Perjuangan Gender
Featured Post
Agama, Politik, dan Politik Agama
"Toleransi adalah suatu yang paling penting" Relasi antara agama dan politik itu sangat dinamis, unik, menarik, sek...
Puasa Jangan Menjadi Penghalang Untuk berbagi
Puasa merupakan tempat pembinaan bagi setiap muslim untuk membina dirinya, di mana masing-masing mengerjakan amalan yang dapat memperbaiki jiwa, meninggikan derajat, memotivasi untuk mendapatkan hal-hal yang terpuji dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak. Juga memperkuat kemauan, meluruskan kehendak, memperbaiki fisik, menyembuhkan penyakit, serta mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengannya pula berbagai macam dosa dan kesalahan akan diampuni, berbagai kebaikan akan semakin bertambah, dan kedudukan pun akan semakin tinggi.
Allah Ta’ala telah mewajibkan bagi kaum muslimin untuk menjalankan puasa sepanjang bulan Ramadhan, bulan tersebut merupakan sayyidusy syuhuur (penghulu bulan-bulan lainnya), padanya dimulai penurunan al-Qur-an. Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan, pendekatan diri, kebajikan, kebaikan, sekaligus sebagai bulan pengampunan, rahmat dan keridhaan. Padanya pula tedapat Lailatul Qadar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mengenai keutamaan bulan ini dan puasa pada bulan ini telah disebutkan dalam banyak hadits, dan yang dapat kami sebutkan di antaranya:
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.”
“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” [1]
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ.”
“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” [2]
3. Hadits yang diriwayatkan dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.”
‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’” [3]
4. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ.”
‘Jika Ramadhan tiba, maka pintu-pintu Surga dibuka.’” [4]
5. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.”
‘Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu Jahannam akan ditutup dan syaitan-syaitan pun dibelenggu.’”[5]
6. Hadits yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.”
‘Barangsiapa bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah lalu.’” [6]
BEBERAPA RAHASIA PUASA
Puasa merupakan sarana paling tangguh untuk membantu memerangi hawa nafsu serta menekan nafsu syahwat sekaligus sebagai sarana pensucian jiwa dan pemberhentiannya pada batas-batas Allah Ta’ala, di mana dia akan menahan lisannya dari berbicara sia-sia, mencela, serta menyerang kehormatan orang lain, berusaha menyebar ghibah (menceritakan kejelekan atau aib orang) dan namimah (mengadu domba) ke tengah-tengah mereka, puasa juga dapat menundukkan tipu daya, pengkhianatan, kecurangan, muslihat, serta mencegah upaya melakukan perbuatan keji, memakan riba, menyuap dan memakan harta manusia dengan cara yang bathil serta berbagai macam penipuan. Selain itu, puasa juga mendorong seorang muslim untuk sesegera mungkin mengerjakan perbuatan baik, baik itu shalat maupun zakat dengan cara yang benar serta menyalurkan kepada pihak-pihak yang telah ditentukan oleh syari’at. Dia juga akan berusaha mengeluarkan shadaqah serta melakukan hal-hal yang bermanfaat, berkeinginan keras untuk memperoleh rizki yang halal dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan keji.[7]
Dengan demikian, di dalam puasa itu terkandung banyak keutamaan yang sangat agung. Selain itu juga memiliki berbagai rahasia besar yang sebagian di antaranya telah diketahui oleh banyak orang, sedang sebagian lainnya tidak diketahui.
Dan di antara rahasia dan manfaat puasa yang paling tampak jelas adalah sebagai berikut:
PUASA MERUPAKAN METODE YANG MANTAP UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN
Di antara manfaat puasa yang agung adalah sebagai sarana menyiapkan seorang muslim dengan kekuatan yang menjadikannya mampu untuk melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Dia dapat melakukan latihan melalui puasa sehari-hari sehingga dia dapat menahan diri dari setiap hal yang dia sukai dan cintai. Dan kepada penguasa nafsu dan syahwat, dia akan mengatakan, “Tidak.”
Sungguh jawaban yang hebat jika berada dalam keridhaan Allah. Jika seorang muslim mampu mengatakan hal tersebut, berarti dia telah berhasil mewujudkan kehormatan dan kedudukan yang tinggi atas syahwat dan ketamakannya. Sedangkan orang-orang yang tidak berpuasa adalah orang yang tidak pernah mampu mengendalikan gejolak jiwa mereka, bahkan mereka selalu tunduk kepada syahwat dan keinginan mereka. Mereka adalah budak-budak yang hina, bahkan lebih buruk dari budak-budak manusia. Seorang penya’ir telah mengungkapkan:[9]
“Kalau bukan karena kesulitan, niscaya umat manusia ini
secara keseluruhan akan menjadi terhormat,
Kedermawanan semakin langka
dan keberanian berarti perang.”
PUASA SEBAGAI CARA PENGGEMBLENGAN TENTARA
Kehidupan militer dengan segala hal yang diharuskannya, baik itu berupa kekerasan, kekasaran, ketegaran, ketundukan pada perintah, serta kedisiplinan pada arahan-arahan komandan. Dan kita bisa dapatkan perwujudan secara praktis pada puasa.
Yang demikian itu karena puasa merupakan sarana penggemblengan kekuatan fisik yang mengharuskan pelakunya menempuh satu manhaj (metode) tersendiri dalam kehidupannya, di mana tiang penyangganya berupa ketegaran, larangan, dan bersabar atas pahit getirnya rasa lapar dan panasnya rasa haus, kelelahan fisik dalam mengendalikan diri serta menahan hawa nafsu dan mengekang keinginannya, seakan-akan seorang muslim yang berpuasa itu adalah seorang tentara yang siap mendengar dan mentaati serta menjalankan perintah Rabb-nya tanpa penolakan atau pembangkangan.
Jika seorang tentara itu tunduk dan berpegang pada perintah serta menjalankannya di bawah pengawasan komandan, maka orang yang berpuasa (sedang) menjalankan perintah tanpa pengawasan dari seorang pun, kecuali dari Allah Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri, yang tidak akan pernah lengah dan tidur, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.
PUASA MEMPERKUAT KEINGINAN
Puasa dapat memperkuat keinginan, mendorong kemauan, mengajarkan kesabaran, membantu menjernihkan fikiran, menghidupkan pemikiran, dan mengilhami pendapat yang cerdas jika seorang yang berpuasa dapat melangkah ke fase relaks (santai), serta melupakan berbagai rintangan yang muncul akibat waktu luang dan terkadang keputusasaan, dan ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat sehingga dia mampu mengatakan kepada pelaku kemunkaran, “Ini munkar.” Dia juga bisa menghadapi segala bentuk hal-hal negatif yang ada di masyarakat. Sehingga dengan demikian, dia telah menjadi seorang anggota masyarakat yang dinamis, yang akan membangun dan tidak merusak, serta melakukan perbaikan dan tidak melakukan peng-hancuran.
Ketika suatu bangsa memiliki keinginan yang kuat dan besar, maka dia tidak akan memperkenankan agresor atau penjajah untuk menginjakkan kaki ke tanahnya atau ikut campur dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dengan kekuatan tersebut, ia juga akan mampu meraih kemenangan di medan pertempuran melawan kebodohan, keterbelakangan, melawan nafsu syahwat, serta sanggup menembus segala rintangan pembangunan dan kemajuan.
Syaikh ad-Dausari rahimahullah mengatakan, “Membangun keinginan yang kuat di dalam diri bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai kalangan, baik perkumpulan (organisasi) maupun kalangan militer telah berusaha membangun keinginan yang kuat kepada masyarakat masa kini. Padahal, Islam telah mendahului mereka dalam hal tersebut pada 14 abad yang lalu. Cukup besar kebutuhan seorang muslim, khususnya untuk memiliki keinginan kuat dan kemauan yang keras. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berjuang melawan sakit akibat rasa lapar dan haus dalam menjalankan puasa.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim yang berpuasa untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak kekuatan ini setelah berbuka, mengucilkan atau menghinakannya sehingga pada malam harinya dia akan merusak kuatnya keinginan yang telah dia bangun pada siang harinya.[10]
PUASA MEMBENTUK AKHLAK MULIA
Puasa merupakan tempat penggemblengan diri bagi orang yang menjalankannya untuk membentuk akhlak mulia, akhlak ketakwaan, kebajikan, kebaikan, kepedulian, tolong-menolong, kasih sayang, kecintaan, kesabaran, dan akhlak mulia lainnya yang dibangun oleh puasa pada diri orang yang menjalankannya.
Puasa dapat membentuk muraqabah (rasa selalu berada dalam pengawasan Allah) bagi pelakunya. Bagi dirinya ada satu penjaga umum yang selalu mengawasi dirinya agar tidak ada sesuatu pun yang bersumber dari dirinya yang bertentangan dengan syari’at. Dialah yang membinanya dari dalam sehingga darinya muncul amal-amal lahiriah yang tunduk pada pengawasan ini.
Pernahkah engkau melihat orang yang berpuasa dengan penuh kejujuran dan kesungguhan kepada Rabb-nya melakukan kebohongan kepada orang lain? Pernahkah engkau melihatnya secara tulus ikhlas menjalankan puasanya dan kemudian melakukan kemunafikan di masyarakat? Sesungguhnya keikhlasan itu merupakan satu bagian utuh yang tidak mungkin dipisahpisahkan, di mana puncaknya adalah ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang tulus ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sangat mustahil baginya untuk melakukan penipuan, kecurangan atau berkhianat. Oleh karena itu, puasa merupakan salah satu faktor dasar sekaligus pendalaman akhlak, pembangunan sekaligus pembentukannya untuk mengambil satu sifat amaliyah (perbuatan) yang semuanya berkumpul pada buahnya yang cukup jelas yang telah diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ)“Agar kalian bertakwa.”
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh yang bersifat lahiriah dan juga kekuatan bathin serta melindunginya dari faktor-faktor pencemaran yang merusak. Jika faktor-faktor pencemaran tersebut telah menguasai dirinya, maka ia akan rusak.
