USAHA MENCARI
BENTUK KEDIKTATORAN KELAS YANG BARU
Aku akan mengawali Pembahasan ini dengan membicarakan makalah Dick Robinson,
"Authoritarian States, Capital-owning Clases, and the Politics of Newly industrialising Countries: the Case of Indonesia" in Word Politics.
Aku pikir ini adalah tulisan yang sangat baik, menganalisis sejumlah perkembangan terpenting Indonesia dalam periode terakhir Orde Baru. Kekuatan utama dari karya Robinson ialah sifat presisinya dalam mengidentifikasi kepentingan berbagai kelompok bisnis dan memperlihatkan sangkut paut kelompok serta pertarungan menyangkut berbagai kebijaksanaan ekonomi.
Robinson, seperti juga yang lainnya, menganalisa anggapan bahwa kekuasaan Soeharto diambil alih Negara. Ini jelas terlihat dalam awal makalahnya, dimana ia menyatakan: Di Indonesia, negara dan para pejabatnya merupakan suatu kekuatan politik yang padu dan dapat diidentifikasi, kekuatan politik yang amat otonom (bebas) dan berdominasi." Pandangan Robinson ini mengatakan bahwa Orde Baru mulai dengan melembagakan negara yang otonom dengan para pejabatnya sebagai kelompok pendominasi, yang inti kekuatan politiknya ia lukiskan sebagai 'politiko-birokrat'.
itu sedikit cuplikan tentang demokrasi saat ini, untuk lebih lengkap silahkan download file wordnya dibawah.
Aku akan mengawali Pembahasan ini dengan membicarakan makalah Dick Robinson,
"Authoritarian States, Capital-owning Clases, and the Politics of Newly industrialising Countries: the Case of Indonesia" in Word Politics.
Aku pikir ini adalah tulisan yang sangat baik, menganalisis sejumlah perkembangan terpenting Indonesia dalam periode terakhir Orde Baru. Kekuatan utama dari karya Robinson ialah sifat presisinya dalam mengidentifikasi kepentingan berbagai kelompok bisnis dan memperlihatkan sangkut paut kelompok serta pertarungan menyangkut berbagai kebijaksanaan ekonomi.
Robinson, seperti juga yang lainnya, menganalisa anggapan bahwa kekuasaan Soeharto diambil alih Negara. Ini jelas terlihat dalam awal makalahnya, dimana ia menyatakan: Di Indonesia, negara dan para pejabatnya merupakan suatu kekuatan politik yang padu dan dapat diidentifikasi, kekuatan politik yang amat otonom (bebas) dan berdominasi." Pandangan Robinson ini mengatakan bahwa Orde Baru mulai dengan melembagakan negara yang otonom dengan para pejabatnya sebagai kelompok pendominasi, yang inti kekuatan politiknya ia lukiskan sebagai 'politiko-birokrat'.
itu sedikit cuplikan tentang demokrasi saat ini, untuk lebih lengkap silahkan download file wordnya dibawah.
TEORI DAN PRAKTEK
OLEH: ERNEST MANDELS
Pengantar
Pada tahun 1968,
seorang Marxist dari Belgia, Ernest Mandel berbicara di depan
33 perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, dari Harvard ke
Berkeley dan dari Montreal ke Vancouver. Lebih dari 600 orang memadati
Education Auditorium di New York University pada
tanggal 21 September 1968 untuk menghadiri
"Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner".
Presentasi Mandel di tempat itu dipandang sebagai kejadian yang
sangat menonjol oleh majelis dan salah satu saat penting dari
seluruh perjalanannya. Pidato dan beberapa kutipan dari
diskusi yang mengikutinya menjadi dua bagian pertama dari pamflet ini.
Pidato
Mandel adalah polemik yang sangat hebat terhadap
kecenderungan "aktivisme" dan "spontanisme", yang
belakangan ini muncul di kalangan kaum radikal di
dunia Barat. Ia kemudian berbicara mengenai konsepsi Marxis
tentang integrasi yang tidak terpisahkan antara teori dan
praktek. Selama diskusi, Mandel menjawab sejumlah pertanyaan
yang kontroversial di kalangan kaum radikal dengan
argumen panjang lebar. Beberapa di antaranya berbicara
tentang azas sosial ekonomi dari Uni Sovyet, "Revolusi
Kebudayaan" di Cina, perlunya dibentuk sebuah partai
Leninis, dorongan moral lawan dorongan material, dan banyak hal lainnya.
Bagian
ketiga pamflet ini adalah pidato yang diberikan
Mandel pada Seminar Ilmu dan Kesejahteraan yang diadakan
di Universitas Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1970, ketika sedang dilakukan
perayaan 70 tahun universitas tersebut. Mandel berpendapat bahwa
kebutuhan kapitalisme saat ini akan tenaga kerja yang terlatih dalam jumlah
besar merangsang ekspansi universitas yang cepat dan
menghasilkan "proletarianisasi" tenaga intelektual,
yang tunduk kepada tuntutan-tuntutan kapitalis dan tidak
berhubungan dengan bakat perorangan atau kebutuhan manusia.
Makin
terasingnya tenaga kerja intelektual ini sedikit
banyak menggerakkan perlawanan mahasiswa yang, walaupun tidak
menduduki posisi sebagai pelopor kelas buruh, dapat menjadi picu
peledak di dalam masyarakat luas. Menurutnya mahasiswa memiliki
kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di
universitas, ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap
keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas
penduduk. Mahasiswa harus berjuang di dalam universitas dan
di balik itu untuk masyarakat yang menempatkan
pendidikan untuk rakyat di depan penumpukan barang.
I.
Gerakan Mahasiswa Revolusioner :Teori dan Praktek
Rudi Dutshcke,
pemimpin mahasiswa Berlin dan sejumlah tokoh mahasiswa lainnya di
Eropa, telah menjadikan konsep menyatunya teori dan praktek (teori
dan praktek yang revolusioner tentunya) sebagai gagasan sentral aktivitas
mereka. Ini bukan pilihan yang sewenang-wenang. Persatuan teori dan
praktek ini dapat dibilang pelajaran yang paling berharga dari
rekaman sejarah yang diukir oleh revolusi-revolusi yang telah
berlalu di Eropa, Amerika dan bagian dunia lainnya
Tradisi
historis yang mengandung gagasan ini dimulai dari Babeuf melalui
Hegel dan sampai ke Marx. Penaklukan ideologis ini berarti bahwa pembebasan
manusia harus diarahkan pada usaha yang sadar untuk merombak
tatanan masyarakat, untuk mengatasi sebuah keadaan di mana manusia
didominasi oleh kekuatan ekonomi pasar yang buta dan
mulai menggurat nasib dengan tangannya sendiri. Aksi
pembebasan yang sadar ini tidak dapat dijalankan secara
efektif, dan tentunya tidak dapat berhasil, jika
orang belum menyadari dan mengenal lingkungan sosial tempatnya hidup,
mengenal kekuatan sosial yang harus dihadapinya, dan kondisi
sosial ekonomi yang umum dari gerakan pembebasan itu.
Sama seperti
persatuan antara teori dan praktek merupakan penuntun yang
mendasar bagi setiap gerakan pembebasan saat ini, begitu pula
Marxisme mengajarkan bahwa revolusi, revolusi yang sadar, hanya
dapat berhasil jika orang mengerti azas masyarakat tempatnya hidup, dan
mengerti kekuatan pendorong yang menggerakkan perkembangan sosial ekonomi
masyarakat tersebut. Dengan kata lain, jika ia tidak mengerti
kekuatan yang menggerakkan evolusi sosial, ia tidak akan sanggup mengubah
evolusi itu menjadi sebuah revolusi. Ini adalah konsepsi utama yang
diberikan Marxisme kepada gerakan mahasiswa revolusioner di Eropa.
Kita akan coba
melihat bahwa kedua konsep itu, menyatunya teori dan praktek, serta
sebuah pemahaman Marxis terhadap kondisi obyektif masyarakat, yang telah ada
jauh sebelum gerakan mahasiswa di Eropa lahir, ditemukan dan disatukan
kembali dalam aksi-aksi perjuangan mahasiswa Eropa, sebagai hasil
dari pengalamannya sendiri.
Gerakan
mahasiswa mulai bermunculan di mana-mana dan di Amerika
Serikat pun tidak berbedasebagai perlawanan terhadap kondisi langsung
yang dialami mahasiswa di dalam lembaga akademis mereka, di universitas dan
sekolah tinggi. Aspek ini sangat jelas di dunia Barat tempat kita
hidup, walaupun keadaannya sangat berbeda di negara-negara
berkembang. Di sana, banyak kekuatan dan keadaan lain yang mendorong anak
muda di universitas atau non-universitas untuk bangkit. Tapi selama dua dekade
terakhir, anak muda yang masuk ke universitas di dunia Barat tidak menemukan
di lingkungan rumah, kondisi keluarga atau masyarakat lokalnya alasan-alasan
yang mendesak untuk melakukan perlawanan sosial.
Tentunya ada beberapa
perkecualian. Komunitas kulit hitam di Amerika Serikat termasuk di dalam
perkecualian itu; para buruh imigran yang dibayar
rendah di Eropa Barat juga termasuk di dalamnya. Bagaimanapun, di
kebanyakan negara-negara Barat, mahasiswa yang berasal dari lingkungan
proletariat yang miskin masih menjadi minoritas yang sangat kecil. Mayoritas
mahasiswa saat ini berasal dari lingkungan borjuis kecil atau menengah atau
golongan penerima gaji atau upah yang mendapat bayaran
lumayan. Ketika memasuki universitas mereka secara umum
tidak disiapkan oleh hidup yang mereka jalani untuk sampai
pada titik pemahaman yang jelas dan lengkap tentang
alasan-alasan perlunya perlawanan sosial. Mereka
baru akan memahaminya ketika berada di dalam kerangka
universitas. Di sini aku tidak mengacu kepada sejumlah perkecualian
atau golongan kecil elemen-elemen yang memiliki
pengetahuan politik yang memadai, tapi kepada massa mahasiswa
secara keseluruh
an yang berhadapan dengan sejumlah kondisi, yang membimbing mereka pada jalan perlawanan.
an yang berhadapan dengan sejumlah kondisi, yang membimbing mereka pada jalan perlawanan.
Singkatnya,
ini sudah mencakup organisasi, struktur dan kurikulum
universitas yang amat tidak memadai dan serangkaian fakta
material, sosial dan politik yang dialami dalam kerangka universitas
borjuis, yang semakin tidak dapat ditahan oleh kebanyakan mahasiswa.
Menarik untuk dicatat bahwa para teoretisi dan pendidik borjuis
yang berusaha memahami perlawanan mahasiswa, harus memasukkan
sejumlah pernyataan di dalam analisis mereka terhadap lingkungan
mahasiswa, yang telah lama mereka enyahkan dari analisis umum
terhadap masyarakat.
