Dalam setiap aktivitas yang mendorong peristiwa perubahan kapan dan
dimanapun kaum muda selalu menjadi faktor penentu bagi berlangsungnya
proses perubahan itu sendiri. namun yang senantiasa terjadi, merekalah
yang paling dulu ditinggalkan, dilupakan. atau menjadi pihak yang tidak
perlu lagi didengarkan. sehingga jika kemudian ada yang dikenang,, maka
tak lebih dari sekedar penghargaan alakadarnya bagi mereka yang menjadi
korban. Tanpa bermaksud untuk memprovokasi dengan sejumlah gugatan, kita
masih bisa mencatatnya dengan baik. dihampir seluruh peristiwa
perubahan, bermula dari upaya yang digelorakan kaum muda. mereka
berdiskusi, mereka mengkritisi situasi, mereka meneruskan agenda aksi,
mereka mengorganisir gagasan dan cita-cita perubahan dengan berbagai
demonstrasi. parlemen diduduki. kebobrokan kekuasan mereka bongkar dan
berlembar-lembar tuntutan menjadi alat tawar menawar kekuasan. lalu?
Disamping ratusan korban berjatuhan akibat upaya kekuasan melalui jalan
kekerasan, mengembanglah kesadaran politik dikalangan masyarakat,
tumbuhlah solidaritas, terjalinlah kebersamaan untuk berjuang. lalu
berhitunglah setiap kekuasan untuk memilh jalan tumbang paling aman. dan
disituasi inilah, gerakan perubahan yang sebelumnya kental dengan
format moral dan kultural, menjadi arena kepentingan dan
kompromi-kompromi politik. dan dititik inilah, sebuah proses perubahan
kemudian menuntut hadirnya aktor-aktor lain yantg mempunyai ketrampilan
memainkan logika-logika politik, dan yang jelas aktor itu bukan dari
kalangan kaum muda. Maka bagi kaum muda dimanapun, kesiapan untuk
dilupakan menjadi prasyarat utama pada saat memasuki arah perubahan.
pada saat kesadaaran dan kebangkitan politik rakyat sedang digelorakan,
mereka menjadi buronan.
Pada saat gerakan perubahan mendapat ancaman
kekerasan kekuasan, mereka menjadi korban paling depan. pada saat
perubahn berlangsung dan formasi kekuasan dikukuhkan, mereka berada
diluar untuk terus dilupakan. Maka seperti juga pernah diungkapkan oleh
salah satu tokoh dalam sebuah roman pulau buru karya Pramudya Ananta Toer,
bahwa hakekat pejuang bagi burung kedasih yang kesepian dan terus
menyeru dan terus-memanggil-manggil dari ketinggian. bagai burung
kedasih yang tak bersambut, seperti itulah pewarta kebenaran. Untuk itu
tidak ada yang perlu digugat dan dipersoalkan,
Meskipun darah belum
begitu kering disemanggi dan dibeberapa kota simpul gerakan reformasi.
meskipun teriakan tuntutan perubahan masih terngiang di udara hampa.
meskipun teror, intimidasi, penculikan, tindak-kekerasan, luka-lukanya
masih terasa nyeri dan tak tersembuhkan. meskipun sejumlah nyawa yang
melayang tak pernah jelas cerita ujung dan pangkalnya. meskipun berbagai
macam meskipun bisa kita jajar dan kita persoalkan, biarlah semua
menjadi bagian pilihan sejarah yang telah dengan sadar menjadi sikap
moral kaum muda, komitmen politik dan keteguhan kita untuk terus
berjuang, meski harus terlupakan, kesepian memanggil-manggil
diketinggian. Sehingga ditengah kontruksi negara yang terus
berbenah-benah (juga bagi-bagi kekuasan ini), ditengah gelora refomasi
yang disana-sini berpotensi untuk menjadi salah arah dan seterusnya dan
sebagainya, menghadang agenda mendasar yang penting untuk terus
dikedapankan. Dulu, pada saat orde baru berkuasa, sejumlah persoalan
menjadi pemicu bergeloranya gerak perubahan. ada korupsi, ada KKN, ada
kekerasan tentara, ada pengendalian, ada pemasungan, pemangkasan hingga
pemenjaraan aktivitas politik. ada buruh murah, ada penggusuran hak
rakyat, ada penahanan semena-mena, ada hukum kekuasan, ada kekuasan
berjalan tanpa kontrol dan pengawasan. ada kerusahan, ada pembantaian,
ada pelarangan dan penculikan. ada dan ada pokoknya ada Deh!
Pertanyan
kita kemudian, jika dijaman orde baru masalah-masalah tersebut mampu
merumuskan (dan terumuskan) menjadi musuh bersama kaum muda, apakah
kesemuanya kini hilang dari pemerintahan baru kita, jika sudah, ya
alhamdulilah ! jika belum ya alhamdulillah ! Karena kaum muda telah
cukup tertanam kesadaran dalam dirinya, bahwa sebagai faktor perubahan
hanya dua pilihan, menjadi korban atau terus berjuang untuk kemudian
dilupakan. Lantas Anda berada di Mana ……..?
Thanks for reading & sharing Layang - Layang Hitam



0 komentar:
Post a Comment