Dengan demikian, puasa akan menjaga kejernihan hati dan kesehatan anggota badan sekaligus akan mengembalikan segala sesuatu yang telah berhasil dirampas oleh nafsu syahwat. Puasa merupakan pembantu yang paling besar dalam merealisasikan ketakwaan…”[11]
PUASA MEWUJUDKAN KETENANGAN JIWA
Pergolakan akan berlangsung terus-menerus antara jiwa yang menyuruh berbuat kejahatan dengan jiwa yang menyuruh berbuat kebaikan. Setiap kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang muslim adalah akibat dari penguasaan jiwa yang memerintahkan berbuat kejahatan. Sedangkan setiap upaya pendekatan kepada Allah yang dilakukan oleh seorang muslim adalah senjata kuat yang digunakan oleh jiwa yang memerintahkan berbuat kebaikan.
Oleh karena itu, puasa akan membangun kekuasaan jiwa, menguatkan serta meneguhkannya untuk melaksanakan risalahnya dan memfungsikan perannya dalam menjaga kedamaian dan ketenangan dalam diri seseorang. Peranan penting dari kekuasaan jiwa itu adalah pengarahan melalui kecaman dan teguran yang keras setiap kali gangguan jiwa berupaya untuk mengajak kepada kejahatan, memperdayanya atau menjebaknya agar tunduk kepadanya. Demikianlah, berbagai pertempuran bersembunyi di dalam jiwa dan berbagai kekuatan kebaikan akan menang, yang selanjutnya kedamaian dan rasa aman akan menyelimut dalam jiwa, kemudian beralih ke seluruh anggota badan sehingga bagian yang lain pun menikmati rasa aman dan ketenangan. Akhirnya semua kebaikan terealisasi bagi setiap muslim yang menjalankan puasa.
PUASA MERUPAKAN SALAH SATU WUJUD DARI KESATUAN UMAT ISLAM
Puasa merupakan satu penampakan praktis dari berbagai penampakan kesatuan kaum muslimin, kesetaraan antara si kaya dan si miskin, penguasa dan rakyat, orang tua dan anak kecil, serta laki-laki dan perempuan. Mereka berpuasa untuk Rabb mereka, seraya memohon ampunan-Nya dengan menahan diri dari makan pada satu waktu dan berbuka dalam satu waktu juga. Mereka sama-sama mengalami rasa lapar dan berada dalam pelarangan yang sama di siang hari, sebagaimana mereka mempunyai kedudukan yang sama dalam mengibarkan syi’ar-syi’ar lain yang berkenaan dengan puasa.
Dengan demikian, puasa merealisasikan semacam kesatuan tujuan, rasa, nurani, dan tempat kembali di masyarakat yang berpuasa.
Secara keseluruhan, umat Islam berdiri dalam satu barisan pada satu musim tertentu setiap tahun dan dalam beberapa hari tertentu di antara seluruh umat manusia ini. Ia merupakan barisan penghubung antara bangsa-bangsa yang kuat, antara komponen dari umat Islam secara keseluruhan, meskipun tempat tinggal mereka berjauhan dan berada dalam satu ikatan yang ditempatkan di hadapan satu pengalaman, yang memiliki satu pengaruh dan dalam satu penampakan kebersamaan.
Dengan demikian, hati dan perasaan mereka akan menjadi semakin erat dan akrab sehingga menjadi satu hati yang mengarah kepada kehidupan dengan satu pandangan.
Inilah satu teladan yang baik bagi persatuan antara berbagai masyarakat dari umat ini, bahkan sebagai teladan yang ideal bagi setiap kesatuan dalam kehidupan ini. Sebab, ia merupakan kesatuan yang bersumber dari nurani dan menciptakan masa depan serta tempat kembali dan membangkitkan berbagai kemuliaan dari dalam diri yang nampak secara lahiriahnya, sehingga terwujudnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.” [al-Mu’minun/23: 52]
Kesatuan yang diwujudkan oleh puasa ini merupakan kesatuan permulaan, karena ia merupakan buah dari ibadah yang sungguh-sungguh.
Kesatuan nurani, karena ia bersumber dari amal perbuatan perasaan yang didasarkan pada perencanaan jiwa kemanusiaan.
Kesatuan tempat kembali, karena ia menggiring umat ini secara keseluruhan kepada satu tempat kembali yang berakhir padanya dan berdiam di sana, yaitu takwa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikannya sebagai buah dari puasa.
Kesatuan rasa, karena ia menyatukan rasa dan perasaan umat pada satu tujuan dan menempatkannya pada satu jalan.
Kesatuan ‘aqidah, karena ia bersumber dari keimanan dan keyakinan dan bertengger di udara takwa dan ibadah.[12]
Dalam penampilannya yang cukup mengesankan, kesatuan ini memberikan gambaran yang benar mengenai kesatuan besar yang menyamaratakan semua anggota umat meskipun terdapat perbedaan jenis, warna kulit, dan kebangsaan. Jika engkau ingin membuktikan hal tersebut, silakan arahkan pandangan-mu pada saat berbuka di negara yang aman, di Baitullah, untuk menyaksikan ratusan ribu orang yang berbuka bersama dalam satu waktu. Pernahkah engkau menyaksikan tampilan kesatuan yang lebih jelas dari ini? Pada hakikatnya, yang buta itu bukanlah pandangan mata, tetapi hati yang ada di dalam dada.
PUASA MEMILIKI PENGARUH BESAR BAGI KESEHATAN SECARA UMUM
Sesungguhnya pada puasa itu terkandung kesehatan yang besar dengan semua maknanya, baik kesehatan badan, perasaan, maupun rohani.
Dengan demikian, puasa dapat memperbaharui kehidupan seseorang dengan diperbaharuinya sel-sel dan dibuangnya sel-sel yang sudah tua dan mati serta diistirahatkannya perut dan organ pencernaan. Puasa juga dapat memberikan perlindungan terhadap tubuh, membersihkan perut dari sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna dan juga dari kelembaban yang ditinggalkan oleh makanan dan minuman.
Banyak para dokter menyebutkan berbagai manfaat puasa, di antaranya bahwa puasa dapat mempertahankan kelembaban insidentil sekaligus membersihkan pencernaan dari racun yang ditimbulkan oleh makanan yang tidak sehat, dan mengurangi lemak di perut yang sangat berbahaya bagi jantung, yang ia sama seperti pengasingan kuda yang akan dapat menambah kekuatannya untuk bergerak dan lari.
Sedangkan kesehatan rohani yang ditimbulkan oleh puasa adalah berupa bimbingan yang diberikan kepada orang-orang yang berpuasa karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengetahui tujuan dari penciptaan mereka, mempersiapkan mereka untuk mengambil semua sarana takwa yang akan melindunginya dari kehinaan, kerendahan, dan kerugian di dunia dan akhirat. Pada akhirnya hati mereka menjadi selamat dari penyakit syubhat dan penyakit syahwat yang telah menimpa banyak orang.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz telah mengatakan, “Pada puasa itu terdapat banyak manfaat dan hikmah yang besar, di antaranya adalah pembersihan, penggemblengan dan pensucian jiwa dari akhlak tercela dan sifat-sifat buruk, seperti tamak, rakus dan kikir, untuk kemudian dibiasakan dengan akhlak mulia seperti sabar, santun, dermawan, murah hati, dan pengerahan jiwa untuk mengerjakan segala hal yang diridhai Allah dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
Manfaat puasa lainnya adalah membuat seorang hamba dapat memahami dirinya sendiri dan juga kebutuhannya, kelemahan dan kebutuhan dirinya akan Rabb-nya, juga mengingatkan diri akan keagungan nikmat Allah yang diberikan kepadanya, dan mengingatkan akan kebutuhan saudara-saudaranya yang hidup miskin, sehingga mengharuskan dirinya untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memohon pertolongan agar dilimpahkan berbagai kenikmatan untuk selalu mentaati-Nya serta mengasihi saudara-saudaranya yang hidup miskin sekaligus dapat berbuat baik kepada mereka.
Selain itu, manfaat puasa juga dapat membersihkan tubuh dari pencemaran yang buruk dan memberikan kesehatan serta kekuatan. Hal tersebut telah diakui oleh banyak dokter. Bahkan mereka telah banyak mengobati pasien mereka dengan menggunakan puasa ini.” [13]
[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22) dan Shahiih Muslim (III/157))
[2]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22) dan Shahiih Muslim (III/173))
[3]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/157))
[4]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/121))
[5]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/121))
[6]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/177))
[7]. Ash-Shaum karya Syaikh ‘Abdurrahman ad-Dausari, hal. 16.
[8]. Syaikh Abdurrahman ad-Dausari t secara panjang lebar telah menguraikan manfaat puasa. Demikian pula Ustadz Taufiq Sab’u. Bagi yang berminat, silakan merujuknya. Ash-Shaum (hal. 16) dan hal. 87.
[9]. Yang mengungkapkan sya’ir ini adalah al-Mutanabbi. Lihat Diiwaan Abi Thayyib oleh al-Mutanabbi, dengan syarah Abul Baqa’ al-‘Ukbari (III/287).
[10]. Ash-Shaum, karya Syaikh ad-Dausari, hal. 23.
[11]. Zaadul Ma’aad (I/320).
[12]. Lihat kitab Haakadzaa Nashuum, hal. 161 dan seterusnya.
[13]. Ma’ar Rasuul fii Ramadhaan, ‘Athiyyah Muhammad Salim (kitab ini dibe-rikan muqaddimah oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, hal. 5).
Tulisan Ini di Tulis Oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar
Hari Yang Penuh Perjuangan
Hari seperti biasa..
Matahari melihatku dengan kaku dan penuh kecurigaan..
Ribuan debu jalanan seakan menyerangku dengan segudang kebencian..
Asap kenalpot kendaraan silih berganti mencubit, menikam dan menendangku dengan bengis..
Apa salahku??
Waktu berjalan seperti biasa..
Petikan gitar yang hambar diselingi tangisan bayi sayup terdengar…
Aku melihat jiwa-jiwa polos berlarian mengejar bis kota yang melaju dengan lambat di lampu merah itu..ya lampu merah yang setiap pagi aku temui..lampu merah yang setiap sore menatapku bak mata iblis siap menerkam..