Beberapa
hari yang lalu, ketika berada di Toronto, salah satu pendidik
Kanada yang terkenal memberikan kuliah umum tentang sebab-sebab terjadinya
perlawanan mahasiswa. Menurutnya, alasan-alasan perlawanan itu
"secara mendasar bersifat material. Bukan berarti bahwa kondisi
hidup mereka tidak memuaskan; bukan karena mereka
diperlakukan buruh seperti buruh abad XIX. Tapi karena secara
sosial kita menciptakan sejenis proletariat di universitas yang tidak
berhak berpartisipasi dalam menentukan kurikulum, tidak
berhak, setidaknya untuk ikut menentukan kehidupan mereka sendiri
selama empat, lima atau enam tahun yang mereka habiskan di
universitas."Sekalipun aku tidak dapat menerima definisi yang
non-Marxis tentang proletariat di atas, aku berpikir bahwa pengajar
borjuis ini sebagian telah menelusuri salah satu akar dari
perlawanan mahasiswa. Struktur universitas borjuis hanyalah
cerminan dari struktur hirarki yang umum dalam
masyarakat borjuis; keduanya tidak dapat diterima oleh
mahasiswa, bahkan oleh tingkat kesadaran sosial yang sementara ini masih
rendah. Kiranya terlalu berlebihan kalau saat ini juga kita coba membahas
akar-akar psikologis dan moral dari gejala itu. Di beberapa negara di Eropa
Barat, dan mungkin juga di Amerika Serikat, masyarakat borjuis seperti
yang berkembang selama generasi terakhir ini, selama 25 tahun terakhir telah
menghantam banyak elemen di dalam keluarga borjuis. Sebagai anak muda, para
mahasiswa pembangkang diajarkan pertama-tama oleh pengalaman langsung
untuk mempertanyakan semua bentuk wewenang, dimulai dengan wewenang orang
tuanya.
Hal ini paling terasa
di negara seperti Jerman sekarang ini. Jika kalian tahu sesuatu tentang
kehidupan di Jerman, atau mempelajari cerminannya di dalam kesusastraan Jerman,
maka kalian akan tahu bahwa sampai Perang Dunia II,
wewenang paternal paling sedikit dipertanyakan di
negara itu. Kepatuhan anak terhadap orang tua telah mendarah
daging dalam proses penciptaan masyarakat (fabric of society). Anak-anak muda
Jerman kemudian mengalami rangkaian pengalaman pahit yang dimulai dengan
adanya generasi orang tua di Jerman yang menerima
Nazisme, mendukung Perang Dingin, dan hidup nyaman dengan asumsi
bahwa "kapitalisme rakyat" (disebut juga ekonomi pasar yang
sosial), tidak akan menghadapi resesi, krisis dan masalah sosial.
Kegagalan yang beruntun dari dua atau tiga generasi orang tua
seperti itu kini menghasilkan rasa jijik di kalangan anak
muda terhadap wewenang orang tua mereka. Perasaan ini membuat
anak-anak tersebut, saat memasuki universitas, tidak menerima
setiap bentuk wewenang begitu saja, tanpa perlawanan.
Mereka
pertama-tama berhadapan dengan wewenang para dosen dan
lembaga-lembaga universitas yang paling tidak dalam bidang ilmu
sosialnyata tidak berhubungan dengan realitas. Pelajaran yang mereka peroleh
tidak memberikan analisis ilmiah yang obyektif tentang apa yang
sedang terjadi di dunia atau negara-negara Barat lainnya. Tantangan
terhadap wewenang akademis dari lembaga inilah yang kemudian cepat
bergeser menjadi tantangan terhadap isi pendidikannya.Sebagai tambahan,
di Eropa kondisi material untuk universitas masih sangat kurang.
Terlalu penuh. Ribuan mahasiswa harus mendengar dosen-dosen
berbicara melalui sound system. Mereka tidak dapat
berbicara dengan dosen-dosen itu atau sedikitnya berhubungan,
bertukar pikiran yang normal atau dialog. Perumahan dan makanan
juga buruk. Faktor-faktor pendukung lainnya makin menajamkan
kekuatan pemberontakan mahasiswa. Tapi, perlu aku tekanan
bahwa dorongan utama untuk melakukan pemberontakan akan tetap ada, sekalipun
persoalan-persoalan di atas telah dibenahi. Struktur otoriter
dari universitas dan substansi yang sangat lemah
dari pendidikan, paling tidak dalam bidang ilmu sosial, lebih
menjadi penyebab ketimbang kondisi material di atas.
Inilah alasan
mengapa usaha-usaha mengadakan reformasi di universitas, yang
disorongkan oleh sayap liberal dalam keadaan-keadaan yang berbeda dalam
masyarakat neo-kapitalis barat mungkin menemui kegagalan. Reformasi ini
tidak akan mencapai tujuannya karena tidak menyentuh persoalan
dasar dari pemberontakan mahasiswa. Mereka tidak berusaha
menekan sebab-sebab keterasingan mahasiswa, dan sekalipun
melakukannya, mereka hanya akan membuat mahasiswa makin terasing.
Lalu apa tujuan
reformasi di universitas seperti yang diajukan oleh kaum reformis liberal
di dunia barat? Dalam kenyataan, rancangan reformasi itu tidak lain
untuk meluruskan organisasi universitas agar sesuai dengan kepentingan
ekonomi neo-kapitalis dan masyarakat neo-kapitalis. Tuan-tuan
itu mengatakan: tentu sangat disayangkan adanya proletariat
akademis; sayang sekali begitu banyak orang yang
meninggalkan universitas dan tidak berhasil mendapat
pekerjaan. Ini akan menimbulkan ketegangan sosial dan ledakan
sosial.
Bagaimana caranya
mengatasi persoalan ini? Kita akan membenahinya dengan reorganisasi
universitas dan membagi-bagi tempat belajar yang ada sesuatu dengan
kebutuhan ekonomi neo-kapitalis. Di tempat yang memerlukan 100.000
insinyur akan lebih baik jika dikirim 100.000 insinyur daripada
50.000 orang sosiolog atau 20.000 filsuf yang tidak akan
mendapat pekerjaan yang layak. Hal seperti inilah yang akan menghentikan
pemberontakan mahasiswa.Di bawah ini adalah suatu usaha menempatkan
fungsi universitas pada posisi subordinat terhadap kebutuhan
langsung dari ekonomi neo-kapitalis dan masyarakat. Hal ini akan
menggerakkan keterasingan mahasiswa yang makin besar. Jika
reformasi-reformasi itu dilakukan maka mahasiswa tidak akan menemukan
struktur universitas dan pendidikan yang sesuai dengan keinginan
mereka. Mereka bahkan tidak diizinkan memilih karir, bidang studi,
dan disiplin ilmu yang mereka kehendaki dan berhubungan dengan
keahlian dan kebutuhan mereka. Mereka akan dipaksa menerima
pekerjaan, disiplin ilmu dan bidang studi yang berhubungan
dengan kepentingan penguasa masyarakat kapitalis, dan
tidak berhubungan dengan kebutuhan mereka sebagai manusia.
Jadi dengan reformasi di universitas, tingkat alienasi yang lebih tinggi
pun akan terjadi. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus mengabaikan semua
reformasi di dalam universitas. Penting dicari beberapa slogan transisional
untuk masalah-masalah universitas, sama seperti kaum Marxis coba
mencari slogan-slogan transisional dalam gerakan
sosial lain dalam sektor apapun. Misalnya, aku tidak mengerti kenapa
slogan "student power" tidak dapat diangkat di dalam
lingkup universitas. Dalam masyarakat luas slogan ini
memang dihindari karena artinya bahwa sebuah minoritas kecil
menempatkan dirinya sebagai pemimpin mayoritas masyarakat. Tapi di
dalam universitas slogan "student power" ini, atau slogan lain
yang sejurus dengan ide "self-management" oleh massa mahasiswa, jelas
punya arti dan valid.
Tapi di sinipun
aku akan hati-hati karena banyak persoalan yang membuat
universitas berbeda dari pabrik atau komunitas produktif lainnya.
Tidak benar, seperti dikatakan sebagian teoretisi SDS Amerika, bahwa mahasiswa
itu sama dengan buruh. Kebanyakan mahasiswa memang akan menjadi
buruh atau sudah setengah buruh. Mereka dapat
dibandingkan dengan orang yang magang di pabrik karena
kedudukan mereka sama --dari sudut kerja intelektual dengan orang
magang di pabrik-- dari sudut kerja manual.
Mereka memiliki peranan sosal dan tempat transisional yang khas
dalam masyarakat. Karena itu kita harus hati-hati merumuskan
slogan tentang transisi ini.
Bagaimanapun, kita
tidak perlu memperpanjang perdebatan ini sekarang. Mari kita
terima saja gagasan "student power" atau
"student control" sebagai slogan transisional di dalam kerangka
universitas borjuis. Tapi sudah jelas bahwa realisasi slogan ini
yang tidak akan mungkin bertahan untuk jangka waktu yang
lama, tidak akan mengubah akar-akar alienasi mahasiswa karena
mereka tidak terletak di dalam universitas itu sendiri, melainkan dalam
masyarakat secara keseluruhan. Dan kita tidak akan sanggup mengubah
sebuah sektor kecil dalam masyarakat borjuis, dalam hal ini universitas
borjuis, dan berpikir bahwa masalah sosial dapat
diatasi di segmen tertentu tanpa mengubah masalah sosial
dalam masyarakat sebagai keseluruhan.Selama kapitalisme masih ada, maka terus
akan ada kerja yang terasing, baik itu kerja manual maupun
kerja intelektual. Dan karena itu tetap akan ada mahasiswa yang
terasing, seperti apapun aksi-aksi kita menghantam kemapanan dalam lingkup
universitas.
Sekali lagi,
ini bukan observasi teoretis yang jatuh dari langit.
Ini adalah pelajaran dari pengalaman praktek. Gerakan mahasiswa
Eropa, paling tidak sayap revolusionernya, telah melalui pengalaman
ini di seluruh negara-negara Eropa. Dalam garis besar,
gerakan mahasiswa dimulai dengan isyu-isyu kampus dan
dengan cepat mulai bergerak keluar batas-batas
universitas. Gerakan itu mulai menanggapi masalah-masalah sosial
dan politik yang tidak langsung berhubungan dengan apa yang terjadi
di dalam universitas. Apa yang terjadi di Kolumbia di mana masalah
penindasan komunitas kulit hitam diangkat oleh
sejumlah mahasiswa pemberontak mirip dengan apa yang terjadi dalam
gerakan mahasiswa Eropa Barat, paling tidak di kalangan
elemen yang maju, yang paling peka terhadap
masalah-masalah yang dihadapi orang-orang paling tertindas dalam
sistem kapitalis dunia.
Mereka
terlibat dalam berbagai aksi solidaritas dengan
perjuangan pembebasan revolusioner di negara-negara
berkembang seperti Kuba, Vietnam dan bagian-bagian tertindas
lainnya Dunia Ketiga. Identifikasi bagian-bagian yang paling
sadar dalam gerakan mahasiswa di Prancis dengan revolusi Aljazair,
dan perjuangan pembebasan Aljazair dari imperialisme Prancis
memainkan peranan besar. Ini mungkin kerangka pertama di mana diferensiasi
politik yang nyata terjadi di kalangan gerakan mahasiswa
kiri. Kalangan mahasiswa yang sama kemudian akan mengambil
tempat di depan dalam perjuangan mempertahankan revolusi
Vietnamm melawan perang agresi imperialisme Amerika.Di Jerman, simpati
kepada orang-orang terjajah dimulai dari titik yang unik. Gerakan protes
mahasiswa yang besar dipicu oleh aksi solidaritas dengan buruh,
petani dan mahasiswa dari sebuah negara Dunia Ketiga lainnya, yaitu Iran,
saat Shah Iran berkunjung ke Berlin.
