Aku putuskan untuk tak lagi bertanya pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
hinggap pada kata-kata yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil.
Belum lama kudengar berita pilu yang membuat tangis seakan tak berarti.
saat para bayi yang tinggal belulang mati dikerumuni lalat karena busung lapar.
aku bertanya pada diri sendiri benarkah ini terjadi di negeri kami?
Lalu kulihat di televisi ada anak-anak kecil memilih bunuh diri hanya karena tak bisa bayar uang sekolah, karena tak mampu membeli mie instan, juga tak ada biaya rekreasi.
Beliung pun menyerbu dari berbagai penjuru, menancapi hati, mengiris sendi-sendi diri, sampai aku hampir tak sanggup berdiri.
sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri benarkah ini terjadi di negeri kami?
Lalu kudengar episodemu adik kecil, Pada suatu hari yang terik nadimu semakin lemah tapi tak ada uang untuk ke dokter atau membeli obat sebab ayahmu hanya pemulung, kau pun tak tertolong.
Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo tak makan, tak minum sebab uang tinggal enam ribu saja.
mereka tuju stasiun sambil mendorong gerobak kumuh, kau tergolek di dalamnya, berselimut sarung rombengan.
pias terpejam kaku,Airmata bercucuran, peluh terus bersimbahan.
Ayah dan abangmu akan mencari kuburan tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah, hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih tanpa seorang pun peduli...
aku pun bertanya sambil berteriak pada diri, benarkah ini terjadi di negeri kami?
Tolong bangunkan aku, adinda...
biar kulihat senyummu, katakan ini hanya mimpi buruk.
ini tak pernah terjadi di sini sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap. Ini negeri cinta...
Ah, tapi seperti duka aku pun sedang terjaga, sambil menyesali mengapa kita tak berjumpa, Adinda...
dan kau taruh sakit dan dukamu pada pundak ini, Di angkasa layang-layang hitam semakin membayangi, kulihat para koruptor menarik ulur benangnya
sambil bercerita tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya, Aku putuskan untuk tak lagi bertanya pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun.
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi. aku memang sedang berada di negeriku yang semakin pucat dan menggigil...
"Camila Vallejo" Aktivis Wanita Sosialis
Pengantar
‘Luka’ yang menganga sejak 57 tahun lalu memang masih terasa dan belum sembuh benar. Sebuah tragedi kemanusian telah terjadi, beribu-ribu ibu kehilangan anak dan suami mereka, entah dipenggal kepalanya atau dibuang ke kamp konsentrasi semacam Pulau Buru. Di antara reruntuhan bangkai, darah dan air mata itu, sebuah organisasi perempuan ‘revolusioner’ juga mengalami hal yang sama. Para pimpinanya ditangkap, disiksa, diperkosa -- oleh orang-orang berseragam loreng, bersenjata dan bersepatu laras-- dan akhirnya penjara menjadi ‘rumah’ mereka, terpisah dari anak dan suami. Kini, ketika demokrasi mulai terkuak sedikit-demi sedikit, mampukah gerakan feminis revolusioner bangkit kembali? Mampukah, bersama kaum tertindas lainya, bersama bergerak menuntaskan revolusi demokratik yang ‘terinterupsi’?
***
1965. Tahun ini tidak hanya mulai masuknya modal-modal asing ke Indonesia, tetapi juga merupakan sejarah kelam dalam sejarah kemanusian negeri ini. Kekuasaan baru yang mengabdi pada modal asing didirikan diatas 3 juta bangkai rakyatnya sendiri. Mereka dibantai – sebagian besar petani di pedesaan yang progresif, pedagang-pedagang menengah kebawah, buruh-buruh progresif, intektual dan mahasiswa progresif, perempuan berpandangan maju, walaupun banyak juga yang tidak mengerti apa-apa dengan apa yang terjadi -- semata-mata untuk melapangkan mauksnya modal asing agar lebih bisa dengan mudah menancapkan ‘kukunya’, untuk lebih memudahkan mengekploitasi kekayaan alam dan sumber daya manusia di negeri ini. Rejim baru ini – yang ditopang oleh senjata dan modal asing – memang dengan sengaja menciptakan suatu trauma sejarah, maka tidak hanya manusia yang mereka habisi, organisasi-organisasi yang dianggap bisa menjadi batu sandungan bagi mereka, juga dihabisi. Salah satunya adalah Gerakan Wanita Indonesia (gerwani), sebuah organisasi perempuan progresif. Sejak saat inilah, perempuan Indonesia merupakan bagian dari rakyat yang paling terhisap oleh sistem kapitalis yang militeristik.
Bailkah, kita melakukan kilas balik terhadap gerakan perempuan Indonesia, bukan untuk sekedar romantisme atau menangisinya, tapi guna membangun gerakan perempuan revolusioner, sesuai dengan kehendak jaman. Memang kadang menyakitkan untuk melihat masa lalu, tapi sejarah tetaplah guru terbaik, dari sinilah kita belajar agar tidak membuat kesalahan yang sama dan ‘merenda’ sejarah yang lebih baik untuk kemanusian.
Apabila kita membuka-buka kembali lembaran sejarah, sebetulnya gerakan perempuan di Indonesia sudah ada sejak akhir abad ke-19. Kartini, seorang perempuan priyayi yang terkena pengaruh politik ethik, sadar bahwa ternyata kaumnya masih sangat terbelakang. Memang sungguh luar biasa, tidak hanya ditengah kaumnya yang terbelakang, tapi juga diantara jutaan rakyat yang masih diseliputi alam feodalisme, terbelakang dalam berfikir, dalam ilmu dan pengertahuan, Kartini mempelopori jaman baru bagi kaum perempuan dan sekaligus bagi bangsanya. Tidak ada kata lain buat ‘sang pemula’ ini, ibarat ‘pijar’ yang memberikan petunjuk bagi orang yang berada dikegelapan malam. Selanjutnya, tepatlah apa yang dituliskan Kartini: ‘habis gelap pastilah terang’. Setelah Kartini, ‘lahirlah’ generasi berikutnya. Dewi Sartika lahir diantara dinginnya kota Priyangngan, dari ‘Tanah Rencong Aceh’ muncul Tjut Nyak Dien, dll. Mereka memang berjahuan, namun disatukan oleh cita-cita yang sama, membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan.