Apa salahku??
Kucoba menerka raut wajah yang penuh warna dan penuh tanda tanya tanpa expresi harapan..
kucoba menerka gerakan bibir-bibir yang seakan berkata sesuatu yang tak pernah aku mengerti..
kucoba menerka langkah-langkah yang tak pernah aku tahu apakah punya tujuan..
Apa salahku??
Mata manusia sudah tak lagi bisa mengucurkan air mata..
Hidung manusia sudah tak lagi mampu mencium kedamaian..
Tangan manusia sudah tak lagi sanggup menyentuh kebenaran..
Bibir dan lidah manusia sudah tak lagi bisa berkata keadilan..
Kaki manusia sudah tak lagi kuat berjalan menuju keselarasan..
Senja datang tepat waktu seperti biasa..
Aku kembali termenung tanpa mampu lagi berfikir
Aku kembali lagi terdiam tanpa bisa berkata apa-apa
Dan aku kembali terlelap tanpa bisa bermimpi….
untuk mu para buruh yang memperjuangkan kesejahteraan di May Day ini...
Kami Akan Selalu Ada Untuk Mendukungmu...
("tanda tanya” Jakarta, 2 Juli 2012, Bolivarian)
Hari
Perempuan Internasional adalah hari global yang merayakan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan politik
perempuan. Hari itu juga menandai ajakan bertindak untuk mempercepat
kesetaraan gender.
Hari
Perempuan Internasional (IWD) telah dimulai sejak awal 1900-an - sebuah masa
ekspansi dan perubahan besar di dunia industri yang berdampak kepada
pertumbuhan penduduk yang pesat dan bangkitnya ideologi radikal. Hari Perempuan
Internasional adalah hari kolektif perayaan global dan seruan untuk kesetaraan
jender. Tidak ada satu pun pemerintah, LSM, badan amal, korporasi, institusi
akademis, jaringan perempuan atau hub media yang menolak sepenuhnya untuk Hari
Perempuan Internasional. Banyak organisasi menyatakan tema IWD tahunan yang
mendukung agenda atau sebab spesifik mereka, dan beberapa di antaranya diadopsi
lebih luas dengan relevansi daripada yang lain.
"Kisah
perjuangan perempuan untuk kesetaraan tidak termasuk feminisme tunggal, namun
usaha kolektif dari semua orang yang peduli terhadap hak asasi manusia,"
kata feminis, jurnalis, aktivis sosial dan politik Gloria Steinem yang terkenal
di dunia. Jadi Hari Hari Perempuan Internasional adalah tentang persatuan,
perayaan, refleksi, advokasi dan tindakan apapun yang membutuhkan
keberanian.Karena kalau kau tidak berani,seperti yang dikatakan Ulfhaida Septiana Lestari "...wanita
akan dilupakan jika mereka melupakan untuk memikirkan dirinya sendiri”..
Tapi satu hal yang pasti, Hari Perempuan Internasional telah berlangsung selama
lebih dari satu abad - dan terus berlanjut untuk tumbuh dan menjadi kekuatan baru.
Pelajari
tentang nilai-nilai yang memandu etos IWD.
Warna
apa yang menandakan Hari Perempuan Internasional?
Secara
internasional, warna ungu merupakan warna untuk melambangkan wanita. Secara
historis kombinasi warna ungu, hijau dan putih untuk melambangkan kesetaraan
perempuan berasal dari Serikat Sosial dan Politik Perempuan di Inggris pada
tahun 1908. Ungu menandakan keadilan dan martabat. Hijau melambangkan harapan.
Putih mewakili kemurnian, namun tidak lagi digunakan karena 'kemurnian' menjadi
konsep kontroversial. Pengenalan warna kuning yang mewakili 'fajar baru'
biasanya digunakan untuk menandakan gelombang kedua feminisme. Dengan demikian
ungu dengan hijau mewakili feminisme tradisional, ungu dengan warna kuning
mewakili feminisme kontemporer yang progresif.
Perjalanan
Hari Perempuan Internasional
1908
Kerusuhan
besar dan perdebatan kritis terjadi di kalangan perempuan. Penindasan dan
ketidaksetaraan perempuan memacu wanita untuk menjadi lebih vokal dan aktif
dalam berkampanye untuk perubahan. Kemudian pada tahun 1908, 15.000 wanita
berbaris melalui New York City menuntut jam kerja yang lebih pendek, hak
membayar dan hak suara yang lebih baik.
1909
Sesuai
dengan sebuah deklarasi oleh Partai Sosialis Amerika, Hari Perempuan Nasional
pertama (NWD) di Amerika Serikat pada tanggal 28 Februari. Perempuan terus
merayakan NWD pada hari Minggu terakhir sampai Februari 1913.
1910
Pada
tahun 1910 sebuah Konferensi Internasional untuk Perempuan di Kopenhagen.
Seorang wanita bernama Clara Zetkin (Pemimpin 'Kantor Wanita' untuk Partai
Sosial Demokrat di Jerman) mengajukan gagasan tentang Hari Perempuan
Internasional. Dia mengusulkan agar setiap tahun di setiap negara harus ada
perayaan pada hari yang sama - Hari Perempuan - untuk menuntut tuntutan mereka.
Konferensi lebih dari 100 wanita dari 17 negara, mewakili serikat pekerja,
partai sosialis, klub wanita yang bekerja - dan termasuk tiga wanita pertama
yang terpilih ke parlemen Finlandia - menyambut saran Zetkin dengan persetujuan
bulat dan oleh karena itu Hari Perempuan Internasional menjadi hasilnya.
1911
Setelah
keputusan yang disepakati di Kopenhagen pada tahun 1911, Hari Perempuan
Internasional dihormati pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss
pada tanggal 19 Maret. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki menghadiri
demonstrasi IWD yang berkampanye untuk hak perempuan untuk bekerja, memilih,
dilatih, memegang jabatan publik dan mengakhiri diskriminasi. Namun kurang dari
seminggu kemudian pada tanggal 25 Maret, 'Segitiga Api' yang tragis di New York
City membawa kehidupan lebih dari 140 wanita pekerja, kebanyakan dari mereka
adalah imigran Italia dan Yahudi. Peristiwa bencana ini menarik perhatian
signifikan terhadap kondisi kerja dan undang-undang ketenagakerjaan di Amerika
Serikat yang menjadi fokus acara Hari Perempuan Internasional berikutnya.
1913-1914
Pada
malam menjelang Perang Dunia I, Hari Perempuan Internasional dipindahkan ke 8
Maret dan hari ini tetap menjadi tanggal untuk hari perempuan Internasional.
Pada tahun 1914, wanita-wanita di seluruh Eropa mengadakan demonstrasi untuk
berkampanye melawan perang dan untuk mengekspresikan solidaritas perempuan.
Misalnya, di London Inggris ada sebuah pawai dari Bow ke Trafalgar Square untuk
mendukung hak pilih wanita pada tanggal 8 Maret 1914. Sylvia Pankhurst
ditangkap di depan stasiun Charing Cross dalam perjalanannya untuk berpidato di
Trafalgar Square.
1917
Pada
hari Minggu terakhir bulan Februari, wanita Rusia memulai pemogokan untuk
"perdamaian" sebagai tanggapan atas kematian lebih dari 2 juta
tentara Rusia dalam Perang Dunia 1. Ditolak oleh para pemimpin politik, para
wanita terus menyerang sampai empat hari kemudian Tsar dipaksa untuk turun
tahta dan Pemerintah sementara memberi perempuan hak untuk memilih.
1975
Hari
Perempuan Internasional dirayakan untuk pertama kalinya oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa pada tahun 1975. Kemudian pada bulan Desember 1977, Majelis Umum
mengadopsi sebuah resolusi yang memproklamirkan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa
untuk Hak-Hak Perempuan dan Perdamaian Internasional untuk diobservasi pada
setiap hari sepanjang tahun oleh Negara-negara Anggota , sesuai dengan tradisi
sejarah dan nasional mereka.
1996
PBB
memulai adopsi tema tahunan pada tahun 1996 - yang "Merayakan masa lalu,
untuk Merencanakan Masa Depan". Tema ini diikuti pada tahun 1997 dengan
"Women at the Peace table", dan pada tahun 1998 dengan
"Perempuan dan Hak Asasi Manusia", dan pada tahun 1999 dengan
"Dunia yang Bebas Kekerasan terhadap Perempuan", dan seterusnya
setiap tahun sampai saat ini. Tema yang lebih baru telah disertakan, misalnya,
"Memberdayakan Perempuan Pedesaan, Mengakhiri Kemiskinan &
Kelaparan" dan "Janji adalah Janji - Waktu untuk Mengakhiri Kekerasan
Terhadap Perempuan".
2000
Pada
milenium baru, aktivitas Hari Perempuan Internasional di seluruh dunia telah
terhenti di banyak negara. Dunia telah bergerak dan feminisme bukanlah topik
yang populer. Hari Perempuan Internasional membutuhkan pengapian ulang. Ada
pekerjaan mendesak yang harus dilakukan - pertempuran belum dimenangkan dan
kesetaraan gender masih belum tercapai.
2001
Hub
digital internasional internasional untuk semua IWD diluncurkan untuk memberi
energi kembali hari ini sebagai platform penting untuk merayakan keberhasilan
pencapaian wanita dan melanjutkan seruan untuk mempercepat kesetaraan gender.
Setiap tahun, situs web IWD melihat lalu lintas yang luas dan digunakan oleh
jutaan orang dan organisasi di seluruh dunia untuk belajar dan berbagi
aktivitas IWD. Situs web IWD dimungkinkan setiap tahun melalui dukungan dari
perusahaan yang berkomitmen untuk mendorong kesetaraan gender. Amal situs web
pilihan selama bertahun-tahun adalah World Association of Girl Guides and Girl
Scouts (WAGGGS) dimana penggalangan dana IWD disalurkan. Kemitraan amal tambahan
yang lebih baru adalah dengan organisasi wanita pekerja global Catalyst Inc.