Para
mahasiswa pelopor tidak sekadar mengidentifikasikan
diri mereka dengan perjuangan di Aljazair, Kuba dan
Vietnam: mereka memperlihatkan simpati kepada perjuangan pembebabasan dari apa
yang disebut Dunia Ketiga secara keseluruhan. Perkembangannya dimulai dari
sini. Di Prancis, Jerman, Italia --dan proses yang sama sedang
berlangsung di Inggris-- tidak akan mungkin memulai aksi yang
revolusioner tanpa analisis teori tentang asas dari imperialisme,
kolonialisme, dan kekuatan-kekuatan yang mendorong eksploitasi
Dunia Ketiga dengan imperialisme, dan di sisi lain, kekuatan yang
mendorong perjuangan pembebasan massa yang revolusioner menentang
imperialisme.Melalui analisis tentang kolonialisme dan
imperialisme kekuatan gerakan mahasiswa Eropa yang paling maju dan
terorganisir kembali kepada titik di mana Marxisme dimulai, yakni analisis
tentang masyarakat kapitalis dan sistem kapitalis internasional di
mana kita hidup. Jika kita tidak memahami sistem ini, kita
tidak akan dapat memahami alasan dilakukannya perang kolonial dan gerakan
pembebasan di negeri jajahan. Kita juga tidak akan dapat mengerti kenapa
kita harus mengikatkan diri kepada kekuatan-kekuatan ini di
tingkat dunia.Di Jerman misalnya, proses ini terjadi dalam
waktu kurang dari enam bulan. Gerakan mahasiswa dimulai dengan
mempertanyakan struktur universitas yang otoriter, dan
terus menuju masalah imperialisme dan keadaan Dunia Ketiga, dan
dengan menghubungkan diri dengan gerakan pembebasan maja timbul kebutuhan menganalisis
kembali neo-kapitalisme di tingkat dunia dan di negeri di mana
mahasiswa-mahasiswa Jerman itu bergerak. Mereka kembali kepada
titik awal analisis Marxis tentang masyarakat di mana kita hidup untuk
memahami alasan-alasan terdalam dari masalah sosial dan
perlawanan.
Kesatuan Teori dan Aksi
Dalam proses
keseluruhan kesatuan teori dan aksi yang dinamis, teori kadang ada di
depan aksi dan sewaktu-waktu aksi tampil di depan teori. Bagaimanapun,
pada setiap titik keharusan perjuangan mendesak para aktivis untuk
memantapkan kesatuan ini pada tingkat yang lebih tinggi.Untuk memahami proses
yang dinamis ini kita harus menyadari bahwa mempertentangkan aksi
langsung dengan studi yang mendalam itu sepenuhnya keliru. Saya tersentak
ketika mengikuti Konferensi Sarjana Sosialis dan pertemuan lainnya yang saya
ikuti di Amerika selama dua minggu terakhir, melihat bagaimana pemisahan teori
dan praktek terus dipertahankan. Saya seperti sedang mengikuti perdebatan
di antara orang-orang tuli, di mana sebagian pengunjung
mengatakan, "yang penting aksi! Tidak perlu yang
lain, yang penting aksi!" sementara di pihak
lain ada yang mengatakan, "Tidak, sebelum bisa aksi, kita harus
tahu apa yang dikerjakan. Duduk, belajar, dan tulis buku." (tepuk tangan).
Jawaban yang
jelas dari pengalaman sejarah gerakan revolusioner, bukan hanya dari
periode Marxis tapi bahkan dari periode pra-Marxis, adalah kenyataan
bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan (tepuk tangan) Aksi tanpa teori tidak
akan efisien atau tidak akan berhasil melakukan perubahan yang
mendasar, atau seperti saya katakan sebelumnya, kita tidak
dapat membebaskan manusia tanpa sadar. Di pihak lain, teori tanpa aksi
tidak akan mendapat watak ilmiah yang sejati karena tidak ada jalan lain
untuk menguji teori kecuali melalui aksi.
Setiap
bentuk teori yang tidak diuji melalui aksi bukan teori
yang sahih, dan dengan sendirinya menjadi teori yang tidak berguna
dari sudut pandang pembebasan manusia. (tepuk tangan) Hanya
melalui usaha terus menerus memajukan keduanya pada saat
bersamaan, tanpa pemisahan kerja, maka kesatuan teori dan
aksi dapat dimantapkan, sehingga gerakan revolusioner tersebut, apapun asal
usul maupun tujuan sosialnya, dapat mencapai hasilnya. Dalam hubungannya dengan
pemisahan kerja, ada satu hal lain yang membuat saya
tersentak, dan benar-benar menyentak karena diajukan dalam
satu pertemuan orang-orang sosialis. Pemisahan teori dan aksi yang
sudah begitu buruk, kini diberi satu dimensi baru dalam gerakan
sosialis ketika dikatakan: di satu pihak ada para aktivis,
orang-orang awam yang kerja kasar. Di pihak lain adalah elit yang
kerjanya berpikir. Jika elit ini terlibat dalam aksi demonstrasi,
maka mereka tidak akan punya waktu berpikir atau menulis
buku, dan dengan begitu maka ada elemen berharga dalam perjuangan yang
akan hilang.
Saya katakan
bahwa setiap pernyataan yang menyebut adanya pemisahan kerja manual
dan kerja pikiran di dalam gerakan revolusioner, yang memisahkan barisan
aksi yang kerja kasar dan elit yang kerja pikiran, secara mendasar
bukan pernyataan sosialis. Pernyataan itu bertentangan dengan
salah satu tujuan utama dari gerakan sosialis, yang ingin mencapai
penghapusan pemisahan kerja manual dan intelektual (tepuk tangan) bukan hanya
dalam organisasi tapi, lebih penting lagi, dalam masyarakat secara keseluruhan.
Orang-orang sosialis revolusioner pada 50 atau 100
tahun yang lalu belum dapat melihat hal ini
dengan jelas, seperti kita sekarang ini, saat sudah ada kemungkinan
obyektif untuk mencapai tujuan itu. Kita sudah memasuki satu proses
teknologi dan pendidikan yang memungkinkan tercapainya hal itu. Salah
satu pelajaran berharga yang harus kita ambil dari
kemunduran Revolusi Rusia, adalah jika pemisahan antara kerja
manual dan kerja intelektual dipertahankan pada masyarakat yang
sedang dalam transisi dari kapitalisme menuju sosialisme dalam
bentuk lembaga, maka hasilnya pasti meningkatkan birokrasi dan
menciptakan ketimpangan baru dan bentuk-bentuk penindasan manusia yang tidak
sesuai dengan kemakmuran sosialis. (tepuk tangan).
Jadi kita harus mulai
dengan menghapus sebisa mungkin setiap gagasan tentang pemisahan kerja
manual dan kerja pikiran dalam gerakan revolusioner. Kita
harus bertahan bahwa tidak akan ada teoretisi yang baik jika tidak
terlibat dalam aksi, dan tidak akan ada aktivis yang baik jika
tidak dapat menerima, memperkuat dan memajukan teori. (tepuk tangan).
Gerakan
mahasiswa Eropa telah mencoba mencapai hal ini
sampai tingkat tertentu di Jerman, Prancis dan Italia. Di
sana muncul pemimpin-pemimpin mahasiswa agitator yang juga dapat, jika
diperlukan, membangun barikade dan bertempur mempertahankannya, dan
pada saat yang dapat menulis artikel bahkan buku teoretis dan berdiskusi
dengan sosiolog terkemuka, ahli politik dan ekonomi dan
mengalahkan mereka dalam bidang ilmu mereka sendiri. (tepuk tangan) Hal
ini makin memperkuat keyakinan bukan hanya tentang masa depan
gerakan mahasiswa tapi juga tentang masa ketika orang-orang ini sudah berhenti
menjadi mahasiswa, dan harus berjuang di bidang lain.
Perlunya Organisasi Revolusioner
Sekarang saya ingin
berbicara tentang aspek lain dari kesatuan teori dan aksi yang sudah
menjadi perdebatan dalam gerakan mahasiswa Eropa dan Amerika
Utara. Saya secara pribadi yakin bahwa tanpa organisasi
yang revolusioner, bukan suatu formasi yang longgar
tapi sebuah organisasi yang serius dan permanen sifatnya,
maka kesatuan teori dan praktek tidak akan bertahan lama. (tepuk tangan).
Ada dua alasan.
Yang pertama berhubungan dengan asas dari mahasiswa
sendiri. Status kemahasiswaan, hanya berlaku untuk
jangka waktu yang singkat, tidak seperti buruh. Ia bisa menetap di
universitas selama empat, lima, enam tahun, dan tidak ada yang dapat
memperkirakan apa yang terjadi setelah ia meninggalkan
universitas. Pada kesempatan ini saya sekaligus ingin menjawab salah satu
argumen demagogis yang telah digunakan sejumlah pemimpin partai-partai
komunis di Eropa yang menentang perlawanan mahasiswa. Dengan
nada sinis mereka mengatakan: "Siapa mahasiswa-mahasiswa itu? Hari ini
mereka berontak, besok mereka akan menjadi bos yang menindas kita. Kita tidak
perlu memperhitungkan aksi-aksi mereka dengan serius."
Ini adalah argumen
yang tolol karena tidak mempertimbangkan transformasi revolusioner dari
peranan lulusan universitas sekarang ini. Jika mereka melihat angka-angka
statistik, maka mereka akan tahu bahwa hanya sebagian kecil
dari lulusan universitas yang bisa menjadi kapitalis
atau agen-agen langsung dari para kapitalis ini. Apa yang
mereka khawatirkan mungkin saja menjadi kenyataan jika
jumlah lulusan itu hanya 10.000, 15.000 atau 20.000
orang dalam satu tahun. Tapi sekarang ada satu juta, empat juta, lima
juta mahasiswa, dan tidak mungkin kebanyakan dari mereka
akan menjadi kapitalis atau manejer perusahaan karena
tidak ada lowongan sebanyak itu untuk mereka.
Argumen
demagogis ini ada benarnya. Lingkungan akademis
memang memiliki konsekuensi tertentu terhadap tingkat kesadaran
sosial dan aktivitas politik seorang mahasiswa. Selama ia tetap
di universitas, maka lingkungannya mendukung aktivitas politik.
Ketika ia meninggalkan universitas, lingkungan ini tidak ada lagi di
sekelilingnya, dan ia makin mudah ditekan oleh ideologi dan
kepentingan borjuasi atau borjuasi kecil (petty-bourgeoisie). Ada ancaman bahwa
ia akan melibatkan dirinya dalam lingkungan sosial yang baru
ini, apapun bentuknya. Ada kemungkinan terjadinya
proses mundur ke posisi intelektual reformis atau liberal kiri yang
tidak lagi berhubungan dengan aktivitas revolusioner.
Penting untuk
mempelajari sejarah SDS Jerman, yang dalam hal ini adalah gerakan
mahasiswa revolusioner yang paling tua di Eropa.
Setelah dikeluarkan dari kalangan Sosial Demokrat Jerman sembilan tahun
yang lalu satu generasi mahasiswa SDS yang militan meninggalkan
universitas. Setelah beberapa tahun, dengan tidak adanya organisasi
revolusioner, kebanyakan orang-orang militan ini, terlepas dari
keinginan mereka untuk tetap teguh dan menjadi aktivis sosialis,
tidak aktif lagi dalam politik dari sudut pandang
revolusioner. Jadi, untuk memelihara kelanjutan aktivitas revolusioner
ini, kita harus punya organisasi yang lebih luas jangkauannya
dari organisasi mahasiswa biasa, sebuah organisasi di mana mahasiswa dan
bukan mahasiswa dapat bekerja sama.Dan ada alasan yang lebih penting lagi, di
balik kepentingan kita memiliki satu organisasi partai. Karena
tanpa organisasi semacam itu, tidak akan dapat dicapai kesatuan aksi
dengan kelas buruh industri, dalam pengertian yang
paling umum sekalipun. Sebagai Marxis, saya tetap yakin bahwa
tanpa aksi kelas buruh tidak akan mungkin masyarakat borjuis
ini ditumbangkan dan itu berarti tidak mungkin juga dibangun
masyarakat sosialis. (tepuk tangan).