Sejarah terus berjalan, tidak ada satupun yang bisa menghalanginya, seperti halnya tidak ada yang bisa menghalangi matahari akan terbit dari ufuk Timur, begitu juga dengan gerakan perempuan, terus berjalan sesuai dengan jamannya. Organisasi perempuan mulai tumbuh dan menyebar, ibarat cendawan yang tumbuh dimusim hujan. Suasana negeri jajahan seperti Indonesia dimana semangat nasionalisme mulai tumbuh, telah menjadi ‘penyubur’ bagi tumbuh dan berkembannya gerakan perempuan. “Benih itu ditanam pada lahan yang subur”. Tidak mengherankan kalau memasuki awal abad ke-20, mulailah berdiri organisasi perempuan modern. Tahun 1912 lahirlah organisasi perempuan Putri Merdika . Setelah organisasi ini berdiri, bermunculanlah organisasi perempuan yang lain. Di Garut pada tahun 1920 berdiri Wanodyo Oetomo, sementara itu pada tahun 1925 berdiri Puteri Serikat Isalam, dll. Mungkin ada sedikit yang menarik disekitar tahun 1940, yaitu tentang berdirinya serikat buruh perempuan. Situasi kemudian berubah ketika Jepang menggantikan Belanda menjajah Indonesia, semua organisasi perempuan yang ada dibubarkan, hanya ada satu organisasi perempuan yaitu Fujinkai Jawa Hokokai. Memang masa-masa ini merupakan masa paling menyakitkan bagi perempuan Indonesia, kadang sebuah ketragisan harus kita terima. Harkat perempuan telah direndahkan lebih rendah hewan, dijadikan pemuas nafsu tentara Jepang yang terkenal fasis itu. Sampailah kemudian pada masa kemerdekaan. Kembali perempuan Indonesia terlibat dalam usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan dengan bergabung dengan laskar-laskar rakyat.
Dari gambaran diatas, ada tiga hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, mulai tumbuh kesadaran bahwa keadaan perempuan sangat terbelakang dan tertindas. Mereka mulai sadar bahwa posisi mereka hanya sebagai ‘manusia kedua’ setelah laki-laki. Kesadaran ini tidak bisa terlepas dari pengaruh politik ethis sehingga banyak perempuan yang bisa mengeyam pendidikan dan akhirnya mereka tahu bahwa kondisi perempuan Indonesia berbeda dengan kondisi perempuan di Eropa. Kedua, mulai tumbuh kesadaran untuk berorganisasi sebagai wadah perjuangan. Memang harus diakui, secara ideologis, organisasi mereka belum begitu jelas, namun kesadaran untuk berorganisasi ini merupakan satu langkah maju. Ketiga, mereka juga terlibat dalam usaha-usaha untuk merebut ataupun mempertahankan kemerdekaan. Memang, peran mereka masih sebatas menjadi tenaga sukarelawan dari Palang Merah atau menjadi juru masak yang dibangun oleh laskar-laskar.
***
Marilah kita lanjutkan untuk membahas Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang mempunyai sejarah sendiri. Mungkin kemudian yang menjadi pertayaan, mengapa Gerwani harus kita kupas lebih jauh – baik secara politik, ideologi maupun organisasi? Pertama, secara ideologi, Gerwani mempunyai ideologi yang lain dari gerakan perempuan yang ada ketika itu. Ideologi mereka dapat dibilang ‘kiri’, gerakan Gerwani tidak hanya memperjuangkan kaumnya semata – kaum perempuan--, akan tetapi juga terlibat dalam dunia politik untuk mencapai tujuan pertama. Mereka melihat bahwa sistem yang adalah yang menyebabkan kaum perempuan tertindas dan terbelakang, maka tahap pertama, sistem yang menindas diubah terlebih dahulu. Kedua, sebagai konsekuensi dari yang pertama, mereka tidak bisa menjadi gerakan non-partisan tetapi harus menjadi gerakan yang partisan, artinya harus bergabung dengan partai politik tertentu. Dalam bahasa Saskia, Gerwani masuk dalam ‘keluarga komunis’ bersama BTI, SOBSI, Pemuda Rakyat, Lekra – yang berada di bawah naungan PKI. Ketiga, Gerwani, bersama ‘keluarga komunis’ yang lain menjadi korban dari tragedi kemanusian 30 September 1965. Ratusan anggota mereka dibunuh, dipenjarakan, sebagai ‘penyubur’ bagi tumbuhnya rejim baru. Sampai saat ini tragedi kemanusian yang kemudian populer dengan G 30 S ini belum terkuak. Dan kemudian menjadi tugas kita untuk menyelesaikan persolan ini setuntas-tuntasnya, siapa saja yang terlibat harus menerima ganjaranya.
Perkembangan Gerwani tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi-politik ketika massa setelah kemerdekaan. Dalam kurun waktu ini bangsa Indonesia secara bertubi-tubi mendapat ‘cobaan’ dari sejarah – dari Agresi Belanda I dan II, Provoksi Hatta kemudian meletus peristiwa Madiun dimana kaum komunis menjadi korban – sehingga dapat dikatakan secara ekonomi masih tersendat-sendat. Akan tetapi dalam politik agak berlainan, terjadi dinaminasi yang lauar biasa, secara bergantian ideologi yang ada sempat ‘memimpin’ negeri ini. Tidaklah mengherankan, ketika itu semua ideologi dari kanan sampai kiri boleh bersaing secara terbuka. Gerwani – yang sebelumnya Gerwis lahir dalam situasi seperti ini. Memang dapat dikatakan ideologi ‘kirilah’ yang banyak mewarnai organisasi ini. Gerwani merupakan kelanjutan dari Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang berdiri pada 4 Juni 1950. Memang pada awalnya organisasi ini bermacam-macam karakter ideologi, namun lama kelamaan perbedaan ini dapat dikikis sehingga menghasilkan organisasi dengan ideologi yang sama. Sejak awal didirikan, Gerwis tidak hanya bergerak pada program-program untuk kaum perempuan semeta, mereka juga terlibat aktif dalam berbagai aktifitas politik. Aktivitas politik mereka semisal, protes terhadap gerakan 17 Oktober 1952 yang dipimpin Nasution untuk mengkudeta Soekarno, perlawanan terhadap Darul Islam, dukungan terhadap aksi buruh, petani, mahasiswa. Kedekatan dengan ‘keluarga komunis’ yang lain semisal BTI juga bisa kita lihat sejak awal. Dapat kita ambil contoh dalam keterlibatan Gerwis dalam aksi-aksi di desa termasuk perjuangan berdarah 1951 bersama Panitia Penghapusan Tanah Partikelir di sekitar Semarang, dan perjuangan melawan Belanda yang memiliki tanah-tanah di Kendal. Dengan kaum buruh, mereka bekerja sama dengan Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri). Mereka melancarkan kampaye tentang hak-hak buruh perempuan, membantu menyelesaikan masalah perburuan dan perkawinan.
Gerwis yang kemudian berubah nama menjadi Gerwani adalah organisasi massa (ormas), sehingga siapa saja boleh menjadi anggota. Memang, sebagian besar anggota Gerwani adalah anggota PKI karena kedekatan mereka secara ideologis. Walaupun Gerwani adalah ormas, tetapi dalam mendidik kader-kadernya sangat ketat, mereka harus melalui beberapa tingkat pendidikan baik teori maupun pratek. Pendidikan kader Gerwani berisi empat hal: sejarah gerakan nasional, sejarah gerakan perempuan Indonesia, sejarah gerakan perempuan internasional, dan soal-soal Internasional.