Situs web IWD mengadopsi tema kampanye tahunan yang relevan secara global untuk
kelompok dan organisasi. Tema kampanye ini, satu dari sekian banyak di seluruh
dunia, memberikan kerangka kerja dan arahan untuk kegiatan IWD tahunan dan
mempertimbangkan agenda perayaan yang lebih luas serta ajakan bertindak yang
luas untuk kesetaraan jender. Tema kampanye terakhir mencakup "Be Bold for
Change", "Ikrar untuk kesetaraan", "Jadikan itu
terjadi", "Agenda Gender: Mendapatkan Momentum" dan
"Menghubungkan Girls, Inspiring Futures". Tema kampanye untuk situs
web IWD global dikumpulkan secara kolaboratif dan konsultatif setiap tahun dan
diadopsi secara luas.
2011
100
Hari Perempuan Internasional - dengan acara IWD pertama yang diselenggarakan
tepat 100 tahun yang lalu pada tahun 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan
Swiss. Di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama memproklamasikan pada bulan
Maret 2011 menjadi "Bulan Sejarah Wanita", yang meminta orang Amerika
untuk menandai IWD dengan merefleksikan "prestasi luar biasa
perempuan" dalam membentuk sejarah negara tersebut. Kemudian Menteri Luar
Negeri Hillary Clinton meluncurkan "100 Inisiatif Perempuan: Memberdayakan
Perempuan dan Anak Perempuan melalui International Exchanges". Di Inggris,
aktivis selebriti Annie Lennox memimpin sebuah demonstrasi hebat di salah satu
jembatan ikon London yang meningkatkan kesadaran untuk mendukung badan amal
global Women for Women International. Kegiatan amal lebih lanjut seperti Oxfam
telah menjalankan aktivitas yang luas yang mendukung IWD dan banyak selebriti
dan pemimpin bisnis juga secara aktif mendukung hari tersebut.
2018
dan seterusnya
Dunia
telah menyaksikan perubahan dan pergeseran sikap yang signifikan baik dalam
pemikiran perempuan maupun masyarakat tentang kesetaraan dan emansipasi wanita.
Banyak dari generasi yang lebih muda mungkin merasa bahwa 'semua pertempuran
telah dimenangkan untuk wanita' sementara banyak feminis dari tahun 1970an
hanya mengenal kompleksitas patriarki yang panjang dan mendarah daging. Dengan
lebih banyak wanita di ruang rapat, kesetaraan hak legislatif yang lebih besar,
dan peningkatan jarak pandang kritis perempuan sebagai model peran yang
mengesankan dalam setiap aspek kehidupan, orang dapat berpikir bahwa wanita
telah mendapatkan persamaan sejati. Fakta yang tidak menguntungkan adalah bahwa
wanita masih belum dibayar sama dengan rekan pria mereka, wanita tetap tidak
hadir dalam jumlah yang sama dalam bisnis atau politik, dan pendidikan,
kesehatan, dan kekerasan global secara keseluruhan lebih buruk daripada
laki-laki. Namun, perbaikan besar telah dilakukan. Kami memiliki astronot
wanita dan perdana menteri, gadis sekolah disambut di universitas, wanita dapat
bekerja dan memiliki keluarga, wanita memiliki pilihan nyata. Dan setiap tahun
dunia mengilhami wanita dan merayakan prestasi mereka. IWD adalah hari libur
resmi di banyak negara termasuk Afghanistan, Armenia, Azerbaijan, Belarus,
Burkina Faso, Kamboja, China (untuk wanita saja), Kuba, Georgia, Guinea-Bissau,
Eritrea, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Madagaskar (hanya untuk wanita ),
Moldova, Mongolia, Montenegro, Nepal (untuk wanita saja), Rusia, Tajikistan,
Turkmenistan, Uganda, Ukraina, Uzbekistan, Vietnam dan Zambia. Tradisi tersebut
mengajarkan pria menghormati ibu, istri, pacar, rekan kerja, dll dengan bunga
dan hadiah kecil. Di beberapa negara, IWD memiliki status setara dengan Hari
Ibu dimana anak memberi hadiah kecil kepada ibu dan nenek mereka.
Jaringan
global aktivitas lokal yang kaya dan beragam menghubungkan wanita dari seluruh
dunia mulai dari demonstrasi politik, konferensi bisnis, kegiatan pemerintah
dan acara networking hingga pasar kerajinan wanita lokal, pertunjukan teater,
parade mode dan banyak lagi. Banyak perusahaan global secara aktif mendukung
IWD dengan menjalankan acara dan kampanye mereka sendiri. Misalnya, pada 8
Maret mesin pencari dan raksasa media Google sering mengubah Google Doodle-nya
di halaman pencarian global untuk menghormati IWD. Tahun ke tahun IWD sudah
pasti meningkat statusnya.
kita
harus membuat perbedaan, berpikir secara global dan bertindak secara lokal!
Jadikan
Hari Perempuan Internasional setiap hari.
masa
depan kehidupan perempuan bangsa ini ada di tangan kita...
Saduran sebagian artikel dari https://www.internationalwomensday.com
Saduran sebagian artikel dari https://www.internationalwomensday.com
huruf adalah langkah awal pengetahuan
Aksara Adalah Langkah Awal Untuk Membuka Jendela Ilmu, Dengan Memahami Aksara, Kita Akan Mampu Menjadi Sebuah Bangsa Yang Cerdas Dan Mampu Bersaing Dengan Bangsa Lain.
Berkaitan Dengan Aksara, Pada Tanggal 8 September 2016 Ini Masyarakat Di Berbagai Belahan Dunia Memperingati Hari Aksara Internasional (HAI). Perayaan HAI Dilandasi Akan Semangat Pemberantasan Buta Aksara Yang Masih Melanda Banyak Negara Saat Ini. Karena Itu, HAI Diperingati Oleh Setiap Negara Untuk Mengingatkan Pentingnya Keaksaraan. Di Tingkat Nasional, Indonesia Pun Turut Memperingati HAI. Mengingat Angka Masyarakat Buta Aksara Di Indonesia Tergolong Tinggi, Peringatan HAI Ini Sudah Seharusnya Menjadi Landasan Untuk Melakukan Pemberantasan Buta Aksara Di Semua Propinsi Yang Ada Di Indonesia.
Berkaitan Dengan Aksara, Pada Tanggal 8 September 2016 Ini Masyarakat Di Berbagai Belahan Dunia Memperingati Hari Aksara Internasional (HAI). Perayaan HAI Dilandasi Akan Semangat Pemberantasan Buta Aksara Yang Masih Melanda Banyak Negara Saat Ini. Karena Itu, HAI Diperingati Oleh Setiap Negara Untuk Mengingatkan Pentingnya Keaksaraan. Di Tingkat Nasional, Indonesia Pun Turut Memperingati HAI. Mengingat Angka Masyarakat Buta Aksara Di Indonesia Tergolong Tinggi, Peringatan HAI Ini Sudah Seharusnya Menjadi Landasan Untuk Melakukan Pemberantasan Buta Aksara Di Semua Propinsi Yang Ada Di Indonesia.
Sejauh Ini, Usaha Untuk Memberantas Buta Aksara Di Indonesia Sudah Menunjukkan Hasil Yang Positif. Menurut Survey Dari Portal Data Indonesia Untuk Daerah Sulawesi Barat, Pada Tahun 2014 Angka Buta Aksara Dari Usia 7-15 Tahun Sebesar 7,73%, Usia 15-45 Tahun Sebesar 3,93% Dan Usia 45+ Tahun Sebesar 17,66% Mengalami Peningkatan Pada Tahun 2015 Menjadi 7,36 Untuk Usia 7-15 Tahun, 3,33% Untuk Usia 15-45 Tahun Dan 17,37 Untuk Usia 45+ Tahun.
Dari Data Tersebut Terjadi Peningkatan Sebesar 0,37% Untuk Usia 7-15 Tahun, 0,6% Untuk Usia 15-45 Tahun Dan 0,29 Untuk Usia 45+ Tahun.
Pada Tahun 2016 Bukan Hanya Akan Di Peringati Secara Nasional Tetapi Kami Juga Sebagai Pemuda-Pemudi Yang Ter Integrasi Dalam Lembaga Lapak Institute Akan Mencoba Mengkombain Hari Aksara Internasional Dengan Gerakan Literasi Mamuju Yang Launching Baru – Baru Ini Dengan Beberapa Kegiatan Yang Sarat Dengan Makna-Makna Edukasi Di Area Car Free Day (CFD) Anjungan Pantai Manakarra Mamuju.
Meskipun Upaya Pemberantasan Buta Aksara Terus Dilakukan, Tapi Upaya Ini Tak Lepas Dari Kendala. Seperti Misalnya, Faktor Kemiskinan, Lokasi Yang Tak Terjangkau (Pelosok), Dan Kurangnya Motivasi Belajar. Kendala-Kendala Ini Harus Menjadi Perhatian Dari Pihak Pemerintah Baik Pusat Maupun Daerah Untuk Segera Diatasi.
Guna Mengatasi Kendala Tersebut, Siti Muyassarotul Hafidzoh, Seorang Peneliti Dari Program Pascasarjana Uny, Menyampaikan Ada Beberapa Poin Yang Perlu Dilakukan.
Pertama, Menumbuhkan Kesadaran Akan Motivasi Belajar. Lemahnya Motivasi Belajar Merupakan Akar Permasalahan Dalam Usaha Pemberantasan Buta Aksara. Maka Perlu Adanya Kesungguhan Dalam Membangun Motivasi Belajar.
Kedua, Melakukan Kerja Sama Perguruan Tinggi, Lembaga Masyarakat, Lembaga Pemuda Untuk Terlibat Dalam Upaya Gerakan Masif Pemberantasan Buta Aksara. Misalnya Kerja Sama Dalam Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Yang Mana Terjun Langsung Dalam Masyarakat.
Ketiga, Mengintegrasikan Program Pemberantasan Buta Aksara Dalam Program-Program Pemerintah. Dalam Konteks Ini, Pemberantasan Buta Aksara Bisa Dimaksimalkan Melalui Anggaran APBN Sebagai Modal Dalam Menciptakan Masyarakat Yang Melek Aksara.