Di sini sekali lagi
kita lihat bagaimana pengalaman gerakan mahasiswa, pertama di
Jerman, lalu Prancis dan Italia, sudah berhasil
mencapai kesimpulan teoretis tersebut dalam praktek. Diskusi
yang sama tentang relevan atau tidaknya kelas buruh
industri bagi aksi revolusioner dilakukan setahun atau
bahkan enam bulan yang lalu di negara-negara seperti Jerman dan Italia.Masalah
ini ditempatkan dalam praktek bukan hanya oleh
peristiwa revolusioner selama Mei-Juni 1968 di Prancis, tapi juga oleh aksi
bersama mahasiswa di Turin dengan buruh Fiat di Italia. Ini juga
diperjelas dengan usaha-usaha sadar dari SDS Jerman untuk
melibatkan bagian dari kelas buruh di dalam agitasi mereka di luar
universitas menentang perusahaan penerbit Springer dan kampanyenya dalam
mencegah diberlakukannya undang-undang darurat yang akan mencegah
kebebasan sipil.
Pengalaman
seperti ini mengajarkan gerakan mahasiswa di
Eropa Barat bahwa mereka harus menemukan jembatan dengan
kelas buruh industri. Masalah ini memiliki sejumlah aspek yang berbeda
dengan tingkatan yang berbeda pula. Ada masalah programatik yang tidak
dapat saya jabarkan sekarang. Hal yang diungkapkan di sini adalah
bagaimana mahasiswa dapat mendekati buruh, bukan sebagai guru,
karena buruh tentunya menolak hubungan seperti itu, tapi dengan cara
masuk ke dalam lapangan kepentingan yang sama. Terutama diuraikan masalah
organisasi partai. Selain pengalaman kalah beberapa kali untuk
membangun kolaborasi di tingkat rendahan dalam aksi-aksi langsung antara
sejumlah kecil mahasiswa dan sejumlah kecil buruh, setelah
tiga sampai delapan bulan, persekutuan itu akan hilang. Bahkan
jika kalian memulai lagi dari awal, dan saat keseimbangan sudah
tercapai, maka sedikit saja yang tersisa.
Kegunaan organisasi
revolusioner yang permanen adalah untuk menyediakan integrasi timbal
balik antara mahasiswa dan perjuangan kelas buruh oleh para
pelopornya secara terus menerus. Ini bukan sekadar kesinambungan
yang sederhana dalam batas waktu tertentu, tapi sebuah
kelanjutan ruang antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda yang
memiliki tujuan sosialis revolusioner yang sama.Kita harus
kritis melihat apakah integrasi seperti ini memang
mungkin secara obyektif. Melihat pengalaman di Prancis,
Italia, dan sejumlah negara Eropa Barat lainnya,
maka dengan mudah kita bisa bilang ya. Dan garis inipun dapat
dipertahankan di Amerika Serikat. Dengan alasan-alasan historis yang juga tidak
dapat saya uraikan sekarang, sebuah situasi khusus
muncul di Amerika Serikat di mana mayoritas kelas buruh, yakni kelas
buruh kulit putih, belum menerima gagasan sosialis tentang aksi revolusioner.
Ini fakta yang tidak dapat ditandingi.
Tentu
saja hal ini dengan cepat dapat berubah. Sejumlah
orang berpendapat seperti itu di Prancis, hanya beberapa minggu
sebelum tanggal 10 Mei 1968. Namun, bahkan di Amerika Serikat,
ada minoritas dalam kelas buruh industri yang
penting, yaitu buruh kulit hitam. Tak seorangpun bisa mengatakan
bahwa setelah dua tahun terakhir mereka tidak dapat menerima
gagasan sosialis atau tidak mampu menjalankan aksi revolusioner.
Di sini paling tidak ada kemungkinan langsung terjadinya kesatuan
antara teori dan praktek di sebagian kalangan kelas buruh.
Sebagai
tambahan, kiranya penting untuk menganalisa kecenderungan sosial dan
ekonomi yang dalam jangka panjang akan mengguncang
ketidakpedulian politik yang platen dan konservatisme kelas buruh
kulit putih. Pelajaran dari Jerman dengan lingkungan yang sangat
mirip membuktikan bahwa hal itu mungkin terjadi.
Beberapa tahun lalu di kalangan kelas buruh di Jerman mengendap
stabilitas, konservatisme, dan integrasi masyarakat
kapitalis yang tidak terguncang, sama seperti Amerika Serikat
di mata banyak orang sekarang ini. Hal ini sudah mulai berubah. Kasus ini
memperlihatkan bahwa pergeseran kecil di dalam perimbangan kekuatan, yaitu
penurunan tingkat ekonomi, dan serangan dari pengusaha terhadap
struktur serikat buruh tradisional dan hak-hak dapat
menciptakan ketegangan sosial yang mampu mengubah banyak hal.
Tugas saya di sini
tidak lebih dari memberi informasi kepada kalian tentang masalah-masalah
perjuangan kelas kalian sementara tugas kalian adalah menyadari bahwa
kalian harus bergabung dengan buruh. Saya hanya akan menunjukkan satu di
antara sekian banyak saluran tempat kesadaran sosialis
dan aktivitas revolusioner dapat menghubungkan mahasiswa dan
buruh, seperti ditunjukkan bukan hanya oleh Eropa Barat
tapi juga oleh Jepang. Rangkaian penghubung ini adalah pemuda dari
kalangan kelas buruh. Sebagai konsekuensi dari perubahan teknologi selama
beberapa tahun terakhir yang mempengaruhi struktur kelas buruh,
sistem pendidikan borjuis tidak dapat mempersiapkan buruh-buruh muda, atau
sebagian dari buruh muda ini, untuk memainkan peran baru dalam
teknologi yang telah berubah bahkan dari sudut pandang
para kapitalis sendiri. Amerika Serikat adalah contoh yang jelas
tentang kehancuran total dari pendidikan bagi buruh muda berkulit
hitam yang tingkat penganggurannya sama tinggi seperti
tingkat rata-rata pengangguran seluruh kelas buruh di masa depresi.
Kenyataan ini memperlihatkan apa yang tengah terjadi di kalangan
pemuda kulit hitam negeri itu. Ini hanyalah ekspresi dari kecenderungan
umum yang mendikte kepekaan ekstrem terhadap segala sesuatu yang terjadi di
kalangan muda. Kebusukan dan kemacetan sistem sosial sekarang ini
jelas menunjukkan ketidakberpihakan para penguasanya kepada kaum muda.
Para penguasa Prancis selama peristiwa Mei tidak membeda-bedakan
antara mahasiswa, pegawai dan buruh muda. Mereka memperlakukan semuanya
sebagai musuh.Contoh kongkret dari ini adalah insiden di Flins
ketika terjadi demonstrasi besar. Setelah seorang anak sekolah dibunuh
oleh polisi muncul kegelisahan besar. Polisi bergerak masuk dan
mulai memerika para demonstran, memerika kartu identitas
orang-orang yang lewat. Setiap orang yang berusia di bawah 30 tahun
ditangkap karena dianggap potensial sebagai pemberontak, sebagai orang
yang akan bergerak menghantam polisi. (tepuk tangan)
Jika
kalian secara seksama membaca buku-buku sekarang,
industri film dan bentuk-bentuk refleksi kenyataan sosial
yang lain di dalam suprastruktur budaya selama lima atau sepuluh tahun
terakhir, kalian akan lihat bahwa di samping semua
pembicaraan yang palsu tentang kenakalan remaja, kaum borjuis telah
menggambarkan jenis pemuda yang dihasilkan sistemnya dan juga semangat
memberontak dari kaum muda. Ini tidak terbatas bagi mahasiswa
atau kelompok minoritas seperti orang kulit hitam
di Amerika Serikat. Ini juga berlaku bagi buruh-buruh muda.Kiranya perlu
dipelajari apa yang ada lingkungan buruh-buruh muda karena perjuangan
memenangkan mereka kepada kesadaran sosialis, kepada gagasan-gagasan revolusi
sosialis kelihatannya penting bagi negeri-negeri Barat
selama sepuluh sampai limabelas tahun mendatang. Jika
kita berhasil mengangkat kaum muda yang terbaik menjadi sosialis
revolusioner --saya pikir ini sudah mulai dilakukan di
negeri-negeri Eropa Barat-- kita bisa yakin tentang kemajuan
gerakan kita. Jika kemungkinan ini lepas dan kebanyakan orang
muda berpihak ke kalangan ekstrem kanan, maka kita akan kalah dalam
perjuangan yang menentukan dan akan masuk ke dalam liang kubur
bersama sosialis Eropa dan gerakan revolusioner di tahun 1930-an.
Persatuan teori dan praktek juga
berarti bahwa serangkaian gagasan kunci dari gerakan sosialis
dan tradisi revolusioner telah ditemukan kembali sekarang. Aku tahu
bahwa sebagian orang dalam gerakan mahasiswa di Amerika
Serikat ingin menciptakan sesuatu yang sama sekali
baru. Aku sepenuh hati setuju dengan setiap usulan yang menginginkan
sesuatu yang lebih baik, karena apa yang telah dicapai oleh
generasi-generasi sebelumnya juga kurang meyakinkan
dari sudut pandang pembangunan masyarakat sosialis.
Tapi penting juga aku utarakan peringatan. Jika kalian menyangka
sedang menciptakan sesuatu yang baru, yang sebenarnya sedang
dilakukan adalah mundur ke masa lalu yang jauh lebih
terbelakang dari masa lalu Marxisme.
Semua gagasan baru yang dimajukan dalam gerakan mahasiswa di Eropa selama tiga atau empat tahun terakhir, dan menjadi populer di kalangan mahasiswa Amerika Serikat, sebenarnya sudah sangat tua umurnya. Alasannya sangat sederhana. Kecenderungan logis dari evolusi sosial dan kecenderungan kritik sosialis dikembangkan dalam jalur para pemikir besar abad 18 dan 19. Terlepas dari kalian suka atau tidak, hal itu memang benar, dan berlaku bagi ilmu sosial sekaligus ilmu alam yang rangkaian hukumnya diciptakan di masa lalu. Jika kalian ingin mengembangkan kecenderungan baru, kalian harus maju dari landasan yang merupakan hasil terbaik dari generasi-generasi sebelumnya. Keinginan untuk senantiasa menciptakan sesuatu yang baru hanyalah satu aspek awal dari radikalisme mahasiswa. Ketika gerakan sudah berkembang menjadi besar dan bisa memobilisasi massa yang besar maka yang akan terjadi adalah sebaliknya seperti ditunjukkan para sosiologis Prancis ketika melihat kejadian bulan Mei 1968. Saat itu massa mahasiswa revolusioner yang luas berjuang menemukan kembali tradisi sejarah dan akar-akar historis mereka. Mereka seharusnya sadar bahwa mereka akan lebih kuat jika mengatakan: perjuangan kami adalah perpanjangan dari perjuangan untuk kebebasan yang dimulai 150 tahun lalu, atau bahkan 2.000 tahun lalu ketika budak-budak pertama memberontak terhadap tuannya. Ini akan jauh lebih meyakinkan daripada mengatakan: kami melakukan sesuatu yang sama sekali baru yang terputus dari sejarah dan terisolasi dari keseluruhan masa lalu seakan masa lalu tidak pernah mengajarkan apa-apa kepada kita dan tidak ada yang dapat kita pelajari dari itu. (tepuk tangan).