Memasuki tahun 1960-an, Gerwani semakin condong ke ‘kiri’, mereka mendukung program-program Soekarno yang juga didukung oleh PKI. Dalam usaha untuk menyukseskan program pembebasan Irian Barat, Gerwani berusaha mendaftar perempuan-perempuan muda guna terlibat aktif dalam program tersebut. Dari sini semakin kelihatan, bahwa Gerwani bukan hanya sekedar gerakan perempuan ‘murni’ yang hanya memperjuangkan nasib kaumnya, tetapi juga semakin terlibat aktif dalam aktifitas politik dan bahkan dalam perjuangan bersenjata. Mereka juga terlibat aktif dalam kamapaye konfrontasi dengan Malaysia. Hal ini dapat kita lihat dari kampaye-kampaye anti imperialisme Inggris yang mereka lakukan. Bentuk aksipun juga bermacam-macam, semisal dalam mendukung nasionalisasi perusahan Caltex milik Ingris, Gerwani dan SOBSI bersama-sama mengorgasir pemogakan dengan tidak mau memasak dan membersihakan rumah majikan.
***
30 September 1965. Sebetulnya tidak ada yang istimewa pada hari itu, Jakarta seperti biasa, panas dan penuh dengan lalu lalang kendaraan. Namun, ditengah situasi yang tenang ini, ada kekuatan yang mulai bergerak, berkeliaran seperi ‘drakula malam’ yang mencari mangsanya. Kesesokan harinya, kegemparan itu terjadi, 7 jendral telah diculik oleh pasukan bersenjata dari rumah mereka masing-masing. Berita masih simpang siur seperti daun nyiur yang diterpa angin pantai, dimanakah para jendarl yang diculik itu? Apakah mereka masih hidup, atau sudah mati? 1 Oktober 1965, angin yang semula hanya sepoi-poi ini berubah mejadi badai topan ketika ditemukan 7 mayat para jendral di dalam sumur di tengah perkebunan karet Lobang Buaya, dekat lapangan terbang Halim Perdana Kusmua.
Tanggal 1 Oktober 1965, kantor Gerwani sepi, seperti yang diceritakan Sulami dalam biorgrafinya, Perempuan-Kebenaran dan Penjara:
Pagi tanggal 1 Oktober 1965 itu pun sepi; tidak orang lain kecuali kami yang tersebut diatas (seorang aktivis bagian terjemahan, dua orang sopir, seorang pegawai poliklinik anak “Melati”, dan dua pembantu rumah tangga –pen). Memang hari-hari biasa kesibukan luar biasa. Maklum Panitia Kongres Nasional Gerwani ada di situ.
Jam enam, salah seorang wakil ketua DPP datang dan secara mengejutkan memberitahukan bahwa dini hari tadi telah terjadi penculikan dan pembunuhan atas beberapa anggota Dewan Jendaral di Lobang Buaya, tempat latihan para Sukwan Pertahanan Rakyat, oleh perwira-perwira berpandangan maju. Katanya untuk menyelematkan Presiden Soekarno dari ancaman kup Dewan Jendral.
Peristiwa seputar 30 September memang serba gelap, apakah yang terjadi sesungguhnya belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, apa yang terjadi setelah peristiwa ini sungguh mengerikan. Pembantaian-pembantaian masal hampir terjadi dipelosok-pelosok wilayah negeri, khususnya yang menjadi basis PKI. Sungai-sungai telah berubah warnanya menjadi merah darah, penuh dengan bangkai-bangkai manusia yang tidak lengkap lagi bagian tubuhnya, kuburan-kuburan masal banyak digali untuk mengubur orang-orang yang dianggap PKI atau ‘keluarga komunis lainya’. Tidak kerkecuali disini para anggota dan simpatisan Gerwani. Organisasi ini disamping kedekatanya dengan PKI juga dianggap langsung terlibat dalam penyisaksaan yang berakhir dengan pembunuhan terhadap para jendral AD. Tersiar kabar bahwa Gerwani ada dilokasi tempat pembunuhan para Jendral, Lobang Buaya, Jakarta. Memang ada beberapa anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat yang ada dilokasi itu, tapi apakah benar mereka terlibat dalam penculikan dan pembunuhan para Jendral? Marilah kita lihat lebih jernih.
Seperti yang kita ketahui, tiga tahun sebelum G 30 S terjadi konfrontasi antara pemerintah Malaysia dan Indonesia. Sengketa ini berawal ketika Inggris hendak memasukkan Serawak, Sabah dan Brunai bersama dengan menteri Persekutuan Tanah Melayu sebagai embrio untuk membentuk negara baru yaitu Malaysia. Perkembangan selanjutnya yang semakin memanas telah mendorong Soekarno untuk membentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Dari sinilah kemudian dibentuk sukarelawan untuk ‘menyukseskan’ program Soekarno tersebut, dan salah satu elemen dari sukarelawan Dwikora ini berasal dari Gerwani dan Pemuda Rakyat. Lebih lanjut, Siregar dalam bukunya Holokaus: sebuah tragedi manusia dan kemanusian, menuliskan:
Kehadiran Pemuda Rakyat dan Gerwani di Halim dan Lubang Buaya adalah selaku sukarelawan-sukarelawati. Keberadaan mereka disana bukan atas perintah Aidit atau PKI, tapi karena panggilan Dwikora yang diserukan oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Mereka dilatih secara militer, diindoktrinasi secara politik dan dipersenjai tidak oleh organisasi mereka masing-masing atau PKI, tetapi oleh aparat resmi negara, personil Angkatan Udara…..
Sedangkan seputar adanya orang-orang Gerwani yang melakukan tarian telanjang sambil mengiringi penyikasaan para Jendral ada kisah yang dituliskan oleh Saskia, dalam bukunya Penghancuran Terhadap Gerakan Perempuan Indonesia:
….Pagi-pagi jam sembilan saya ditangkap, dan diatahan dua minggu. Saya dipukuli dan diintrograsi. Mereka memaksa kami membuka pakaian, dan menari-nari telanjang di depan mereka, sementara yang lain mengambil foto kami. Lalu foto-fota itu disiarkan…..(interviu 22)
Sementara cerita lain diungkapkan oleh Sulami:
…. Seorang pelacur dari Kota Paris (Senen) Jakarta, buta huruf, ditangkap patroli militer tengah malam dekat Jatinegara karena tanpa KTP. Dia menyetujui berita acara karangan pemerikasa, yang menyatakan bahwa ia adalah anggota pengurus Gerwani Jakarta. Dalam berita acara itu ia mengaku berada di Lobang Buaya. Tugasnya memberikan konsumsi seks kepada 200 orang tentara pemberontak. Ia bubuhkan jap jempolnya karena takut bedil…….
