuantitatif ini dengan sendirinya menimbulkan perubahan dalam kualitas atau
cirinya. Sebagaimana dapat kita saksikan, misalnya gerak molukel makin cepat,
daya kohesi antar molukel makin longgar, hingga kita dapat membedakan air panas
dan air dingin. Akan tetapi perubahan semacam ini tidak termasuk dalam
pengertian perubahan kualitatif.
***
Thanks for reading & sharing Layang - Layang Hitam



0 komentar:
Post a Comment