Semua gagasan baru yang dimajukan dalam gerakan mahasiswa di Eropa selama tiga atau empat tahun terakhir, dan menjadi populer di kalangan mahasiswa Amerika Serikat, sebenarnya sudah sangat tua umurnya. Alasannya sangat sederhana. Kecenderungan logis dari evolusi sosial dan kecenderungan kritik sosialis dikembangkan dalam jalur para pemikir besar abad 18 dan 19. Terlepas dari kalian suka atau tidak, hal itu memang benar, dan berlaku bagi ilmu sosial sekaligus ilmu alam yang rangkaian hukumnya diciptakan di masa lalu. Jika kalian ingin mengembangkan kecenderungan baru, kalian harus maju dari landasan yang merupakan hasil terbaik dari generasi-generasi sebelumnya. Keinginan untuk senantiasa menciptakan sesuatu yang baru hanyalah satu aspek awal dari radikalisme mahasiswa. Ketika gerakan sudah berkembang menjadi besar dan bisa memobilisasi massa yang besar maka yang akan terjadi adalah sebaliknya seperti ditunjukkan para sosiologis Prancis ketika melihat kejadian bulan Mei 1968. Saat itu massa mahasiswa revolusioner yang luas berjuang menemukan kembali tradisi sejarah dan akar-akar historis mereka. Mereka seharusnya sadar bahwa mereka akan lebih kuat jika mengatakan: perjuangan kami adalah perpanjangan dari perjuangan untuk kebebasan yang dimulai 150 tahun lalu, atau bahkan 2.000 tahun lalu ketika budak-budak pertama memberontak terhadap tuannya. Ini akan jauh lebih meyakinkan daripada mengatakan: kami melakukan sesuatu yang sama sekali baru yang terputus dari sejarah dan terisolasi dari keseluruhan masa lalu seakan masa lalu tidak pernah mengajarkan apa-apa kepada kita dan tidak ada yang dapat kita pelajari dari itu. (tepuk tangan).
Masalah ini akhirnya akan membawa aktivis
mahasiswa kembali pada beberapa konsep historis dasar dari sosialisme dan
Marxisme. Kita telah melihat bagaimana gerakan mahasiswa di
Prancis, Jerman, Italia dan sekarang Inggris kembali kepada
gagasan-gagasan revolusi sosialis dan demokrasi buruh. Bagi
seseorang seperti saya, sangat menggembirakan melihat bagaimana gerakan
revolusioner Prancis mempertahankan hak kebebasan berbicara, dan menghubungkannya
dengan tradisi terbaik dari sosialisme. Pertemuan
kalian sekarang ini juga memperbarui kembali tradisi internasionalisme
dari sosialisme lama dan Marxisme ketika kalian bilang bahwa
perlawanan mahasiswa bersifat mendunia dan bahwa gerakan mahasiswa
itu bersifat internasional. Ini adalah internasionalisme yang sama, dengan
akar-akar dan tujuan yang sama seperti internasionalisme dari sosialisme,
sama seperti internasionalisme dari kelas buruh. Masalah-masalah
internasional yang dihadapi adalah masalah solidaritas
dengan kawan-kawan kita di Meksiko, Argentina dan Brasil yang memimpin
perjuangan besar, yang mengangkat revolusi
Amerika Latin ke tingkat lebih tinggi setelah menderita kekalahan
karena kepemimpinan yang buruh, reaksi internal dan represi
imperialis selama tahun-tahun belakangan ini. Kita harus menyanjung
kekuatan mahasiswa-mahasiswa Mexico. (tepuk tangan) Dalam beberapa hari
mereka telah mengubah situasi politik secara mendasar di negeri itu dan
membuang topeng demokrasi palsu yang dipasang pemerintah Mexico
untuk menerima jutaan dolar dari penonton-penonton
Olimpiade. Sekarang setiap orang yang menonton Olimpiade akan tahu bahwa
ia telah mengunjungi negeri di mana para pemimpin
serikat buruh kereta apinya ditahan bertahun-tahun setelah masa
tahanan mereka berakhir; negeri di mana banyak pemimpin politik
kalangan kiri dipenjara bertahun-tahun tanpa
pengadilan, di mana pemimpin mahasiswa dan ribuan milisi
mahasiswa ditahan di penjara tanpa landasan hukum. Protes
mereka yang heroik memiliki konsekuensi bagi masa depan politik
Meksiko dan perjuangan kelas di negeri itu. (tepuk tangan)
Penting juga kiranya mengutarakan
beberapa patah kata tentang mahasiswa tahanan di negeri-negeri semi
kolonial lainnya, yang tidak pernah dibicarakan orang, seperti
pemimpin mahasiswa Kongo yang telah ditahan selama hampir satu tahun
karena mengorganisir sebuah demonstrasi kecil menentang perang
Vietnam ketika wakil presiden Humphrey bertandang ke sana. Kita tidak
boleh lupa bahwa pemimpin-pemimpin mahasiswa Tunisia yang ditahan selama dua
belas tahun dengan alasan yang sama, memimpin sebuah demonstrasi. Duabelas
tahun di penjara! Kita harus menyadarkan masyarakat agar kejahatan penindas
seperti ini tidak akan terlupakan.
Akhirnya, kita tidak boleh lupa perjuangan melawan intervensi Amerika Serikat di Vietnam, yang tetap menjadi perjuangan utama di dunia sekarang ini. Dengan dimulainya negosiasi itu di Paris, tidak berarti bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan kawan-kawan kita di Vietnam. Untuk itu, saya mengajak kalian ikut dalam aksi dunia yang dimulai oleh gerakan mahasiswa Jepang, Zengakuren, Federasi Mahasiswa Revolusioner Inggris bersama dengan Kampanye Solidaritas Vietnam, dan Komite Mobilisasi Mahasiswa di sini. Ini adalah Minggu Solidaritas untuk revolusi Vietnam, dari tanggal 21 sampai 27 Oktober. Minggu ini ratusan ribu mahasiswa, buruh muda dan revolusioner muda akan turun ke jalan bersamaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diajukan kawan-kawan Vietnam! Perlihatkan pada dunia bahwa di Amerika Serikat ada ratusan ribu orang yang menginginkan penarikan kembali pasukan Amerika dari Vietnam. Itu pasti akan berhasil. (terputus oleh tepuk tangan)
Akhirnya, kita tidak boleh lupa perjuangan melawan intervensi Amerika Serikat di Vietnam, yang tetap menjadi perjuangan utama di dunia sekarang ini. Dengan dimulainya negosiasi itu di Paris, tidak berarti bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan kawan-kawan kita di Vietnam. Untuk itu, saya mengajak kalian ikut dalam aksi dunia yang dimulai oleh gerakan mahasiswa Jepang, Zengakuren, Federasi Mahasiswa Revolusioner Inggris bersama dengan Kampanye Solidaritas Vietnam, dan Komite Mobilisasi Mahasiswa di sini. Ini adalah Minggu Solidaritas untuk revolusi Vietnam, dari tanggal 21 sampai 27 Oktober. Minggu ini ratusan ribu mahasiswa, buruh muda dan revolusioner muda akan turun ke jalan bersamaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diajukan kawan-kawan Vietnam! Perlihatkan pada dunia bahwa di Amerika Serikat ada ratusan ribu orang yang menginginkan penarikan kembali pasukan Amerika dari Vietnam. Itu pasti akan berhasil. (terputus oleh tepuk tangan)
Bergesernya Peran Universitas Borjuis
Selama duapuluh lima tahun belakangan ini,
fungsi universitas di Barat berubah secara bertahap. Dalam proses
ini universitas menjadi subyek dan bukan obyek dari
perubahan sosial yang terencana yang dapat dirangkum dalam rumusan
"transisi dari fase kedua dan ketiga dalam sejarah cara produksi
kapitalis," atau ringkasnya "kemunculan neokapitalisme".
Asal-usul Historis Kontra-Revolusi 1965
Dalam memahami Indonesia, baik literatur akademis
maupun politik dalam dekade terakhir ini, telah berhasil diproduksi banyak
sekali "teori negara" Indonesia.
Sangatlah mencengangkan, begitu banyaknya penamaan (label) diberikan oleh
literatur tersebut, sehingga memberikan pertanda bahwa dunia akademis
kontemporer telah kehilangan daya kreatifnya. Penamaan tersebut antara lain:
negara pangreh-praja (beamtenstaat), negara birokrat militer (military
bureaucratic state), negara birokrat-politis (politico-bureau-cratic state),
negara otoriter patrimonial (patrimonial authoritarian state), negara rentenir
(rentier state), negara militeris rentenir (rentier militarist state), negara
pembangunan penindas (repressive developmentalist state), dan rejim atau negara
pembangunan integralis (integralist devel opmentalist regime or state).
Ringkasnya, yang esensinya adalah: negara-demi-negara (state-qua-state). Sudah
dapat dipastikan, pengamatan yang lebih kritis atas sedemikian banyaknya teori
tersebut akan memberikan pengertian, bahwa bukan saja kurangnya kreativitas
yang terungkap di sini, akan tetapi juga memperlihatkan ketidakmampuan dalam
memahami dinamika sesungguhnya (real) dalam sejarah Indonesia, yakni:
perjuangan kelasnya.
Dalam kadar yang
berbeda-beda, tujuan dari berbagai teori negara tersebut, adalah berusaha untuk
membuktikan bahwa "negara" Indonesia itu bersifat mandiri (otonom)
atau relatif mandiri dari segala penguasaan kelas apa pun. Yang bisa dinilai
sebagai teori yang "terbaik" dari semua teori tersebut adalah yang
bersikukuh menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan bagi terbentuknya kelas
borjuis, asalkan saja diberi waktu untuk menegakkan dominasinya atas negara.
Namun, katanya, pada saat ini, negara masih menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Ada berbagai sebab yang
mampu menjelaskan, mengapa gejala tersebut bisa muncul dalam kajian atau
analisa politik tentang Indonesia.
Alasan sesungguhnya terletak pada perkembangan politik yang memberikan
kesempatan bagi apa yang dinamakan "wawasan-wawasan Eurocommunist"
untuk menguasai cara berpikir kalangan akademisi sayap kiri di negara-negara
Barat, setidak-tidaknya begitulah pendapat yang disampaikan oleh para komentator
di Barat. Di Indonesia sendiri, penyebabnya lebih terletak pada issue perubahan
yang dimainkan dalam hubungan yang terjadi antara rejim sekarang ini dengan
kalangan pakar Indonesia.
Akan tetapi, pijakan
awal dari tulisan ini seharusnya bertitik tolak dari kesalahan-kesalahan
argumentasi yang diberikan oleh para teoritikus tentang negara yang baru
bermunculan tersebut. Dan sangat besar kemungkinannya bahwa kesalahan-kesalahan
tersebut terletak pada watak a-historis dari berbagai analisa mereka. Berbagai
ciri dan watak dari kebijakan rejim sekarang ini hampir seluruhnya dianaliasa
dengan menelusuri asal-usulnya (berhulu) pada struktur, fungsi, atau apa yang
dinamakan logika sistem politik yang ada sekarang. Inilah salah satu sebab
utama melimpahnya berbagai macam nama (label) yang diberikan bagi negara Indonesia ini.
Setiap kali seorang pengamat menangkap gambaran sesaat pada kurun sejarah
tertentu mengenai rejim yang berkuasa di Indonesia, maka ia dengan
tergesa-gesa menarik kesimpulan bahawa ia telah menemukan watak tertentu dari
rejim ini, yang dianggapnya penting. Watak tersebut kemudian dianggap sebagai
gambaran esensial dari negara Indonesia,
maka setelah itu ia memberikan nama tertentu bagi negara Indonesia.