Itulah kisah seputar Gerwani dan peristiwa 30 September 1965. Memang sebuah kisah kelam dalam perjalan sebuah gerakan perempuan untuk membebaskan kaumnya dan rakyat yang tertindas dari sistem dunia yang hanya menguntungkan oleh pemilik modal. Tidak untuk ditangisi apa yang terjadi, melainkan untuk dipelajari agar kita tidak membuat ‘luka’ baru yang memang menyakitkan. Bukan untuk disesali apa yang terjadi, tapi dijadikan pelajaran untuk merenda sejarah masa depan yang lebih gilang gemilang. Sejarah akan terus berjalan sesuai dengan hukumnya sendiri, dan disitulah kita berperan sebagai manusia untuk menjalankan tugas kemanusian. Seperti hanya kata Multatuli, ‘kita bersuka cita bukan karena padi yang kita potong, kita bersuka cita karena padi yang kita tanam’. Sekarang marilah kita dengan menegakkan kepala melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Setelah Gelap Terbitlah Terang
Marilah sekarang kita menuju masa depan yang lebih cerah. Setelah penghancuran terhadap gerakan perempuan progresif, Gerwani, hampir dapat dikatakan gerakan perempuan Indonesia ‘mati suri’. Rejim Orde Baru yang kapitalistik-militeristik membubarkan semua organisasi progresif, organisasi perempuan yang ada hanya yang menjadi boneka dari rejim yang ada. Hampir sama yang dilakukan Jepang ketika pertama kali masuk ke Indonesia, hanya ada satu organisasi perempuan Fujinkai Jawa Hokokai. Sedangkan Orba memiliki Darma Wanita dan PKK. Lumpuh sudah gerakan perempuan Indonesia untuk sementara waktu.
Tapi sejarah terus bergerak, begitu juga gerakan perempuan. Fisik memang boleh direpresif tapi siapa bisa ‘mempenjarakan’ kemauan dan cita-cita. Memasuki tahun 1980, teori-teori tentang gerakan perempuan progresif kembali dipelajari oleh aktivis-aktivis gerakan yang ada ketika itu. Hal ini bersamaan dengan demam teori kiri yang masuk ke Indonesia setelah pembungkaman gerakan mahasiswa ’78. Pada masa-masa ini yang banyak berkembang adalah adalah kelompok-kelompok diskusi, maklumlah, saat itu situasi represif. Situasi ketika itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Demoralisasi. Bisa dikatakan demikian. Kembali ke dunia akademik --mengajar, berbangku kuliah lagi, belajar ke luar negeri, -- membentuk NGOs (perlu diketahui saja pada tahun 1982 sudah ada ribuan NGO), berbisnis, berkolaborasi dengan rejim dan sebagainya. Lahirlah bayi-bayi kiri yang dicampakkan ibunya pada usia muda: NGO menjajakan kemanusiaan borjuis-kecil --mengemis reformasi ekonomi-politik pada rejim diktator/korup, bahkan ada yang masih bermimpi membangun pulau impian di tengah modal raksasa-- kaum sekolahan yang baru pulang belajar dari luar negeri mengajarkan --di tengah kemampuan bahasa Inggris kaum muda yang menyedihkan-- teori-teori baru sosial-demokrasi, neo-marxis, new-left….
Dalam kurun waktu ini memang kelompok-kelompok diskusi yang banyak bermunculan. Dari sinilah kembali wacana tentang gerakan perempuan (feminisme) kembali dibangkitkan. Kini, ditengah suasa yang lebih demokratis, gerakan perempuan telah berani menampilkan ‘wajah’ mereka yang sesungguhnya, memang masih ‘kemerah-merahan’ karena baru ‘lahir’ kembali. Memang kadang terjadi kejanggalan dan kelatahan, secara ideologipun harus diakuai masih sangat memprihatinkan. Tidak mengherankan kalau kemudian dapat kita temukan kegelian-kegelian, semisal pengusiran wartawan laki-laki yang meliput konggres mereka. Begitu juga aktivitasnya, sebagian besar melakukan seminar-seminar di hotel berbintang yang hanya bisa dihadiri oleh golongan menengah ke atas. Atau mereka pergi ke kampung-kampung kumuh, memberikan beberapa bungkusan yang berisi lauk pauk, beras dan pakaian. Juga bisa kita temukan ketika mereka memberikan pelatihan kepada pelacur yang telah dibebaskan ‘dari lembah hitam’ dan karena tidak memecahkan persoalan pokok akhirnya pelacur lebih senang hidup di ‘lembah hitam’. Haruslah diakui, gerakan perempuan saat ini masih banyak berkutat pada gerakan sosial, kemanusian, belum kembali berani menyentuh bidang politik seperti yang dilakukan Gerwani puluhan tahun silam. Apa yang harus dilakukan oleh gerakan perempuan saat ini?
Pertama, secara ideologi harus kembali dibuka perdebatan, apakah yang dipakai selama ini sudah tepat atau belum. Kita haruslah mencari persoalan utama kenapa perempuan mengalami penindasan. Apakah hanya sekedar dominasi laki-laki atau ada sebab lain? Apa bila kita cermati lebih mendalam, perempuan mengalami peninadasan karena adanya sistem dunia yang juga menindas, ketika alat produksi dikuasi oleh segelintir orang. Ketika dahulu kala alat produksi masih dimiliki oleh kolektif, peranan perempuan sangat menonjol. Merekalah yang menghasilkan produksi barang-barang untuk kebutuhan sendiri, maupun masyarakat disekitarnya, sedangkan peranan laki-laki lebih di luar rumah dengan melakukan kerja berburu binatang di hutan. Dari sini seharusnya jelas, bahwa tujuan gerakan perempuan tidak hanya menuntut kesejajaran antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga menghilangkan sistem dunia yang menghisap.
Kedua, secara politik. Gerakan perempuan harus kembali memasukkan program politik disamping program yang menyakut kepentingan mereka sendiri. Karena apa? Tanpa mereka terlibat dalam gerakan politik mereka tetap tidak akan berperan dalam pengambilan keputusan negara. Disamping itu, gerakan perempuan juga mempunyai kepentingan agar demokrasi di negeri ini bisa berjalan sepenuh-penuhnya. Misalnya dalam hal Dwi Fungsi ABRI, selama ini, sebelum dicabut maka demokrasi akan tetap berjalan secara tersendat-sendat. Sejarah juga mencatat, karena adanya Dwi Fungsi ABRI lah perempuan menjadi korban kekerasan – dari Timtim, Aceh, Lampung, Marsinah, Tanjung Priok, Marsinah, Kerusuhan Mei ’98 – dari tentara. Mungkin salah satu program politik yang harus kita cermati adalah tentang usulan Gus Dur tentang pencabutan Tap MPRS No XXV/MPRS/1966. Tap MPRS inilah yang menyebabkan trauma berkepanjangan bagi bangsa Indonesia dan juga legitimasi pada awal pemerintahan Orba untuk melakukan penghancuran dan pembantaian, termasuk terhadap gerakan perempuan progresif, didalamya terdapat Gerwani. Juga hal yang penting, sebelum Tap ini dicabut kita akan kesulitan untuk membuka apa sebenarnya yang terjadi ketika itu, kita juga akan kesulitan untuk mengadili orang-orang terlibat dalam pembantaian.
Ketiga, secara organisasi. Tanpa sebuah organsiasi perjuangan akan mustahil menuju kemenangannya. Harus diakui sampai saat ini belum ada gerakan perempuan bersekala nasional, yang ada hanya gerakan perempuan lokal, itupun masih dengan ‘isi kepala’ yang berbeda-beda, sehingga gerakan yang ada masih terpecah-pecah. Watak organisasinyapun juga tidak boleh sektarian, dalam artian harus terlibat aktif dengan gerakan sektor rakyat tertindas lainya – buruh, tani, kaum miskin perkotaan, mahasiswa. Sekali lagi haruslah dipahami bahwa masalah penindasan terhadap perempuan, bukan masalah perempuan semata, tapi juga masalah dari rakyat tertindas lainya. Juga harus menjadi kesadaran, sudah saatnya membangun jaringan dengan gerakan perempuan yang ada di negara lain, apa yang dirasakan perempuan di Indonesia juga dirasakan oleh perempuan di negara lain.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita memulainya. Tidak ada kata lain, bersama bergerak membebaskan negeri ini dari keterindasan. Jangan sampai kita menyesal kemudian hari, penyesalan memang datang kemudian.(rgl).