Bila Upaya-Upaya Tersebut Sudah Bisa Diatasi Dan Angka Buta Huruf Di Indonesia Mendekati Nol Persen, Kesejahteraan Masyarakat Akan Bisa Ditingkatkan Dan Secara Tidak Langsung Negara Kita Khususnya Propinsi Yang Kita Tempati Akan Menjadi Kota Literasi Karena Membaca Adalah Bagian Penting Dari Pendidikan. Seperti Yang Diungkapkan Oleh Nelson Mandela, Pendidikan Adalah Senjata Paling Ampuh Untuk Mengubah Dunia. Sebuah Dunia Yang Muram Dan Terbelakang Menjadi Dunia Yang Cerah Dan Sejahtera...
Relasi antara agama dan politik itu sangat dinamis, unik, menarik, sekaligus lucu. Keduanya kadang saling berseteru. Tapi, bisa juga berdampingan dengan mesra. Sumanto Al Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya dan Kepala General Studies Scientific Research, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Mengambil contoh dari Pilkada Jakarta.
Sejarah
mencatat, tokoh, komunitas, dan institusi keagamaan bisa berperan menjadi
penjaga moral masyarakat serta pengkritik kekuasaan yang garang. Pula, agama
bisa menjadi sumber energi luar biasa untuk melakukan perlawanan terhadap rezim
korup dan despotik. Sejarah gerakan Gereja Katolik di Amerika Latin, Black
Chruches di Amerika Serikat, Sufi Sanusiyah di Lybia, atau Tarekat
Qadiriyah-Naqsabandiyah di Banten, Indonesia, hanyalah sekelumit contoh sejarah
dimana agama telah melakukan fungsi kritisnya sebagai medium kritik sosial
sebuah masyarakat sekaligus sarana perubahan politik sebuah tatanan kekuasaan.
Penting untuk dicatat, bukan hanya agama yang
melakukan perlawanan terhadap politik. Politik juga sering melawan,
mengintimidasi, dan menghancurkan agama. Dengan kata lain, hubungan sekaligus
nasib agama dan politik akan ditentukan oleh otoritas mana yang paling kuat dan
dominan dari keduanya serta bagaimana watak dan karakter para elit politik dan
elit agama yang kebetulan berkuasa. Jika politik menjadi “superordinat”, maka
agama akan berpotensi menjadi “subordinat”. Begitu pula sebaliknya.
Simbiose Mutualisme
Tetapi di sisi lain, agama juga bisa berfungsi
sebagai “stempel” atau legitimator politik-kekuasaan sejak zaman
"baheula" hingga dewasa ini. Di sejumlah negara, dewasa ini
agama-politik banyak melakukan “perkawinan” dan menjalin hubungan “simbiosis
mutualisme”: politik memberi jaminan proteksi keamanan masyarakat agama,
sementara agama memberi “legitimasi teologis” untuk melanggengkan kekuasaan
politik.
Dalam
konteks ini, secara teori, maka hubungan agama dan politik adalah sejajar
(koordinat), bukan saling mendominasi dan menguasai tetapi saling melengkapi
dan menguntungkan satu sama lain. Meskipun dalam prakteknya tentu saja tetap
terjadi “perselingkuhan” sana-sini dimana agama atau politik mencoba “main
mata” dan “berselingkuh” dengan pihak lain diluar “komunitas agama” (misalnya
kelompok adat, kaum pebisnis, sekuler-ateis, dlsb) atau bahkan secara diam-diam
saling menjegal dan mendelegitimasi otoritas masing-masing.
Diktum-diktum keagamaan (ajaran, diskursus, teks,
norma dan lain sebagainya) memang sangat lentur dan fleksibel sehingga mudah
untuk diseret-seret kesana-kemari sesuai dengan kepentingan pemeluknya.
Menarik pelajaran dari sejarah
Dalam konteks sejarah Indonesia, terjadi perkembangan
dinamis menyangkut relasi agama dan politik ini. Dulu pada masa kolonial, agama
berperan ganda: sebagai legitimasi kolonialisme sekaligus kritik sosial. Banyak
tokoh agama, Muslim khususnya, yang bekerja dengan pemerintah kolonial. Tetapi
pada saat yang bersamaan juga banyak di antara mereka yang menjadi pengkritik
dan pemberontak kolonial.
Pada zaman Orde Lama, Presiden Sukarno di satu sisi
mengakomodasi tokoh-tokoh Muslim (khususnya dari Nahdlatul Ulama) tetapi pada
waktu yang bersamaan melibas tokoh-tokoh Muslim lain (khususnya dari Masyumi)
yang kontra dengan kekuasaanya.
Pada masa Orde Baru, Presiden Suharto tidak melirik
kelompok Islam meskipun pada awalnya mereka digandeng untuk mengantarkan jalan
kekuasaan. Pak Harto lebih tertarik menggandeng kelompok abangan-kejawen dan
kalangan militer. Baru pada awal 1990-an, ia tertarik “melirik” Islam dengan
menggaet kelompok kelas menengah teknokrat di bawah bendera ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia) setelah terjadi friksi dengan sejumlah petinggi
militer. Pak Harto dulu juga tidak memberi ruang gerak secuilpun untuk
perkembangan “Islam politik” meskipun mendukung gerakan “Islam kultural” yang
apolitis.
Setelah
Pak Harto tumbang pada 1998, keran kebebasan berekspresi dan berserikat yang
dulu ditutup rapat, kini pun dibuka kembali lebar-lebar. Akibatnya, Indonesia
seperti kebanjiran kelompok-kelompok Islam ekstrim-konservatif.
Tumbuhnya kelompok intoleran
Mereka yang dulu bersembunyi karena ketakutan dengan
politik otoriter-militer Pak Harto, kini bermunculan bak cendawan di musim
hujan. Meski banyak sisi positif-konstruktif di era post-Suharto ini seperti
tumbuh-berkembangnya demokrasi dan kebebasan sipil tetapi ada sejumlah sisi
negatif-destruktif.
Merebaknya para “penumpang gelap” demokrasi seperti
kelompok-kelompok Islam garis keras (Muslim hardliners) yang intoleran,
anti-pluralisme, kontra-kebangsaan, mau menangnya sendiri, serta menggunakan
berbagai tindakan dan cara kekerasan untuk memuluskan agenda dan kepentingan
kelompoknya hanyalah sekelumit contoh dari sisi negatif-destruktif tadi.
Kelompok-kelompok
ini tidak segan-segan untuk memobilisasi massa (dan bahkan Tuhan) dengan
menggunakan sentimen-sentimen primordial agama dan etnisitas demi mencapai
kepentingan politik-ekonomi pragmatis. Inilah yang saya maksud dengan “politik
agama”, yakni “pemerkosaan agama” oleh sejumlah kelompok agama demi kepentingan
politik praktis sektarian.
Pengerahan massa oleh sejumlah “sindikat Islam”
untuk menjegal Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari bursa kandidat Gubernur
Jakarta dengan alasan bahwa ia seorang “Kristen” yang tidak layak memimpin
Jakarta yang mayoritas Muslim adalah contoh kecil tapi mencolok dari “politik
agama” ini.
Jika fenomena “politik agama” sektarian ini tidak
“dikelola” dengan baik, arif, dan bijak maka potensi kekerasan
komunal-horisontal bisa terjadi, dan spirit demokrasi yang sudah diperjuangkan
dengan susah-payah oleh kekuatan rakyat tahun 1998 bisa terkubur di kemudian
hari.
LA MONTAÑITA, Kolombia - Felix Salcedo kehilangan sebagian lengan kirinya saat menangani bahan peledak sebagai gerilyawan FARC, namun masih bisa menggunakan lengan kanannya untuk mengasapi perkebunan nanas di pegunungan selatan Kolombia.
Salcedo, 38, termasuk di antara 250 mantan anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang berkumpul di dusun Agua Bonita, satu dari 26 wilayah yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai ruang pelatihan dan penggabungan kembali bagi pemberontak yang melakukan demobilisasi sebagai bagian dari sebuah kesepakatan damai bulan November 2016.
Komunitas baru tersebut, yang diberi nama Hector Rodriguez untuk menghormati gerilyawan yang telah meninggal, terletak di daerah pedesaan La Montañita, sebuah kota sekitar 35 kilometer dari Florencia, ibu kota provinsi Caqueta.
Permukiman tersebut baru terdiri dari 60 rumah beton.
Salcedo bekerja di perkebunan nanas dimana usaha ekonomi utama pemukiman tersebut, sementara yang lain di antara rekan-rekannya, seperti Gloria Mora, sedang belajar mengolah yucca, pisang raja dan tomat di tanah subur Caqueta.
"Beberapa di antaranya sudah menjadi petani," Mora, yang menghabiskan 22 tahun bersama FARC sebagai perawat, mengatakan kepada EFE. "Saya datang dari kota, Sekarang kita belajar pertanian dan memulai hidup baru. "
Selain bertani, pemukiman tersebut menawarkan kesempatan mantan kombatan untuk mempelajari perdagangan seperti pertukangan dan pembuatan sepatu.
Sementara institusi pemerintah memiliki tanggung jawab keseluruhan atas usaha tersebut, warga negara telah datang ke sini untuk menyumbangkan waktu dan keahlian mereka untuk memudahkan transisi pejuang kembali ke kehidupan sipil.
Salah satu dari orang-orang yang berjiwa publik adalah Richard Camelo, seorang pemuda dari daerah perkebunan kopi Kolombia tengah yang mempersiapkan mantan gerilyawan untuk bekerja sebagai tukang kayu dan seni ukir.
"Saya percaya pada perubahan, atas komitmen mereka. Saya percaya pada sebuah Kolombia baru yang damai, "katanya saat ditanya mengapa dia ada di sini.
"Mereka datang jam 5 pagi sampai jam lima sore. Mereka ingin fokus pada usaha itu, dan kondisi itulah yang memotivasi saya. Kalian adalah orang - orang terbaik, "kata Camelo kepada murid-muridnya.
Eks-Pemberontak Kolombia Merangkul Kehidupan Sipil di Kota Baru
Posted by Layang - Layang Hitam on Tuesday
Dari Mana Simbol Pria dan Wanita Berasal ?
Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah” (chains of fathers). Perempuan, seperti halnya penderitaan, selalu absen dari hal tersebut, dan tentunya (mereka: penderitaan dan perempuan) adalah saudara dekat.
Peradaban, pada dasarnya, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim?
Camille Paglia, seorang pemikir antifeminis, ketika ia merenungi peradaban dan perempuan:
Camille Paglia, seorang pemikir antifeminis, ketika ia merenungi peradaban dan perempuan:
“Ketika aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak aku terdiam dan tertunduk takzim, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja. Konsepsi kekuatan macam apa: kebesaran macam apa: yang dihubungkan oleh bangau-bangau ini dengan peradaban Mesir kuno, ketika arsitektur monumental pertama kali dibayangkan dan dicapai. Apabila peradaban diserahkan ke tangan perempuan, mestilah kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami.
“Kemuliaan” peradaban dan bagaimana hal tersebut tidak menarik bagi perempuan. Bagi sebagian dari kita “gubuk-gubuk jerami” merepresentasikan untuk tidak mengambil jalan yang salah, yaitu penindasan dan pengrusakan. Di dalam kemajuan peradaban teknologi global yang mengarah pada kehancuran dan kematian, andai saja kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami!
Perempuan dan alam secara universal telah dihilangkan nilainya oleh paradigma dominan dan siapa yang tak melihat penempaan dari ini? Ursula Le Guin memberikan kita koreksi yang tepat dari ketidakpercayaan Paglia akan keduanya (perempuan dan alam):
“Manusia beradab berkata: Aku adalah diri, aku adalah tuan, segala sesuatu diluar dari aku adalah yang lain—berada di luar, di bawah, tak terlihat, bawahan. Aku memiliki, aku menggunakan, aku mengeksplorasi, aku mengeksploitasi, aku mengontrol. Apa yang kulakukan adalah yang penting. Apa yang aku inginkan adalah alasan mengapa semua ini ada. Aku adalah aku, dan selain dari itu adalah keperempuanan dan keliaran yang, harus digunakan sesuai kemauanku.
Banyak orang percaya bahwa peradaban yang kali pertama itu matriarkal. Namun, tak seorangpun ahli antropologi atau arkeologi, termasuk feminis, menemukan bukti atas masyarakat tersebut. “Pencarian akan sebuah budaya egalitarian genuin, taruhlah matriarkal, tak pernah membuahkan hasil,” terang Sherry Ortner.
Meskipun demikian, memang ada masanya, sebelum budaya lelaki menjadi sesuatu yang universal, ketika perempuan secara garis besar tidak selalu berada di bawah pria. Sejak 1970-an antropolog semacam Adrienne Zihlman, Nancy Tanner dan Frances Dahlberg membenarkan stereotip mula-mula era prasejarah di mana ”Lelaki adalah sang pemburu” dan ”Perempuan adalah sang peramu.” Kuncinya di sini adalah bahwa dari data-data yang secara general, komunitas-komunitas pra agrikultur memperoleh 80 persen kebutuhan makan dari mengumpul (mengumpulkan makanan) dan 20 persen dari berburu. Sangat mungkin untuk mencurigai pemisahan antara berkumpul/berburu dan mengabaikan bahwa komunitas-komunitas tersebut, dalam tingkatan-tingkatan signifikan, dapat membuktikan bahwa perempuan yang berburu dan pria yang meramu. Namun otonomi perempuan di dalam masyarakat semacam ini mengacu pada fakta, melalui penilaian pola aktivitas mereka, bahwa sumberdaya untuk hidup bagi perempuan cukup setara dengan pria.
Dalam konteks umum, etos egalitarian masyarakat pemburu (hunter gatherer) atau peramu makanan (foraging society), ahli-ahli antropologi seperti Eleanor Leacock, Patricia Draper dan Mina Caufield telah menjelaskan, secara garis besar, adanya hubungan setara antara perempuan dan pria. Di dalam tatanan masyarakat semacam itu ketika seseorang memperoleh sesuatu, ia pula yang akan membagikannya, dan ketika perempuan memperoleh 80 persen makanan, maka mereka jugalah yang menentukan aturan bagi gerak kelompok serta lokasi-lokasi untuk menetap. Serupa dengan adanya bukti yang mengindikasikan bahwa perempuan dan pria yang membuat alat-alat dari batu yang digunakan oleh masyarakat-masyarakat pra agrikultur.
Dalam komunitas-komunitas matriarkal Pueblo, Iroquois, Crow dan kelompok-kelompok Indian Amerika lainnya, perempuan dapat memutuskan tali perkawinan kapan saja. Secara garis besar, pria dan perempuan di dalam masyarakat semacam ini lebih leluasa bergerak dengan bebas dan damai dari satu kelompok ke kelompok lainnya, seperti halnya juga ketika mereka berada di dalam atau di luar suatu hubungan. Menurut Rosalind Miles, pria tidak hanya tidak memerintah ataupun mengeksploitasi perempuan,
“...mereka memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki kendali atas tubuh perempuan maupun anak-anak mereka, sehingga tidak ada yang namanya pengagungan akan suatu keperawanan atau kesucian, dan (kaum lelaki) tidak menuntut apapun dari eksklusivitas seksual perempuan.
Zubaeda Banu Quraishy memberikan satu contoh dari Afrika: “Asosiasi-asosiasi gender suku Mbuti dikarakterisasikan oleh harmoni dan kerjasama.
Kendati demikian, seseorang akan berpikir, benarkah situasinya semenyenangkan itu? Melihat terjadinya penghapusan makna atau devaluasi keperempuanan yang beragam bentuknya, namun tidak dalam esensinya, pertanyaan kapan dan bagaimana, cukup jelas berkata sebaliknya. Terdapat sebuah pembagian mendasar eksistensi sosial menurut gender, serta hierarki dari pembagian tersebut. Bagi filosof Jane Flax, dualisme yang paling mapan, termasuk pemisahan subjek-obyek serta pikiran-tubuh, merupakan suatu refleksi dari perpecahan gender.
Gender tidaklah serupa dengan pembedaan alamiah/fisiologis menurut jenis kelamin. Ia adalah suatu katagorisasi kultural dan tingkatan yang bersandar pada sebuah pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin yang mungkin merupakan bentuk tunggal kultural yang terpenting. Apabila gender mengenalkan dan melegitimasi ketidaksetaraan serta dominasi, apa yang penting untuk dipertanyakan? Jadi dalam pengertian asal-usulnya—serta dalam pengertian masa depan kita—pertanyaan mengenai masyarakat manusia tanpa gender yang menjadi pertanyaannya.
Kita semua mengerti bahwa pembagian divisi kerja memerlebar jalan terciptanya domestikasi dan peradaban yang menjadi penggerak sistem dominasi global sekarang ini. Juga terlihat bahwa bentukan-bentukan pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin merupakan artifisialitas dalam bentuknya yang paling awal dan juga, sebagai efeknya, membentuk formasi gender.
Saling berbagi makanan telah lama dikenal sebagai suatu capaian terbaik dari cara hidup meramu bahan makanan (foraging life-way). begitu juga dengan membagi tanggung jawab untuk merawat keturunan, yang masih dapat dilihat dari sisa-sisa masyarakat semacam itu, dan pola semacam ini cukuplah berbeda dengan kehidupan keluarga dalam peradaban yang terisolasi dan terprivatisasi. Keluarga tidak dipandang sebagai suatu institusi abadi, begitupula dengan eksklusivitas peran “wanita sebagai pengasuh” (female mothering) yang dimaknai sebagai suatu hal yang tak terhindarkan dari evolusi manusia.
Masyarakat terintegrasikan melalui pembagian divisi kerja dan keluarga, terintegrasikan melalui pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin. Kebutuhan untuk integrasi memperlihatkan sebuah tegangan, sebuah keterpisahan yang mengundang suatu dasar kohesi atau solidaritas. Dalam pengertian ini, anggapan Testart cukup tepat: ”[hal yang] inheren di dalam hubungan kekerabatan adalah hierarki. Dengan berdasar pada pembagian divisi kerja, hubungan di dalam keluarga menjadi hubungan produksi. ”Gender adalah sesuatu yang inheren di dalam sifat alami hubungan kekerabatan,” seperti yang dijelaskan oleh Cucchiari, ”yang tak dapat eksis tanpanya. Di dalam wilayah inilah akar dari dominasi terhadap alam, sebagaimana juga dominasi terhadap perempuan, dapat dieskplorasi.
Seperti yang telah diketahui, suku-suku peramu makanan di dalam masyarakat semacam itu membuka jalan bagi peran-peran yang terspesialisasi, struktur hubungan kekerabatan membentuk infrastruktur hubungan yang akan berkembang menuju ketidaksetaraan dan pembeda-bedaan kekuatan. Perempuan secara tipikal menjadi imobilitas akibat suatu peran khusus menjaga anak; pola semacam ini selanjutnya semakin berkembang melampui kriteria-kriteria yang tadinya terbentuk sebagai peran gender. Pemisahan dan pembagian divisi kerja menurut gender ini mulai hadir selama transisi dari era Pertengahan sampai era Paleolitikum Lanjut.
Gender dan sistem hubungan kekerabatan merupakan konstruksi kultural yang dibentuk berdasarkan dan bertentangan dengan subjek-subjek biologis yang, menurut Juliet Mitchell, melibatkan “lebih dari apapun sebuah organisasi simbolik dari perilaku. Seperti yang telah eksis di dalam masyarakat berbasis gender dan sistem hubungan kekerabatan, mungkin akan lebih menjelaskan apabila melihat langsung pada budaya simbolik itu sendiri, dengan melihat “kebutuhan untuk memediasi secara simbolis suatu pendikotomian kosmos yang hebat. Pertanyaan siapa yang lebih dulu muncul, datang dengan sendirinya dan sulit untuk diketahui. Kendati demikian, cukup jelas bahwa tak ada pembuktian aktivitas-aktivitas simbolik (seperti misalnya yang terdapat di dalam lukisan-lukisan gua) sebelum sistem gender, yang didasari pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, terlihat berlangsung di era tersebut.