Ketika baru-baru ini
terjadi resesi ekonomi dunia dan ketika harga minyak anjlok, rejim Indonesia
terpaksa mencari sumber pendapatan dari dalam negeri, misalnya dari berbagai
macam pajak. Gejala ini keruan saja memperjelas fakta bahwa selama ini rejim Indonesia
memang hidup dari penyewaan sumber daya alam ketimbang dari pajak, paling tidak
pajak resmi. Dan, karena ada gejala, dengan gampangnya teoritikus memberikan
label "negara rentenir (rentier state)" kepada negara
Indonesia.Pendekatan yang a-historis tersebut telah mengaburkan fakta bahwa
perjuangan kelas merupakan konteks yang terbaik dalam menganalisa negara
Indonesia. Pada tingkat
teoritis juga, itu lah asal-usul kesalahan cara pandang tentang otonomi negara.
Otonomi Negara
Sebenarnya ada
suatu proposisi fundamental, yang kadang dinyatakan kadang tidak, yang
tersembunyi di balik gagasan tersebut, yakni proposisi terhadap apa yang
terjadi pada tahun 1965-1966: di Indonesia, pada tahun-tahun itu,
"negara" merebut kekuasaan. Pengertian tersebut telah dirumuskan
dengan berbagai cara. Salah satunya adalah bahwa: Angkatan Bersenjata telah
mengambil alih kekuasaan. Yang lainnya bilang bahwa: birokrat-politislah yang
mengambil alih kekuasaan. Yang lainnya lagi bilang, dengan cara yang paling
terang-terangan (ex-plicit) dan radikal, bahwa: komponen "negara" lah
dari suatu "negara-nasional" (nation-state)" yang mengambil alih
kekuasaan, dan itu berarti "negara" lah yang telah mengambil
kekuasaan dari "bangsa." Landasan empiris dari proposisi tersebut biasanya
diletakkan pada kenyataan bahwa tentara menguasai pemerintahan. Sebagai gejala,
hal itu memang benar. Bentuk pemerintahan yang muncul sebagai wujud
keberhasilan dari tindakan kontra-revolusi 1965-1966 adalah kediktatoran
tentara. Karena tentara kemudian merupakan bagian dari aparat (alat) negara,
jadi logis nampaknya bila dinyatakan bahwa aparat negara itu sendiri lah yang
mengambil alih kekuasaan. Akan tetapi, argumentasi tersebut menimbulkan
sejumlah persoalan. Salah satu cara mereka memahami persoalan tersebut adalah
dengan memberikan perhatian sesaat kepada fakta bahwa kelompok Soeharto
berhasil merebut kekuasaan melalui perjuangan politik yang berlangsung bukan
saja di antara kelas masyarakat umum, tetapi juga di dalam lingkup aparat
negara itu sendiri. Apakah dapat dibenarkan mempertahankan pendapat yang
mengatakan bahwa "negara berhasil memperoleh kekuasaannya sebagai akibat
dari kekalahan negara itu sendiri?" Atau barangkali ada yang berpendapat
bahwa mereka yang dikalahkan tidak lah mewakili negara, tapi mewakili kekuatan
lain (kekuatan masyarakat, barangkali?) Tetapi mengapa? Mengapa Soeharto saja
yang mewakili negara, dan bukannya mereka yang dikalahkan? Tidak. Jawaban
sesungguhnya haruslah menggunakan analisa yang dapat menjelaskan bahwa
tampilnya Soeharto ke panggung kekuasaan berkaitan dengan perubahan dalam
perimbangan kekuatan sosial yang menguntungkan salah satu kekuatan sosial
tertentu. Dengan demikian kita dapat memberikan jawaban yang lebih benar dalam
menjawab pertanyaan: "apa dan siapa yang diwakili oleh Soeharto?"
Tapi,
ijinkanlah aku untuk mengemukakan tinjauan kritisku ini dengan lebih spesifik
lagi. Pertama-tama, sebaiknya kita mengajukan pertanyaan: "jika negara Indonesia itu
mandiri, atau katakanlah relatif mandiri, maka ia mandiri dari siapa?"
Gagasan tentang kemandirian relatif negara muncul di kalangan Eurocommunist,
yang mengkritik Marxisme-Leninisme klasik yang memandang negara sebagai alat
(instrumen) kekuasaan kelas. Gagasan tentang kemandirian relatif negara mengacu
kepada kemandirian negara dari kelas yang berkuasa. (Aku tidak akan
mengulang-ulang kata "relatif" karena, dalam kasus Indonesia,
kritikku ditujukan kepada kedua teori tersebut). Dalam kasus Indonesia,
apakah negara itu mandiri dari kelas kapitalis dan/atau modal internasional,
atau apakah kelas yang berkuasa adalah aparat negara itu sendiri, yakni tentara
dan birokrat, atau priyayi? Apakah
negara Indonesia itu mandiri dari kelas kapitalis, ketika ia (negara) membuat
keputusan? Marilah kita merumuskan pertanyaan dengan lebih konkrit lagi. Apakah
berbagai aparat negara-pemerintah tentara dan polisi, pengadilan, sekolahan dan
sebagainya yang digunakan oleh para pejabat tingginya sebagai kaki tangan
negara, mandiri terhadap keinginan dan kekuasaan kelas kapitalis Indonesia?
Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut,
harus kita jernihkan (segamblang-gamblangnya) dahulu, "terdiri dari siapa
saja kelas kapitalis Indonesia itu?" Satu-satunya hal berharga yang
disumbangkan oleh bukunya Robison adalah bahwa: ia telah berhasil
mendokumentasikan komposisi dari kapitalis lokal Indonesia. Dan buku tersebut
mengandung bukti yang memadai yang dapat menjelaskan bahwa komponen yang paling
kuat menguasai wilayah strategis adalah:
Keluarga
pimpinan kunci kudeta kontra-revolusi di Indonesia 1965 (baca: keluarganya
Soeharto,-ed.) beserta kerabat dekatnya, dan para pengusaha tertentu dari
keturunan Cina. Robison juga membenarkan bahwa ada kesinambungan (baca:
regenerasi,-ed.) keberadaan kapitalis santri yang kurang berpengaruh dan
kelompok kecil kapitalis lainnya.
Dengan memperhitungkan
hal tersebut, barulah kita absah untuk kembali kepada pertanyaan yang diajukan
pada alinea sebelumnya. Apakah keputusan yang dibuat untuk mendayagunakan
aparatus negara dilakukan dengan terlepas dari keinginan dan kekuasaan para
pengusaha keluarga pimpinan kunci kontra-revolusi dan kelompok kecil pengusaha
Cina sahabat-sahabat mereka? Atau lebih rinci lagi, apakah keputusan tersebut
dibuat dengan terlepas dari keinginan Soeharto, Soedharmono, Ibnu Soetowo,
Surya dan yang lain-lainnya? Jawabannya jelas dan pasti: TIDAK!! Sungguh,
ketimbang ngotot membenarkan penjelasan bahwa negara Indonesia memiliki
kemandirian, bahkan kemandirian yang relatif sekalipun, aku pikir lebih baik
bila berkesimpulan bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang paling
dikuasai oleh kelas yang berkuasa, yakni kelas kapitalis, melalui salah satu
fraksinya yang paling kuat, yaitu fraksi keluarga pimpinan kontra-revolusi
1965, yakni keluarga Soeharto.
Tetapi orang bisa
saja akan berkata bahwa para keluarga tersebut hanyalah sekadar
"pembengkakan dari negara", yang mengabdikan kekuasaan mereka pada
jabatan mereka selaku abdi-negara. Memang benar, bahwa asal-usul mereka sebagai
komponen yang sangat penting dan besar secara ekonomi paling tidak pada tingkat
yang artifisial berpangkal dari keberhasilan mereka merebut kekuasaan
pemerintah dan Angkatan Bersenjata pada tahun 1965. (Asal-usul yang lebih
dalam/mengakar, yang akan aku jelaskan lebih lanjut, adalah penjelasan mengapa
justru mereka yang mampu merebut kekuasaan pemerintahan dan memperoleh
kepemimpinan di kalangan Angkatan Bersenjata). Tapi, apakah mereka bisa
disamakan dengan/sebagai negara? Apakah absah secara analitis mencampur-adukkan
keduanya? Dan apakah secara politis dapat dibenarkan?
Ijinkanlah aku mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
apabila Soeharto, Soedharmono, Ibnu Soetowo, Soedomo dan yang lain-lainnya
mati, siapakah yang akan mewarisi perusahaan semen, mobil, kretek, hotel,
peralatan listrik, transportasi, asuransi, pengapalan/perkapalan, ekspor-impor
dan yang lain-lainnya, yang kini mereka miliki? Anak-anak mereka atau para
walinyakah? Ataukah semuanya itu akan menjadi milik negara? Tentu saja, tidak
menjadi milik negara. Semua kekayaan tersebut adalah mutlak milik pribadi
mereka (melalui PT-PT nya, tentunya). PT-PT itu dimiliki oleh para keluarga dan
dikelola demi keuntungan mereka, bukan demi negara.
Bagaimana halnya dengan perusahaan-perusahaan
negara? Para keluarga tersebutlah, di bawah pimpinan keluarga Soeharto, yang
mengontrol pemerintahan yang mengelola perusahaan-perusahaan negara.
Perusahaan-perusahaan negara dikelola demi keuntungan para keluarga tersebut.
Dalam hal ini, ada 2 hal yang harus diperhatikan.
Setelah
pemerintahan Soekarno, kecenderungan umum di bawah kepemimpinan Soeharto adalah
swastanisasi, bukan perluasan perusahaan-perusahaan milik negara. Lihat saja,
pertama-tama, semua perusahaan milik Amerika dan Inggris yang sudah
dinasionalisasikan (pada jaman pemerintahan Soekarno, ed.), dikembalikan.
Perusahaan-perusahaan milik negara dan Belanda yang sudah dinasionalisasikan,
pada mulanya memang tetap dipertahankan sebagai milik negara. Akan tetapi
perusahaan-perusahaan tersebut secara berangsur-angsur mulai diubah dari PN
(Perusahaan Negara) menjadi PT (Perseroan Terbatas). Hal itu terutama terjadi
pada dekade 80-an, saat para keluarga yang paling berpengaruh tersebut sedang
menghimpun dana untuk membeli, atau paling tidak, memasukkan andil ke dalamnya.
Sebagian besar
perusahaan milik negara digunakan untuk membagi-bagikan (menjual) berbagai
kontrak baik kepada perusahaan-perusahaan asing atau swasta lokal. Bahkan
PERTAMINA, pada hakekatnya merupakan agen bagi pemerintah dalam berurusan
dengan Mobil Oil, Caltex dan yang lain-lainnya.
Karena itu, aku melihat negara Indonesia pada
hakekatnya adalah sebuah negara kapitalis neo-kolonial, yang dikuasai oleh
kelas kapitalis lokal yang bersekutu dengan modal internasional melalui
sebagaimana biasanya kasus yang terjadi fraksi-fraksi kaum modal (baca:
kapitalis,-ed.) yang paling kuat pada saat itu. Tapi masalahnya tidak selesai
sampai di situ saja. Karena Indonesia memiliki sejarah pasca-kemerdekaan yang
dalam banyak hal berbeda dengan berbagai negeri Dunia Ketiga lainnya.