Kebangkitan abad pencerahan, kepeloporan Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet di Middelburg, Belanda, membentuk perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan, mendorong perhatian dunia terhadap feminisme menjelang abad 19. Perempuan-perempuan Eropa mulai mengkampanyekan Universal Sisterhood. Pergerakan perjuangan perempuan yang semula berpusat di Eropa pun kemudian berpindah ke Amerika Serikat dan berkembang pesat sejak terbitnya karya John Stuart Mill yang berjudul The Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka inilah yang menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
Gerakan Feminisme dibagi ke dalam dua fase yaitu:
1. Fase Gelombang Pertama
Gerakan perempuan untuk menuntut hak pilih di Amerika dan di Inggris pada tahun 1890 dan 1920.Feminisme gelombang pertama mewakili feminisme terorganisir dengan penekanan pada reformasi pada hukum keluarga dan peluang ekonomi.
2. Fase Gelombang Kedua
Feminisme gelombang kedua mempunyai komitmen untuk memperluas egalitarrianisme secara radikal berdasarkan atas pemahaman terhadap ketertindasan dan ketidakadilan jender. Feminisme gelombang kedua merupakan transformasi radikal, dan bertujuan untuk menciptakan dunia yang difeminiskan.
Untuk Penjelasan Rinci Download File Wordnya.
Pandangan masyarakat akan seksualitas tubuh perempuan sangat ditentukan oleh pemahaman masyarakat mengenai seksualitas itu sendiri. Dalam pemahaman yang tradisionalis, seksualitas sering diartikan secara sempit yaitu sebagai dorongan insting yang harus dipenuhi lewat aktivitas seksual. Seksualitas hanya dihubungkan dengan fungsi reproduksi. Hal ini akan menimbulkan ketimpangan gender, posisi perempuan dalam aktivitas seksual hanya akan dipandang sebagai kemampuannya untuk bereproduksi dan melahirkan. Hal ini, akan mereduksi hak-hak asasi manusia, karena perempuan hanya akan dipandang sebagai manusia ketika ia mampu menjalankan fungsi sebagai mesin reproduksi.
Seksualitas dalam dimensi sosial harus dipahami secara lebih maju, yaitu merupakan cara merespons atau bereaksi terhadap situasi dengan pikiran, ekspresi dan kepribadian yang termasuk di dalamnya adalah spiritualitas. Pemahaman terhadap setiap manusia termasuk perempuan di dalamnya untuk mengaktualisasikan dirinya, lepas dari tekanan-tekanan yang mereduksi hak asasi manusia setiap orang.
Untuk Materi Lengkapnya Silahkan Download File wordnya di bawah :
Ttitisan hasrat untuk dunia dan surga neraka rakitan, segenggam harapan yang membakar!
"Mereka mengabaikan nyanyian dan barisan demonstrasi kita, tapi dapatkah mereka mengabaikan batu dan bata? Inilah saatnya untuk melakukan sesuatu lebih daripada sekadar bicara saat mereka telah mengabaikan aksi demonstrasi damai!" — Aus Rotten, They Ignore Peaceful Protest Mimpi dan khayalan merupakan pupuk dari perubahan sosial. Dunia memang berubah; dan akan terus berubah karena orang-orang membuatnya berubah. Kunci menuju keberhasilan suatu perubahan adalah solidaritas; yang dapat berarti apapun dari sekadar menjadi tempat curhat hingga memberikan amunisi.
Solidaritas adalah sesuatu yang kuat, komunitas yang bersatu, menarik garis dari masa lalu tentang berbagi pengalaman dan mengalami kesulitan, memapankan jaringan kontak dari berbagai individu ataupun organisasi dan mendukung semua tindakan melawan ketidakadilan dan penindasan. Sejarah ada di sisi kita; kita bisa dan akan mempunyai harapan untuk menang.Aksi langsung (direct action) adalah berarti juga memilih pola independen dengan secara langsung menghadapi masalah yang ada di hadapan kita tanpa harus melemparkan masalah pada orang lain ataupun meminta ijin terlebih dahulu dari politisi, birokrat atau semua pecundang yang duduk di kursi kekuasaan..
Ini juga berarti berjuang untuk mengontrol hidup kita sendiri dan berusaha untuk secara langsung memberikan efek pada dunia di sekeliling kita, mengambil tanggung jawab untuk setiap aksi yang kita lakukan dan definisikan sendiri. Aksi langsung telah menjadi bagian integral dari resistensi semenjak manusia ada. Iklim politik pemerintahan melihat aksi langsung sebagai sebuah bentuk taktik protes yang cepat meraih popularitas, dan saat ini pemerintah semakin mahir dalam menangani para pembangkang. Negara dipersenjatai penuh, diproteksi dan telah terbukti berhasil mengubur siapapun yang tidak setuju dengan keputusan mereka.
Lihat pula keberhasilan mereka dalam memutarbalikan fakta, seperti selalu menyalahkan kekerasan, termasuk penghancuran properti, kepada diri kita. Dalam tatanan masyarakat modern, dijalankan sebuah sistem dimana segala bentuk protes dan ketidaksetujuan harus ditampung melalui representatif negara dahulu sebelum diperdengarkan. Dan hasil yang selalu kita dapatkan apabila menyampaikan keluhan kita melalui representatif negara hanyalah satu: aksi demonstrasi di jalanan yang kita organisir diabaikan, tidak ada media massa yang akan meliput dan menaikkan isu yang kita bawa, dan barisan polisi maupun militer telah siap mengganyang kita.
Demokrasi telah membuat kekuatan perubahan terlepas dari tangan kita. Suara protes secara hati-hati dikontrol: semua jalan diserahkan pada para birokrat dan politisi untuk menentukan mana yang benar dan salah. Kekuatan kita semakin tereduksi dan semua yang kita harapkan boleh kita utarakan hanya melalui kotak pemilihan suara yang disodorkan kepada kita setiap lima tahun sekali. Kita, yang tinggal di negara miskin (definisi negara berkembang hanyalah perhalusan dari kata negara miskin) hidup seperti kecoa dan tikus got.
Sistem yang diterapkan oleh kapitalisme telah sedemikian kuat. Kita didorong untuk mengonsumsi apapun yang ditawarkan sekeliling kita. Jadi apa yang perlu diprotes? Diri kita sendiri. Memang menyedihkan saat menyadari bahwa ancaman terbesar yang dihadapi planet ini adalah spesies manusia.