Memasuki era Paleolitikum Lanjut, yang merupakan epos awalan dari Revolusi Neolitikum di mana terbentuknya peradaban dan domestikasi, revolusi gender telah mencapai masanya. Tanda-tanda maskulin dan feminin mulai hadir sekitar 35.000 tahun lalu di dalam seni-seni gua. Kesadaran gender bangkit sebagai pencapaian keseluruhan dualitas, suatu spektral atau momok dari masyarakat yang terpilah-pilah. Di dalam suatu polarisasi aktivitas baru ini, aktivitas menjadi relasi dan terdefinisikan oleh gender. Peran pemburu, misalnya, berkembang menjadi sesuatu yang diasosiasikan sebagai kelaki-lakian, kriteria-kriterianya diatributkan pada gender pria sebagai suatu sifat yang diinginkan.
Ketika telah menjadi sangat menyatu atau menyeluruh, aktivitas semacam kelompok-kelompok peramu makanan dan tanggung jawab komunal untuk merawat anak, sekarang ini menjadi bidang-bidang yang terpisah di mana kecemburuan seksual dan kepemilikan (posesifitas) mulai terlihat. Di saat yang bersamaan, hal-hal simbolis muncul sebagai suatu bidang ataupun realitas yang terpisah. Bukti-bukti ini bisa dilihat dalam praktik-praktik seni dan ritual. Sangatlah berisiko untuk mengandaikan masa lalu yang jauh menggunakan titik berangkat masa sekarang, meskipun budaya-budaya nonindustrial yang masih tersisa dapat menunjukan titik terang. Suku Bimin-Kushumin Papua Nugini, misalnya, mengalami pemisahan maskulin dan feminin sebagai sesuatu yang mendasar dan menegaskan. ”Esensi” maskulin, yang diistilahkan sebagai finiik, tidak hanya melambangkan kualitas-kualitas kekuatan ala ksatria perang, tapi juga berhubungan dengan ritual dan kontrol. ”Esensi” feminin, atau khaapkhabuurien, adalah sesuatu yang liar, impulsif, sensual, dan acuh pada ritual. Sama halnya dengan Mansi di daerah barat-daya Siberia yang memberlakukan aturan-aturan keras pada keterlibatan perempuan di dalam praktik-praktik ritual. Dengan bukti suku-suku seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan untuk mengatakan bahwa, kehadiran atau absen peran ritual, merupakan sesuatu yang menentukan bagi subordinasi perempuan. Gayle Rubin menyimpulkan bahwa ”kekalahan dunia-historis (world-historical) perempuan terjadi melalui asal-usul budaya dan merupakan prasyarat budaya.
Kebangkitan simultan budaya simbolis dan kehidupan gender bukanlah suatu kejadian yang kebetulan. Kedua-duanya melibatkan suatu perubahan mendasar dari kehidupan yang tadinya tidak terpilah-pilah dan nonhierarkis. Logika perkembangan dan perluasan kedua hal tersebut merupakan sebuah respon dari tegangan-tegangan dan ketidaksetaraan yang mereka ciptakan; keduanya saling-terhubung secara dialektis dengan awal-mula pemisahan divisi kerja yang artifisial.
Secara cukup relatif, “Lompatan Besar Menuju” era agrikultur dan peradaban mulai hadir ketika terjadinya alterasi gender atau budaya simbolik. Ini merupakan era yang menentukan bagi istilah ”rising above nature”, dengan mulai mengenyampingkan keintiman dan kecerdasan nondominatif dengan alam yang telah ada sebelumnya, selama dua juta tahun. Perubahan ini cukup menentukan bagi konsolidasi dan intensifikasi pembagian divisi kerja. Meillasoux mengingatkan kita tentang permulaannya:
“Alam sama sekali tidak menjelaskan mengenai pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, tidak pula dengan institusi semacam pernikahan, keterikatan suami-istri, maupun paternalitas. Semuanya dipaksakan kepada perempuan, oleh karena itu semua fakta-fakta peradaban haruslah dijelaskan, bukan malah menggunakannya untuk menjelaskan [secara sebaliknya].
Kelkar dan Nathan, misalnya, tidak banyak menemukan adanya spesialisasi gender pada kelompok-kelompok pemburu di India bagian barat, apabila dibandingkan dengan kondisi masyarakat agrikultur disana. Transisi dari pengumpul makanan menuju pada pemeroduksi makanan mengarah pada perubahan-perubahan radikal di dalam masyarakat mana saja. Cukuplah menjelaskan, apabila mencermati contoh yang mendekati jaman sekarang, bahwa suku Muskogee di Amerika Tenggara yang menjunjung tinggi nilai-nilai intrinsik dari hutan yang belum terjamah dan terdomestikasi; dijajah oleh kaum kolonial dan menggantikan tradisi Muskogee yang matrilineal dengan hubungan patrilineal.
Tempat terjadinya transformasi dari gaya hidup “liar” menuju yang berbudaya adalah ketika manusia mulai berdomisili secara tetap, sebagaimana perempuan mulai terbatasi horison-horisonnya. Domestikasi berangkat dari sini (secara etimologis, berasal dari kata Latin domus, atau rumah tangga): kerja-kerja membosankan—yang tidak sesulit seperti meramu bahan makanan—, reproduksi berlebihan, dan pengharapan hidup yang lebih rendah daripada kaum pria. Indikasi-indikasi ini hadir di dalam masyarakat agrikultur sebagai peran perempuan. Dari sini dikotomi yang lain lagi muncul, pembedaan antara kerja dan nonkerja, sesuatu yang bagi banyak generasi tidak pernah eksis. Melalui produksi gender ini beserta perluasannya yang konstan, mulai berkembanglah fondasi-fondasi budaya dan mentalitas kita.
Setelah dibatas-batasi seperti ini, perempuan, meski belum sepenuhnya dipasifkan, mulai didefinisikan sebagai pasif. Seperti halnya alam, sebagai nilai yang dijadikan sumber untuk diproduksi; yang menunggu penyuburan dan pengaktifan dari luar tubuhnya. Perempuan mengalami pelepasan otonomi dan kesetaraan yang relatif di dalam suku-suku kecil yang bersifat nomadik dan anarkik menjadi kediaman-kediaman yang besar, kompleks, dan dikontrol.
Mitologi dan agama, sebagai kompensasi-kompensasi dari masyarakat yang terpilah-pilah, bersaksi atas direduksinya posisi perempuan. Dalam cerita Yunani versi Homer, tanah kosong (yang belum didomestikasi oleh budaya bercocok-tanam), kediaman Calypso asal Circa, Sirens yang menggoda Odysseus untuk meninggalkan kerja-kerja peradaban, dikatagorikan sebagai feminin. Baik tanah dan perempuan, sekali lagi, menjadi subjek dominasi. Namun imperialisme semacam ini mengkhianati asal muasal rasa bersalah, sebagaimana hukuman bagi mereka yang berkaitan dengan domestikasi dan teknologi, di dalam dongeng-dongeng Promotheus dan Sisifus. Proyek agrikultur di banyak tempat, menjadi semacam pelanggaran; seperti halnya pemerkosaan di dalam cerita-cerita Demeter. Seiring lewatnya waktu dan kekalahan-kekalahan , hubungan-hubungan ibu dan anak perempuan di dalam mite Yunani—seperti cerita-cerita Demeter-Kore, Clytemnestra-Iphigenia, Jocastra-Antigone, misalnya—mulai hilang.
Di dalam Kitab Kejadian (Genesis), bagian awal dari Alkitab, perempuan lahir dari rusuk pria. Kejatuhan (baca: keterusiran) dari Taman Eden merepresentasikan kematian kehidupan berburu dan berkumpul, pemaksaan menuju agrikultur dan kerja-kerja keras. Tentunya, semua itu disalahkan pada Hawa (Eve), yang menjadi stigma dari Kejatuhan ini. Cukup ironis memang, di dalam cerita tersebut domestikasi terasa seperti rasa takut dan penolakan terhadap sifat alam dan perempuan, sementara mite Eden, dalam kenyataannya, justru menyalahkan korban utama dari skenarionya.
Lantas Bagaimana Menurut Kitab Suci Alqur'an ?
saya rasa ini yang belum sempat untuk dibedah lebih jauh oleh teman - teman gerakan.
Lantas Bagaimana Menurut Kitab Suci Alqur'an ?
saya rasa ini yang belum sempat untuk dibedah lebih jauh oleh teman - teman gerakan.
Agrikultur adalah penaklukan yang mengisi lahirnya formasi dan berkembangnya gender. Terlepas dari adanya figur-figur dewi-dewi, yang dijadikan sebagai lambang kesuburan, secara general budaya Neolitikum sangatlah menjunjung tinggi kejantanan. Melalui dimensi-dimensi emosional maskulinisme, sebagaimana yang dilihat Cauvin, domestikasi hewan-hewan mestilah datang, secara prinsipal, dari inisiatif kaum pria. Semenjak itu pemisahan dan tekanan pada kekuasaan mulai hadir bersama kita; ekspansi daerah-daerah, misalnya, di mana energi pria menundukan sifat alami perempuan mulai diperluas.
Hal ini telah mencapai proporsinya yang dashyat, dan dari segala sisi kita diberitahu bahwa kita tidak dapat menghindari hubungan dengan teknologi yang sudah sangat menyeluruh. Namun patriarki, juga, ada di mana-mana, dan sekali lagi inferioritas alam dipertahankan. Untungnya, ”banyak kaum feminis”, menurut Carol Stabile, percaya bahwa “penolakan terhadap teknologi, secara fundamental, sangatlah identik dengan penolakan terhadap patriarki.”
Ada kaum feminis lain yang mengklaim bahwa bagian dari sumber-sumber teknologi, mengakui adanya suatu “pelepasan dari tubuh” secara virtual, cyborg (organisme sibernetik) dan sejarah penaklukan gendernya. Namun titik berangkat semacam ini salah kaprah, suatu pelupaan akan keseluruhan angkutan dan logika menindas dari institusi yang menciptakan patriarki. Masa depan high-tech yang mengoyak tubuh ini hanya merupakan unsur dan jalan yang sama destruktifnya.