Kelemahan Politik Borjuasi Indonesia
Sebelum membicarakan sejarah Indonesia yang
luar biasa ini, pertama-tama adalah perlu untuk menjawab pertanyaan tentang
peranan modal internasional, yakni imperialisme. Dengan begitu akan membimbing
kita secara benar kepada permasalahan (diskusi tentang) sejarah Indonesia
pasca-kolonial yang luar biasa tersebut. Proposisi yang hendak aku kemukakan di
atas adalah: negara Indonesia adalah instrumen dari kelas kapitalis Indonesia,
yaitu persekutuan antara keluarga pasca-65 yang paling berpengaruh dengan modal
internasional, yang menggunakan alat-alatnya dengan begitu kuasanya.
Terputus Dari Imperialisme
Tetapi, apakah hakekat dari persekutuan
dengan modal internasional? Richard Tanter, dalam makalahnya yang
dipersembahkan pada Universitas Monash, dengan tepat mengidentifikasi dua hal
penting yang berkaitan dengan hubungan ekonomi: "ketergantungan" pada
ekspor minyak (dan gas) dan pinjaman IGGI. Dengan menggunakan konsep "negara rentenir
(rentier state)", Tanter menjadikan "negara" sebagai sesuatu
yang tergantung. Tapi, dalam hal ini, lagi-lagi kita harus lebih rinci: siapa
atau apa yang tergantung? Juga kepada siapa atau untuk apa?"
Aku akan jelaskan dengan cara begini: ekonomi
Indonesia sangat tergantung pada kesinambungan ekspor minyak dan gas bumi
(dahulu karet dan gula) dalam jumlah besar (juga ekspor kayu dan tekstilnya),
demi pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sangat tergantung pada
sejumlah besar pinjaman luar negeri. Bila ekspor tersebut jatuh pada tingkatan
tertentu, maka peluang investasi akan mengecil/merosot. Sehingga, keuntungan
investasi yang ada pun akan cenderung merosot, kecuali jika biaya investasi
tersebut juga menurun (dapat dikurangi). Dalam keadaan demikian, tentu saja
sangat berat bagi para keluarga tersebut untuk mengeduk keuntungan yang sama
dengan masa sebelumnya. Sehingga kemudian akan timbul tekanan bagi patron
politik untuk menyalurkan uang demi mensubsidi keuntungan tambahan. Inilah
problem sosial yang diakibatkan oleh terlalu jatuhnya tingkat ekspor dan
pinjaman luar negeri, atau kenaikannya yang tidak terlalu tinggi. Sejalan
dengan itu, timbul kebutuhan untuk mengendalikan ketegangan politik yang
terkandung di kalangan kelas buruh dan tani, sebagaimana juga terkandung di
kalangan kelas menengah dan pengusaha non-keluarga.
Aku akan memberikan sanggahannya: dominasi
imperialisme terhadap Indonesia merupakan sesuatu yang sangat umum, atau berada
pada tingkat makro. Ekonomi Indonesia adalah ekonomi yang TERGANTUNG DEMI
PERTUMBUHANNYA kepada ekspor komoditi tunggal (energi) KARENA Indonesia adalah
bagian sitim kapitalis dunia, yang pasarnya untuk komoditi-komoditi lain pada
hakekatnya TELAH dikuasai oleh negeri-negeri industri besar. Namun, melalui
kebijakan ekonomi IGGI (sekarang CGI), pasar bagi Indonesia dengan sendirinya
dimonitor agar dapat DIJAMIN ruangnya. Oleh karena itu, aku tidak menganggap
rezim Soeharto adalah rejim "boneka". Indonesia memang pro-Barat,
akan tetapi kebijakan pro-Baratnya mengikuti alurnya sendiri. Indonesia
mengarah ke pembangunan kapitalis, di ruang yang tersedia baginya, akan tetapi
sedapat mungkin akan memperluas ruangnya, sekecil apapun. Bahkan secara budaya,
Indonesia tidaklah seperti Filipina ataupun Amerika Latin, yang dipengaruhi
kebudayaan Imperialis Amerika. Rezim Indonesia berusaha mengembangkan
kebudayaan elitis, kosmopolitanisme ala Indonesia, ketimbang kebudayaan elit
ala Amerika, Jepang, Anglikan ataupun Belanda. Mengapa kelas kapitalis yang
kecil dan baru, dalam ekonominya yang belum dalam taraf industrialisasi maju,
justru sanggup berdiri bebas (independent) dari negeri-negeri imperialis dalam
mengejar berbagai kepentingannya sendiri yang pro-Barat, pro kepentingan
kapitalis? (misalnya dalam isu pangkalan perang, Vietnam, penunjukan duta
besar, sektor-sektor ekonomi yang terbuka bagi modal asing, dan lain
sebagainya).
Semua alasan yang aku kemukakan adalah sama,
yakni bahwa Indonesia, sebagai negeri bekas jajahan, memiliki sejarah yang luar
biasa yang bertolak dari pernyataan umum: revolusi nasional telah memberikan
kemerdekaan politik, tapi kemerdekaan ekonomi. Ini lah proposisi utama bagi
semua negeri neo-kolonial. Dalam kasus ini, kurangnya kemerdekaan ekonomi ini
lah yang dapat menjelaskan kesinambungan kekuasaan politik imperialis dalam
berbagai bentuk dan cara atau paling tidak selama dekade 70-an, awal dekade 80-an,
sebelum resesi sempat menggoyahkan negeri-negeri Dunia Ketiga. Sebagaimana aku
telah kemukakan sebelumnya, Indonesia telah dan merupakan subyek dari
kungkungan kekuasaan ekonomi imperialis pada tingkat umum atau makro. Perlu
kiranya aku nyatakan kembali argumen yang lebih memiliki konteks historis:
Indonesia yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda (dan pendudukan Jepang),
merupakan Indonesia yang terbelakang dan belum terindustrialisasikan, serta
TIDAK SANGGUP BERSAING dengan negeri-negeri kapitalis besar. Ekonominya hanya
sanggup berkembang di sekitar ruang yang telah dimiliki sebelumnya.
Imperialisme tidak mencampurinya secara langsung, akan tetapi memanfaatkan
keterbelakangan ekonominya. Karena adanya campur tangan imperialislah, sejarah
Indonesia memiliki aspek yang luar biasa. Perang Dunia II menghancurkan arti
penting posisi Belanda sebagai negeri imperialis. Jepang tidak hanya menduduki
Indonesia, tetapi juga menghancurkan basis modal (ekonomi) dan hegemoni
(politik) Belanda, terlebih-lebih negeri Belanda sendiri diduduki Jerman dan
dijadikan ajang peperangan. Belanda tidak bisa memulihkan martabat politiknya
di Indonesia, walaupun ia turut serta dalam peperangan melawan Jepang.
Walhasil, walaupun Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya, dan kehadiran
sebagian kepentingan ekonomi Belanda bisa dipulihkan, namun tidak terdapat
dominasi mutlak ekonomi neo-kolonial Belanda terhadap Indonesia. Apalagi pada
tahun 1957-1958, kehadiran ekonomi Belanda mutlak amblas. Dan, apa pun
penyebabnya, kehancuran ekonomi Belanda di Indonesia tidak digantikan oleh
dominasi ekonomi neo-kolonial Inggris atau pun Amerika. Sementara itu, karena
ketidakmampuannya untuk bersaing, Indonesia sendiri tidak bisa memanfaatkan
ruang yang tersedia baginya.
Sebagai negeri yang baru merdeka, dengan
sejarah kolonial dimana Belanda menghambat pertumbuhan klas pengusaha pribumi,
Indonesia hanya memiliki kelas kapitalis (atau tuan tanah) yang, secara ekonomi
dan politik, lemah. Di samping itu tidak ada kelas kapitalis asing yang secara ekonomi
dan politik, dominan. Indonesia tidak lain merupakan bagian yang dikuasai dan
diperas oleh sistim imperialis, sebagaimana juga negeri-negeri Dunia Ketiga
lainnya. Akan tetapi IMPERIALIS TIDAK PUNYA AGEN apakah itu boneka atau pun
sekutu YANG EFEKTIF, saya ulangi, EFEKTIF di negeri ini. Tidak berlebihan
kiranya bila dikatakan bahwa memang benar kelas kapitalis dan pemilik tanah lah
yang berkuasa. Mereka bisa berkuasa melalui partai-partainya Masyumi, NU, PNI
dan lain sebagainya. Uang dan kekuasaan partai-partai ini selalu saja pada
akhirnya, berasal dari kelas-kelas yang berpunya, walaupun mereka mengakui
butuh dukungan rakyat, yang dipenuhi dengan konsesi nyata atau retorika.
Kekuasaan mereka sebenarnya amatlah lemah. Tidak cukup mufakat yang mereka hasilkan
mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan. Juga terdapat persaingan mengenai
fraksi mana yang akan memimpin. Pemerintahan jatuh bangun. Walaupun pada dekade
50-an ada kemajuan di bidang ekonomi, tapi sangat lambat. Dan yang terpenting,
proyek politik kelas borjuis yang mencoba berkuasa ini berupa konsolidasi
kekuasaan demokrasi borjuis mengalami kegagalan. Ketimbang pertanyaan Hary J.
Benda, aku pikir pertanyaan Feith mengenai mengapa demokrasi konstitusional
gagal, adalah benar-benar sepenuhnya absah. Mengapa? Karena hal tersebut
merupakan proyek politik yang sangat penting bagi kelas yang berkuasa pada
waktu itu jadi, tentu saja, sangat penting untuk memahami mengapa mereka gagal
Dengan kelas kapitalisnya yang kurus kering,
yang disengsarakan oleh Perang Dunia dan ekonominya yang belum
terindustrialisasi, serta tidak hadirnya kelompok ekonomi asing yang memiliki
boneka atau sekutu lokal, maka tidak mengherankan bila mereka gagal. Pertanyaan
pokoknya: penyebabnya tidak lain adalah kelemahan politik dan kecilnya borjuis
serta tuan tanah Indonesia, atau lebih tepatnya, itulah hakekat sebenarnya dari
kelemahan mereka. Di dalam dan di antara mereka sendiri, berbagai kelas
tersebut tentu saja terpecah belah. Sangat jelas tercermin dari banyaknya
jumlah partai yang mengemban kepentingan kelas kapitalis dan tuan tanah
Indonesia: Masyumi, NU, PSII, PNI, dalam banyak hal, dan bahkan PSI. Pemilahan
tersebut mencerminkan fakta bahwa kelas kapitalis Indonesia secara mendasar
masih berbasis kedaerahan. Kebijakan Belanda dahulu menyebabkan pasar nasional
dikuasai hampir sepenuhnya oleh modal Belanda dan Cina. Sebagian besar
pengusaha pribumi hanyalah melayani pasar regional atau mengekspor dari daerah
masing-masing. Sebagai akibat tatanan politik semacam itu, mereka menjadi
semakin terseret atau terlibat ke dalam berbagai pandangan yang mencerminkan
dominasi keagamaan, budaya dan ideologi masing-masing daerah. Partai-partai
tersebut, walaupun berusaha untuk menjadi dan bermakna pada tingkat nasional,
namun tetap saja pada dasarnya merupakan partai yang berbasis kedaerahan. Oleh
karena itu kelas penguasa terpecah-pecah ke dalam batas-batas kedaerahan,
etnik, keagamaan dan budaya.
Kelemahan Ideologi: Warisan Kerakyatan
Tapi ada kelemahan yang lebih penting.