Pengeksploitasian manusia, binatang dan sumber daya alam masih terjadi di seluruh dunia, alasan tindakan tersebut adalah diperlukannya profit demi membiayai gaya hidup mewah kita sehari- hari. Lebih dari 80% populasi dunia saat ini tinggal dalam kondisi kemiskinan yang parah dan semuanya bermimpi untuk hidup mewah, namun mereka tak mampu dan bumi tidak memiliki cukup sumber daya alam untuk mendukung impian ini.
Faktanya, sumber daya alam bumi dengan cepat dihabiskan hanya untuk mendukung gaya hidup mewah segelintir manusia yang tinggal di negara dunia pertama, para pemerintah serta konglomerat di seluruh dunia. Selain segelintir manusia tersebut? Semua hidup dalam dunia fantasi yang haus untuk mengonsumsi. Kita hidup di dunia yang memiliki begitu banyak produk, tetapi harga yang harus dibayar adalah pembantaian massal melalui pemiskinan. Saat berlangsung protes anti-WTO beberapa waktu lalu, seorang petani asal Karnataka, India, mengatakan,
"Kami tidak ingin amal dan belas kasihmu semua. Mereka yang tinggal di utara seharusnya dapat mengerti perjuangan kami dan menyadari bahwa ini adalah juga bagian dari hidup mereka. Dimana-mana yang kaya selalu bertambah kaya, yang miskin semakin miskin dan lingkungan semakin mendekati kiamat. Tidak peduli dimana kita tinggal, di belahan bumi utara atau selatan, kita telah menghadapi masa depan yang sama. Globalisasi seharusnya berarti bahwa kita ingin mengglobalkan kemakmuran masyarakat dunia, bukan mengglobalkan bisnis. Karena hidup bukanlah sebuah bisnis!.
Negara dunia ketiga hidup dari sampah, limbah dan sekarat atas kerakusan mereka yang hidup di negara dunia pertama. Perjuangan yang dilakukan oleh kita yang hidup di negara dunia ketiga bukanlah sekadar perjuangan melawan dominasi korporasi multinasional ataupun rezim diktator dan militer, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup. Gerakan resistensi anti-globalisasi di India, Afrika dan Amerika Latin sangat besar dan itu diinisiasikan demi mengambil alih kontrol atas diri mereka sendiri.
Apakah kita bisa menyamakan gerakan tersebut dengan gerakan mereka yang ada di negara dunia pertama? Di Meksiko, pada tahun baru 1994, kelompok Zapatista membebaskan daerah Chiapas dan menjadikannya daerah otonom bagi kaum Indian agar terlepas dari sistem eksploitatif yang dipaksakan oleh para kapital dari negara dunia pertama kepada mereka. Perempuan dan anak-anak, telah mengangkat senjata untuk melindungi diri mereka dari dominasi kulit putih yang tinggal di negara dunia pertama.
"Dunia kita eksis hanya sebatas sejauh telepon kita dapat berhubungan, mobil kita dapat lalui, modem kita dapat koneksi, dan televisi kita dapat tayangkan." — His Hero is Gone Zombi-zombi konsumen itu adalah dirimu dan diriku, adalah sesuatu yang sangat vital dalam memperkuat ataupun memperlemah mata rantai dari eksploitasi global ini. Kita sangatlah rapuh, tapi kita dapat mengubah pola pikir kita, kita dapat mengikuti ataupun menolak budaya konsumtif; jaringan swakelola ini adalah milik kita, kita mempunyai pilihan disini, kita dapat mengatakan ya ataupun tidak, kita dapat memutuskan mata rantai ini, kita dapat menghancurkan mata rantai ini walaupun hanya sebagian kecilnya, tapi kita mampu. Sebab kata- kata tanpa aksi adalah bohong.
"Ini adalah ajakan untuk menghentikan dan berpikir tentang apa yang para penjual katakan tentangmu, dan dunia dimana selama ini kamu hidup di dalamnya. Sebab kamu adalah apa yang kamu konsumsi." — A//Political, You are What You Consume Boikot adalah menolak untuk berhubungan atau melakukan pertukaran dalam usaha untuk melemahkan atau menghancurkan sesuatu.
Sangat simpel, gunakan kekuatanmu, jangan beli kebohongan dan produk mereka, cari alternatifnya. Jangan pernah percaya kepada para kapital yang selalu berpura- pura peduli kepada konsumen (seperti McDonald's dan Body Shop). Mesin yang dijalankan kapitalisme berputar terus menerus sedangkan untuk menghentikannya bukan pada masalah hasil produksinya tetapi mentalitas dibalik produk tersebutlah yang harus dihancurkan. Untuk membuat perubahan nyata pada gaya hidup kita yang konsumtif berarti juga membuka ruang-ruang untuk memikirkan kembali seluruh hidup kita, tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita bereaksi,
berkomunikasi, hubungan sosial kita, kerja kita, berapa banyak kebohongan dan kepalsuan yang telah kita ambil. Ini adalah sebuah revolusi dalam diri kita sendiri; ini adalah tentang pengambilalihan kontrol, mengklaim kembali kekuatan sebagai seorang individu. Ini adalah tongkat penyangga bagi resistensi kita melawan kapitalisme. "Semakin banyak kamu mengonsumsi,
semakin berkurang kamu hidup." — Angry Brigade Kita perlu bergerak lebih jauh daripada hanya sekadar mengonsumsi produk ramah lingkungan seperti yang dikampanyekan oleh Greenpeace ataupun grup-grup pencinta lingkungan sebagai alternatif bagi konsumen, kita harus melihat kepada sistem kapitalisme dan efek globalisasi sebagai akar dari banyak sekali permasalahan di dunia, mulai dari kepunahan spesies,
eksploitasi pekerja hingga perang. Korporasi multinasional adalah wajah buruk dari ketiadaan batas dari operasi kapitalisme. Mereka bebas menjelajahi dunia demi penyedotan sumber daya alam, pemanfaatan buruh murah dan manipulasi hukum perlindungan lingkungan. Perjuangan demi hidup yang menyenangkan, demi upah yang mencukupi, kesehatan dan keamanan masih sangat jauh dari selesai. Kita juga harus berpikir secara global: mengapa harus membuat sepatu di Amerika di saat Nike dapat menggunakan buruh- buruh upah rendah di Indonesia dan melipatgandakan profit bagi perusahaan?
Ekonomi mereka sudah sangat mengglobal, begitu juga seharusnya resistensi kita. Pemerintah tidak akan pernah melakukan apapun dalam berhadapan dengan perkembangan korporasi. Ini semua terserah kepada kita sendiri untuk menghentikan lingkaran roda eksploitasi ini. Kita harus melenyapkannya dengan diri kita sendiri, memboikot sistem mereka yang tidak adil dan tidak merata.
Ini saatnya untuk bergerak jauh melampaui sekadar produk dari korporasi. Perhatikan lagi semua kejadian yang ada di sekitar kita, hal tersebut dapat membantu kita fokus pada kemarahan kita dan begitu banyak isu yang dibawa oleh kelompok-kelompok faksional. Aksi anti- WTO N30 dan MayDay 2000 telah memperlihatkan kepada kita semua bagaimana berbagai macam organisasi, perserikatan, aktivis HAM, environmentalis, beraksi bersama di jalanan dalam menyerang musuh bersama mereka yang sesungguhnya: kapitalisme. Tapi ingat, kapitalisme adalah juga mengenai diri kita sendiri dan bagaimana cara kita bersosialisasi dengan individu lainnya.