Menurut Freud, menganalisa orang menurut subjek gendernya merupakan sesuatu yang mendasar, baik secara kultural dan psikologis. Namun teori-teorinya mengasumsikan masa yang telah mengekspresikan subjektivitas gender, dan karenanya memicu banyak pertanyaan. Berbagai macam pertimbangan tetap tak terpetakan, seperti halnya gender sebagai suatu ekspresi relasi kekuasaan, dan fakta bahwa manusia datang di dunia sebagai mahkluk biseksual.
Carla Freeman memiliki pertanyaan yang berkaitan di dalam esainya yang berjudul, “Is Local: Global as Feminine: Masculine? Rethinking the Gender of Globalization” .
Krisis umum modernitas berakar pada imposisi gender. Pemisahan dan ketidaksetaraan dimulai pada periode lahirnya budaya simbolik, yang pada tingkatan lanjutnya menjadi sesuatu yang menentukan seperti halnya dengan domestikasi dan peradaban: patriarki. Hierarki gender tidak dapat direformasikan seperti halnya sistem kelas atau globalisasi. Tanpa konsep pembebasan perempuan yang benar-benar radikal, kita akan terjebak di dalam pengecohan dan pengudungan yang sekarang ini telah menjadi hasil yang menakutkan di manapun. Keseluruhan orisinal ketiadaan gender (genderlessness) mungkin bisa menjadi prasyarat bagi penyelamatan kita. []
Jejak kaki:
a John Zerzan, lahir pada 1943 di Oregon. Ia menamatkan pendidikan B.A pada Universitas Stanford dalam disiplin Ilmu Politik (1962-1966), mendapatkan magister dalam bidang kajian Sejarah dari Universitas Negeri San Fransisco (1970-1972), dan menempuh pendidikan Ph.D di Universitas California Selatan (1972-1975). Zerzan merupakan seorang anarkis dan filosof primitivis, dan profilik dalam penulisan. Ada empat karya yang menjadi magnum opusnya, yakni Elements of Refusal (1988), Future Primitive and Other Essays (1994), Against Civilization: A Reader (1998) dan Running on Emptiness (2002). Kegiatannya banyak berkonsentrasi pada kritik peradaban. Ia mengkaji secara mendalam mengenai pola kehidupan manusia prasejarah. Selain, itu sangat aktif dalam gerakan-gerakan anarkis yang ada.
1 Naskah ini diterjemahkan oleh Ernesto Setiawan, kemudian diperiksa ulang serta disunting dengan merujuk naskah aslinya oleh Hardiansyah Suteja.
2 Camille Paglia. 1990. Sexual Personae: Art and Decadence from Nefertiti to Emily Dickinson. New Haven: Yale University Press: New Haven. hal. 38.
3 Ursula Le Guin. 1989. "Women/Wildness," dalam Judith Plant (ed.) Healing the Wounds. Philadelphia: New Society. hal. 45.
4 Sherry B. Ortner. 1996. Making Gender: the Politics and Erotics of Culture. Boston: Beacon Press. hal. 24. Lihat juga Cynthia Eller. 2000. The Myth of Matriarchal Prehistory: Why an Invented Past Won’t Give Women a Future. Boston: Beacon Press.
5 Sebagai contoh, Adrienne L. Zihlman dan Nancy Tanner. 1978. "Gathering and Hominid Adaptation" dalam Lionel Tiger and Heather Fowler (ed.). Female Hierarchies. Chicago: Beresford); Adrienne L. Zihlman. 1978. "Women in Evolution," Signs 4; Frances Dahlberg. 1981. Woman the Gatherer New Haven: Yale University Press; Elizabeth Fisher. 1979. Woman’s Creation: Sexual Evolution and the Shaping of Society. Ga.rden City NY: Anchor/ Doubleday.
6 James Steele dan Stephan Shennan (ed.). 1995. The Archaeology of Human Ancestry. New York: Routledge. hal. 349. juga M. Kay Martin and Barbara Voorhies. 1975. Female of the Species. New York: Columbia University Press, hal 210-211.
7 Leacock merupakan salah satu yang paling ngotot di antara semuanya, dengan mengatakan bahwa apapun bentuk dari dominasi pria yang ada dalam masyarakat tersebut yang bertahan, disebabkan oleh efek dominasi kolonial. LIhat Eleanor Burke Leacock. 1978. "Women’s Status in Egalitarian Society" dalam Current Anthropology 19; dan Eleanor Burke Leacock. 1981. Myths of Male Dominance. New York: Monthly Review Press. Lihat juga "Powerful Women and the Myth of Male Dominance in Aztec Society" karya S. dan G. Cafferty Archaeology from Cambridge 7 (1988).
8 Joan Gero dan Margaret W. Conkey (ed.). 1991. Engendering Archaeology. Cambridge MA: Blackwell; C.F.M. Bird. 1993. "Woman the Toolmaker" dalam Women in Archaeology. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies.
9 Claude Meillasoux. 1981. Maidens, Meal and Money. Cambridge: Cambridge University Press, hal. 16.
10 Rosalind Miles. 1986. The Women’s History of the World. London: Michael Joseph. hal. 16.
11 Zubeeda Banu Quraishy. 2000. "Gender Politics in the Socio-Economic Organization of Contemporary Foragers" dalam Ian Keen dan Takako Yamada (ed.). Identity and Gender in Hunting and Gathering Societies. Osaka: National Museum of Ethnology. hal. 196.
12 Jane Flax. 1983. "Political Philosophy and the Patriarchal Unconscious " dalam Sandra Harding dan Merrill B. Hintikka (ed.), Discovering Reality. Dortrecht: Reidel. hal. 269-270.
13 Lihat Patricia Elliott. 1991. From Mastery to Analysis: Theories of Gender in Psychoanalytic Feminism. Ithaca: Cornell University Press. e.g. hal. 105.
14 Alain Testart. 1989. "Aboriginal Social Inequality and Reciprocity" dalam Oceania 60. hal. 5.
15 Salvatore Cucchiari. 1984. "The Gender Revolution and the Transition from Bisexual Horde to Patrilocal Band" dalam Sherry B. Ortner dan Harriet Whitehead (ed.) Sexual Meanings: The Cultural Construction of Gender and Sexuality. Cambridge UK: Cambridge University Press. hal. 36. Essay ini sangatlah penting.
16 Olga Soffer. 1992. "Social Transformations at the Middle to Upper Paleolithic Transition" dalam Günter Brauer dan Fred H. Smith (ed.) Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution. Rotterdam: A.A. Balkema. hal. 254.
17 Juliet Mitchell. 1984. Women: The Longest Revolution. London: Virago Press. hal. 83.
18 Cucchiari. op.cit.. hal. 62.
19 Robert Briffault. 1931. The Mothers: the Matriarchal Theory of Social Origins. New York: Macmillan. hal. 159.
20 Theodore Lidz & Ruth Williams Lidz. 1998. Oedipus in the Stone Age. Madison CT: International Universities Press. hal. 123.
21 Elena G. Fedorova. 2000. "The Role of Women in Mansi Society" dalam Peter P. Schweitzer pada Megan Biesele dan Robert K. Hitchhock (ed.) Hunters and Gatherers in the Modern World. New York: Berghahn Books. hal. 396.
22 Steven Harrall. 1997. Human Families. Boulder CO: Westview Press. hal. 89. "Contoh-contoh hubungan antarritual dan ketidaksetaraan di dalam masyarakat forager tersebar luas,” menurut Stephan Shennan pada "Social Inequality and the Transmission of Cultural Traditions in Forager Societies" dalam Steele and Shennan (ed.). op.cit.. hal. 369.
23 Gayle Rubin. 1979. "The Traffic in Women" dalam Toward an Anthropology of Women. New York: Monthly Review Press. hal. 176.
24 Meillasoux. op.cit.. hal 20-21.
25 Disebut oleh Indra Munshi. 2003. "Women and Forest: A Study of the Warlis of Western India," dalam Govind Kelkar, Dev Nathan dan Pierre Walter (ed.) Gender Relations in Forest Societies in Asia: Patriarchy at Odds. New Delhi: Sage. hal. 268.
26 Joel W. Martin. 1991. Sacred Revolt: The Muskogees’ Struggle for a New World. Boston: Beacon Press. hal 99, 143.
27 The production of maize, one of North America’s contributions to domestication, "had a tremendous effect on women’s work and women’s health." Women’s status "was definitely subordinate to that of males in most of the horticultural societies of [what is now] the eastern United States" by the time of first European contact. The reference is from Karen Olsen Bruhns and Karen E. Stothert. 1999. Women in Ancient America. Norman: University of Oklahoma Press. p. 88. Also, for example, Gilda A. Morelli. 1997. "Growing Up Female in a Farmer Community and a Forager Community" in Mary Ellen Mabeck, Alison Galloway and Adrienne Zihlman (ed.). 1997. The Evolving Female. Princeton: Princeton University Press: "Young Efe [Zaire] forager children are growing up in a community where the relationship between men and women is far more egalitarian than is the relationship between farmer men and women" (p. 219). See also Catherine Panter- Brick and Tessa M. Pollard. 1999. "Work and Hormonal Variation in Subsistence and Industrial Contexts" in C. Panter-Brick and C.M. Worthman (ed.). Hormones, Health, and Behavior. Cambridge: Cambridge University Press, in terms of how much more work is done, compared to men, by women who farm vs. those who forage.
28 The Etoro people of Papua New Guinea have a very similar myth in which Nowali, known for her hunting prowess, bears responsibility for the Etoros’ fall from a state of well-being. Raymond C. Kelly. 1993. Constructing Inequality. Ann Arbour: University of Michigan Press. p. 524.
29 Jacques Cauvin. 2000. The Birth of the Gods and the Origins of Nature. Cambridge: Cambridge University Press. p. 133.
30 Carol A. Stabile. 1994. Feminism and the Technological Fix. Manchester: Manchester University Press. p. 5.
31 Carla Freeman. 2001. "Is Local:Global as Feminine:Masculine? Rethinking the Gender of Globalization"dalam Signs 26.
John Zerzan
DISEBARKAN OLEH KATALIS DI 03.37