Kapitalisme jauh lebih besar dan kuat daripada sekadar taraf level Nike ataupun McDonald's sebagai contohnya, tetapi kapitalisme juga berarti masalah Dunia Baru, kios-kios rokok besar atau kecil, kapitalisme adalah tentang bagaimana para pekerja menjual diri mereka dalam sebuah hubungan yang eksploitatif. "Tetaplah jadi parasit, atau jadilah pejuang bumi." — Kapten Paul Watson, Sea Shepherd Segala sesuatunya bermula dari diri kita sendiri. Jika kamu sedang berlari untuk menyelamatkan hidupmu dan seorang polisi berteriak "Stop!", akankah kamu berhenti?
Pemerintah merepresentasikan kekuatan uang, bukan kekuatan rakyat, bukan kekuatan bumi dan selama ini kekuatan itulah yang selalu kita dukung dan kita beri kekuatan lebih. Pemerintah adalah satu-satunya sumber yang tak dapat dipercaya untuk memberikan keadilan kepada rakyatnya kecuali atas kepentingan pribadinya sendiri. Kita tidak perlu merasa berhutang pada pemerintah, mereka menjadi makmur atas pajak yang kita bayar (dengan dibawah ancaman). Marahlah, karena ini dunia kita! Berpikirlah tentang flora dan fauna sebanyak 20.000 spesies yang terancam punah setiap tahunnya; anak- anak kecil di Cina yang harus bekerja keras untuk membuat mainan yang kita utak-atik setiap harinya; buruh-buruh yang kesakitan dan kelelahan memproduksi sepatu yang kita kenakan.
Garis batas antara legal dan ilegal harus kita hapuskan. Saat ketidakadilan menjadi sebuah hukum, maka resistensi menjadi tugas kita. Sebab kita mempunyai kewajiban untuk melindungi bumi yang telah menghidupi kita beserta generasi mendatang. Penghancuran alam adalah sebuah kejahatan yang tak pernah tercatat sepanjang sejarah manusia, dan hal inilah yang menuntut sebuah gerakan resistensi dari diri kita semua. Kita tidak perlu menunggu krisis kapitalisme, yang kita tahu bahwa hal tersebut sudah lewat dan entah kapan akan datang lagi. Tidak ada waktu untuk mengabdikan diri kita kepada sistem, tak ada waktu untuk memikirkan reformasi, karena setiap waktu yang kita miliki selalu tercuri oleh mereka setiap ada kemajuan ekonomi.
Kita harus mengklaim kembali hidup kita, bukan sekadar mengganti produk yang kita gunakan. Kuatkan dirimu, berhentilah menjadi bagian dari sistem eksploitatif ini dan fokuskan kemarahanmu! Angry Brigade, RAF, 1st Of May, IRA, Weathermen, Black September, Dutch Provo dan lain sebagainya, semuanya melakukan pengeboman dan kampanye teror selama 1970-an. ALF mengampanyekan pembebasan binatang, mereka adalah sedikit dari contoh dimana agenda operasionalnya adalah bentuk aksi langsung dan pemerintah melihatnya sebagai aksi kriminalitas; tetapi hal-hal tersebut pulalah yang menjadi fondasi bagi para aktivis di seluruh dunia untuk mulai melakukan aksi-aksi langsung apapun bentuknya. Grup-grup dengan isu tunggal seperti environmentalis, anti- rasis, serikat buruh, yang secara tradisional bergerak seperti kelompok reformis, saat ini sudah mulai menerapkan politik revolusioner dalam pola gerakannya. Sayangnya.
Di Indonesia hal ini belum biasa karena politik dan revolusi masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu dan hanya bagian dari rutinitas para politisi dan birokrat. "Banyak aktivis yang saat ini menciptakan konektivitas antara perjuangannya dengan mereka yang berada di komunitas kelas pekerja." — Jurnal anarkis Do Or Die #6 Dan itu semuanya yang seharusnya dapat kita lakukan, saat semua sibuk berpikir soal penyusunan undang- undang, atau memikirkan soal mencari pemerintah yang lebih baik; globalisasi telah melanda hampir semua gerakan protes. Gambaran yang besar beserta solusinya sekarang telah tampak sangat jelas. Ribuan kelompok anti- kapitalis telah mulai berkembang dimana- mana di muka bumi ini.
Lalu, apa yang mereka lakukan? Mereka menandatangani petisi dan pergi menuju aksi-aksi demonstrasi, mereka berpikir mengenai gaya hidup mereka, aksi mereka dan efeknya; sebagian lainnya menghancurkan mesin-mesin milik korporasi, menghancurkan properti; mereka mempertanyakan segalanya, mereka membangun alternatifnya, mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri, mereka menghapus batasan yang ditetapkan pemerintah, mereka menolak pemerintah dan beraksi langsung untuk mengubah kondisi dunia tempat mereka tinggal. Pendeknya, mereka meresikokan segalanya demi kehidupan yang lebih layak.
Tanyakan pada dirimu sendiri, siapa audiens kita? Apa pesan kita? Apakah ini adalah taktik terbaik yang dapat kita lakukan saat ini? Apa tujuan kita? Dan akhirnya, sejauh mana kesiapan kita untuk melakukannya? Tetapi sebelum melancarkan aksi kita, selalu ingat bahwa kita juga perlu untuk mengubah diri kita sendiri, merombak pola pikir dan pola pandang kita serta cara kita bersosialisasi dalam hidup keseharian. Segala macam aksi adalah valid, tetapi menciptakan aksimu sendiri adalah sebuah sebuah langkah radikal kecil menuju dunia yang berbeda.
Tanpa visi ini, aksi langsungmenjadi tak berarti sama sekali. Jika kita hanya fokus pada aksinya saja maka kita akan terjebak ke dalam sebuah gerakan yang reaksioner dan tidak mendasar sama sekali, sebuah gerakan yang sama sekali kebingungan akan siapa yang harus dilawan. Visi ini sudah barang tentu: revolusi! "Jangan pernah tergantung pada pemerintah atau institusi apapun untuk menciptakan perubahan. Semua perubahan sosial yang signifikan sepanjang sejarah manusia telah dilakukan oleh aksi- aksi individu." — Margaret Mead "Dunia ini sedang berada dalam masa- masa depresi, tetapi harapan dapat ditemukan dalam diri mereka yang bisa, berani dan beraksi." — Dave Foreman Seorang aktivis di Jakarta bertanya kepada manajer pemasaran dari Nestle tentang bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh kampanye boikot.
Jawabannya adalah, "Tentu saja ada. Setiap seorang konsumen datang ke sebuah toko dan membuat keputusan untuk tidak membeli salah satu dari produk kami, hal itu sangat menyakitkan.
" Lihat, kamu dapat menciptakan sebuah perubahan! Tetapi sebagian juga berpendapat bahwa daripada kita mengampanyekan boikot, mengapa kita tidak mengampanyekan pencurian, perampokan atau pembajakan produk? Karena alangkah sulit untuk melepaskan diri dari kekangan dan jebakan sistem konsumtif ini. Memang kadang taktik-taktik tertentu tidak sesuai dengan diri maupun pola pandang kita. Tetapi itu semua terserah kepada dirimu dan diriku sendiri untuk memutuskan dan memilih taktik.
Penghancuran properti dan vandalisme, dianggap sebagai sebuah bentuk kekerasan dalam kacamata sistem ataupun moralis yang hipokrit. Mereka selalu mengampanyekan bahwa penghancuran properti hanya akan menyulut kekerasan negara sebagai reaksi terhadap tindakan tersebut. Kenapa? Karena properti adalah tulang punggung kapitalisme yang sangat lemah dan tak dapat mempertahankan dirinya sendiri; kapitalisme juga berawal dari kepemilikan alat produksi dan properti, mereka mendewakan properti.
Dan itulah yang paling mudah kita serang. Jadi, hancurkan sehancur- hancurnya! "Mereka khawatir dengan beberapa kaca jendela yang kami pecahkan. Seharusnya mereka datang dan melihat sendiri bagaimana berbagai macam kekerasan telah dilakukan kepada komunitas kami atas nama perdagangan bebas." — Seorang aktivis Meksiko Jadi, tunggu apalagi kawan?
Dalam setiap aktivitas yang mendorong peristiwa perubahan kapan dan
dimanapun kaum muda selalu menjadi faktor penentu bagi berlangsungnya
proses perubahan itu sendiri. namun yang senantiasa terjadi, merekalah
yang paling dulu ditinggalkan, dilupakan. atau menjadi pihak yang tidak
perlu lagi didengarkan. sehingga jika kemudian ada yang dikenang,, maka
tak lebih dari sekedar penghargaan alakadarnya bagi mereka yang menjadi
korban. Tanpa bermaksud untuk memprovokasi dengan sejumlah gugatan, kita
masih bisa mencatatnya dengan baik. dihampir seluruh peristiwa
perubahan, bermula dari upaya yang digelorakan kaum muda. mereka
berdiskusi, mereka mengkritisi situasi, mereka meneruskan agenda aksi,
mereka mengorganisir gagasan dan cita-cita perubahan dengan berbagai
demonstrasi. parlemen diduduki. kebobrokan kekuasan mereka bongkar dan
berlembar-lembar tuntutan menjadi alat tawar menawar kekuasan. lalu?
Disamping ratusan korban berjatuhan akibat upaya kekuasan melalui jalan
kekerasan, mengembanglah kesadaran politik dikalangan masyarakat,
tumbuhlah solidaritas, terjalinlah kebersamaan untuk berjuang. lalu
berhitunglah setiap kekuasan untuk memilh jalan tumbang paling aman. dan
disituasi inilah, gerakan perubahan yang sebelumnya kental dengan
format moral dan kultural, menjadi arena kepentingan dan
kompromi-kompromi politik. dan dititik inilah, sebuah proses perubahan
kemudian menuntut hadirnya aktor-aktor lain yantg mempunyai ketrampilan
memainkan logika-logika politik, dan yang jelas aktor itu bukan dari
kalangan kaum muda. Maka bagi kaum muda dimanapun, kesiapan untuk
dilupakan menjadi prasyarat utama pada saat memasuki arah perubahan.
pada saat kesadaaran dan kebangkitan politik rakyat sedang digelorakan,
mereka menjadi buronan.
Pada saat gerakan perubahan mendapat ancaman
kekerasan kekuasan, mereka menjadi korban paling depan. pada saat
perubahn berlangsung dan formasi kekuasan dikukuhkan, mereka berada
diluar untuk terus dilupakan. Maka seperti juga pernah diungkapkan oleh
salah satu tokoh dalam sebuah roman pulau buru karya Pramudya Ananta Toer,
bahwa hakekat pejuang bagi burung kedasih yang kesepian dan terus
menyeru dan terus-memanggil-manggil dari ketinggian. bagai burung
kedasih yang tak bersambut, seperti itulah pewarta kebenaran. Untuk itu
tidak ada yang perlu digugat dan dipersoalkan,
Meskipun darah belum
begitu kering disemanggi dan dibeberapa kota simpul gerakan reformasi.
meskipun teriakan tuntutan perubahan masih terngiang di udara hampa.
meskipun teror, intimidasi, penculikan, tindak-kekerasan, luka-lukanya
masih terasa nyeri dan tak tersembuhkan. meskipun sejumlah nyawa yang
melayang tak pernah jelas cerita ujung dan pangkalnya. meskipun berbagai
macam meskipun bisa kita jajar dan kita persoalkan, biarlah semua
menjadi bagian pilihan sejarah yang telah dengan sadar menjadi sikap
moral kaum muda, komitmen politik dan keteguhan kita untuk terus
berjuang, meski harus terlupakan, kesepian memanggil-manggil
diketinggian. Sehingga ditengah kontruksi negara yang terus
berbenah-benah (juga bagi-bagi kekuasan ini), ditengah gelora refomasi
yang disana-sini berpotensi untuk menjadi salah arah dan seterusnya dan
sebagainya, menghadang agenda mendasar yang penting untuk terus
dikedapankan. Dulu, pada saat orde baru berkuasa, sejumlah persoalan
menjadi pemicu bergeloranya gerak perubahan. ada korupsi, ada KKN, ada
kekerasan tentara, ada pengendalian, ada pemasungan, pemangkasan hingga
pemenjaraan aktivitas politik. ada buruh murah, ada penggusuran hak
rakyat, ada penahanan semena-mena, ada hukum kekuasan, ada kekuasan
berjalan tanpa kontrol dan pengawasan. ada kerusahan, ada pembantaian,
ada pelarangan dan penculikan. ada dan ada pokoknya ada Deh!
Pertanyan
kita kemudian, jika dijaman orde baru masalah-masalah tersebut mampu
merumuskan (dan terumuskan) menjadi musuh bersama kaum muda, apakah
kesemuanya kini hilang dari pemerintahan baru kita, jika sudah, ya
alhamdulilah ! jika belum ya alhamdulillah ! Karena kaum muda telah
cukup tertanam kesadaran dalam dirinya, bahwa sebagai faktor perubahan
hanya dua pilihan, menjadi korban atau terus berjuang untuk kemudian
dilupakan. Lantas Anda berada di Mana ……..?
Menolak Lupa
Realita sosial kadang datang menyentuh
sudut paling dalam di hati.
Saat anak-anak belajar di sekolah yang hampir
ambruk.
Saat orang tua mengais rezeki di
tumpukan-tumpukan sampah milik perusahaan.
Saat seorang anak tidur di pelukan
bundanya di emperen-emperan toko
kotaku.
Hati tersentuh, bahkan kadang cinta untuk
mu gadisku kalah dengan rasa pedih
mereka yang katanya tinggal di negara
yang kaya.
Negara yang kaya akan kemiskinan.
Kepada siapa aku harus mengeluh ?
Gadisku.....
Bangunkan aku dari mimpi buruk ini...
Bangunkan aku gadisku...
Bangunkan aku...!!!