Kecilnya pasar dalam negeri, tentu saja mencerminkan status ekonomi kolonial
yang terlalu mengutamakan layanan pada modal Belanda yang berorientasi pada
pasar ekspor. Kapitalisme
dibawa ke Hindia Belanda tidak melalui revolusi borjuis, tetapi melalui
kolonialisme. Hubungan-hubungan sosial feodal dan pra-borjuis tidak sepenuhnya
"hancur lumat (remuk redam)" dengan adanya ledakan kemampuan
teknologi dan tenaga produktif (productive forces) yang memerlukan
hubungan-hubungan sosial yang baru. Jadi ideologi dan cara berpikir feodal juga
tidak dihancur-lumatkan oleh ledakan gagasan-gagasan borjuis baru. Di
Indonesia, feodalisme sedikit demi sedikit dikikis oleh menipulasi kolonial,
demi kepentingan imperialis. Ideologi dominan yang hidup di setiap tingkatan
masyarakat Indonesia pada umumnya berwatak pra-borjuis. (Buku roman Bumi
Manusiayang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada intinya menganalisa
bagaimana ideologi pra-borjuis tersebut mendapatkan tantangan dari borjuis
nasional, dan tantangan tersebut gagal). Gambaran mendasar dan esensial
ideologi yang diterima oleh semua partai terkemuka tersebut adalah panggilan
keagamaan mereka, yang merupakan bentuk yang biasanya terdapat pada ideologi
feodal. (Di bawah kekuasaan kapitalisme Victoria, agama diubah menjadi
moralitas murni-kudus-kere (puritan moralism). Tentu saja, gagasan-gagasan
borjuis, yakni "modernisme," selalu harus bertarung untuk memperoleh
tempat di antara ideologi-ideologi tersebut. Akan tetapi, untuk tujuan
menegakkan suatu "demokrasi konstitusional" yang stabil,
ideologi-ideologi yang ada pada waktu itu tidaklah memadai. Panggilan
keagamaan, yakni pengutamaan pada keyakinan dan kepercayaan (ketimbang pada
akal dan ilmu), pengutamaan pada segala yang kolektif (ketimbang pada
individu), pengutamaan pada kepemimpinan kolektif-organik (ketimbang pada
"perwakilan profesional"), semuanya akan menghadang usaha hegemoni
Gramscian (yang berusaha memekarkan dan meranumkan ideologi borjuis).
Keadaan
buruk masih saja menghadang kelas kapitalis Indonesia yang baru lahir tersebut,
termasuk menghadang para pengagum nilai-nilai demokrasi borjuis (seperti PSI,
Hatta), karena sementara itu kaum nasionalis juga berjuang dengan menggunakan
ideologi pra-borjuis untuk menghimpun kekuatan, dan pada saat yang sama
menyebarkan gagasan-gagasan demokrasi kerakyatan dan keadilan sosial. Konsep
Marhaen-nya Soekarno cocok dengan (memperoleh tanggapan dari) kesadaran yang
benar-benar ada dan hidup pada saat itu rasa kebersamaan beserta kepemimpinan
organiknya; hubungan patron-klien yang meluas dapat digunakan untuk menghimpun
kekuatan. Aku sepenuhnya yakin bahwa tradisi pergerakan nasional adalah
radikalisasi (sedemikian rupa) hegemoni ideologi pra-borjuis, sehingga sanggup
memojokkan kekuatan borjuis, dan juga menguntungkan kaum kiri. Hal tersebut
bisa terjadi karena kepemimpinan politik baik yang revolusioner atau pun yang
patron telah berhasil mengangkat gagasan "klien kolektif
(kebersamaan-persaudaraan) sebagai dasar kejayaan Marhaen dan Rakyat (pakai
huruf besar M dan R). (Dan tentu saja, berbagai keterbelakangan jenis-jenis
feodal juga menghendaki masuknya agama ke dalam parlemen). Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan bahwa salah satu konsep yang pertama-tama diperkenalkan
oleh Orde Baru adalah "massa mengambang". Seringkali kita mengkritik
konsep tersebut sebagai bagian dari otoritarianisme Orde Baru. Tapi pada
kenyataannya, konsep tersebut hanyalah merupakan suatu pernyataan terbuka
tentang kunci untuk memapankan demokrasi borjuis. Di Indonesia disebut
"massa mengambang"; di Barat, TIDAK KURANG BEDANYA, BAHKAN LEBIH
DITERIMA SEBAGAI BAGIAN DARI IDEOLOGI DOMINAN. Konsep tersebut merupakan
prasangka untuk menentang apa yang mereka sebut sebagai "sarang-sarang
tikus," "ekstrimis," "penghasut," dan "kesenangan
berpamer-pamer." Gagasan bahwa massa sebagai penentu melalui kotak-kotak
suara pemilu, yang sebenarnya tidak berbeda dengan "massa
mengambang," tidak lain merupakan hakekat demokrasi borjuis. Hanya di
Indonesia, konsep tersebut dengan brutal dipaksakan karena, sederhana saja,
konsep tersebut bukan bagian dari hegemoni ideologi.
Terbongkarnya Kelemahan: 1957-1958, Tantangan Terhadap Dua Medan
Dalam "Decline of Constitutional
Democracy", Feith dengan tegas mengidentifikasikan kecenderungan utama
dari dua periode yang ia bahas atau, lebih tepatnya, membeberkan kemerosotan
borjuasi tradisional beserta partai-partainya. Tahun 1959 sering dianggap
sebagai akhir periode Demokrasi Parlementer, dan awal Demokrasi Terpimpin.
Musik pengantar ke arah perubahan tersebut sebenarnya terjadi pada tahun-tahun
1957-58. Pada periode tersebut lah borjuasi "tua bangka" menghadapi
tantangan yang terberat. Dan gagal.
Ada tiga medan
tantangan yang harus dihadapi, dengan segala kesulitan dan kelemahan-nya
masing-masing, seperti telah diterangkan di atas. Pertarungan tersebut
sebenarnya tidak lain daripada persiapan bagi kekalahan mereka (borjuis). Medan
pertama adalah saat mereka menghadapi perpecahan tajam di antara mereka
sendiri, ketika para pemimpin tentara di Sumatra dan Sulawesi melancarkan
pemberontakan bersenjata dengan didukung oleh sejumlah politikus kanan. Yang
kedua, saat mereka menghadapi cepatnya pertumbuhan gerakan kiri dikalangan
massa. Dan yang terakhir, saat mereka menghadapi tantangan dari kepemimpinan
Angkatan Bersenjata, yang sudah siap mengambil keuntungan dari ketidak mampuan
borjuis dalam menghadapi kedua tantangan di atas.
Kadar kemampuan
ekonominya yang kecil, kurangnya aliansi atau dukungan efektif dari
imperialisme, perpecahan ke dalam dan, yang terpenting, kelemahan akut
ideologinya, menyebabkan KELAS KAPITALIS INDONESIA (YANG LEMAH PERSEKUTUANNYA
DENGAN TUAN TANAH) BEGITU TAK MAMPUNYA MENGALAHKAN GERAKAN BURUH DAN PETANI
MELALUI ALAT-ALAT POLITIK.
Walaupun
dihancurkan pada tahun 1948, PKI telah berhasil tumbuh menjadi salah satu dari empat
partai besar di tahun 1955 dan memenangkan pemilu daerah pada tahun 1957. Media
massanya, serikat buruhnya, persatuan senimannya bisa tumbuh menjadi besar.
Padahal PKI selalu menjadi sasaran pemberangusan, prasangka keagamaan, dan
perang dingin internasional. Aku pikir, kadangkala kita amat teledor mengenai
hal ini; kita meremehkan arti kecepatan dan kebesaran pertumbuhan gerakan massa
terbuka KOMUNIS, yang menyebakan borjuis benar-benar tidak mampu lagi
menyainginya dengan alat-alat ideologi dan politiknya. Hanya dalam tujuh tahun
PKI bisa berkembang pesat! Bagaimana jadinya jika sepuluh atau lima belas
tahun?
Kemudian gerakan serikat buruh berhasil
menguasai sejumlah besar sektor ekonomi modern, yang tadinya berada di tangan
Belanda. Menguasainya! Tidak melalui negara, tidak melalui undang-undang, tapi
secara sepihak! Bahkan sering terjadi dengan tanpa kepemimpinan PKI atau
pemimpin-pemimpin SOBSI sendiri. Bagaimana reaksi gerakan buruh seandainya pada
waktu itu ada instruksi pemerintah untuk mengembalikannya? Apakah mereka harus
menjualnya kepada perusahaan swasta, atau mengembalikannya kepada pemerintah
pada saat itu? Mudahnya pengambilalihan mencerminkan betapa tidak bertenaganya
partai-partai konservatif yang ada. Dan akhirnya, tentaranya lah yang
memberikan jawaban kepada buruh.
Aku menganggap
tindakan tentara ini sebagai arus balik yang penting dalam kehidupan politik
Indonesia, sebuah mata air bagi perjuangan kelas di Indonesia. Setelah
kegagalan (fiasco) pada tahun 1948, gerakan buruh dan tani Indonesia berkembang
dengan kekuatan-kekuatan barunya, sementara kekuatan-kekuatan borjuis saling
bercakar-cakaran. Kelemahan ideologi dan politik partai-partai konservatif
diperburuk oleh iklim anti-imperialis pada masa itu. Kelemahan pokok lainnya
adalah kurangnya pengaruh organisasi-organisasi sipil borjuis terhadap Angkatan
Bersenjata, sebagai bagian dari revolusi politik kaum nasionalis.
Terlebih-lebih lagi, banyak kelompok perwira Angkatan Bersenjata sendiri mulai
bermunculan sebagai borjuis kecil, yang mulai memperkaya dirinya sendiri
melalui keterlibatannya dalam penyelundupan dan bentuk-bentuk perdagangan
lainnya. Sangat penting untuk digarisbawahi bahwa kepemimpinan Angkatan
Bersenjata, yang bekerjasama dengan partai Murba, memainkan peranan ketika
menghasut buruh dalam aksi pengambilalihan di tahun 1957. SOBSI, yang
dipengaruhi PKI, masuk ke dalam jebakan hasutan tersebut dengan maksud agar
aksi tersebut tidak ditunggangi oleh saingan kanannya. Ketika tentara mengambil
alihnya kembali, Soekarno justru mendukungnya. Dan ini merupakan kekalahan yang
sangat berarti bagi gerakan buruh-tani. Keadaan menjadi semakin parah karena
tidak ada kampanye untuk semacam nasionalisasi sejati, di mana buruh dapat
menguasai hasil perjuangannya. Kekalahan tanpa pertarungan adalah lebih
melumpuhkan ketimbang setelah bertarung. PKI membatasi upayanya: tuntutannya
hanya sekadar mengikutsertakan wakil buruh dalam dewan perusahaan.
Dari sudut
pandang PKI sendiri, aksi pengambilalihan tersebut dianggap terlalu pagi
(premature). Mereka terpaksa masuk ke dalamnya atas prakarsa Murba-Angkatan
Darat. Dalam konteks pemberontakan tentara sayap kanan di daerah-daerah,
kepemimpinan PKI telah dipojokkan untuk menyetujui diumumkannya undang-undang
darurat. Dalam kedua kasus tersebut, PKI telah kehilangan prakarsanya dalam
menghadapi Angkatan Darat. PKI selanjutnya berada dalam kerangkeng persekutuan
dengan kepemimpinan AD dan Soekarno dalam menumpas pemberontakan PRRI. Akan
tetapi PKI berada dalam ruang aliansi yang situasinya menyebabkan mereka
kehilangan inisiatif politik: mereka dipaksa mengekor di belakang kekuatan
Murba-Angkatan Darat. Jalan terbaik bagi mereka: mulai menggalang persekutuan
mereka yang mendalam dengan Soekarno.
Kapitalis Bersenjata
Pengambilalihan
perusahaan-perusahaan tersebut oleh tentara juga dianggap sebagai kekalahan
partai-partai konservatif, dan dalam beberapa hal, kekalahan
organisasi-organisasi politik klas borjuis dan klas pemilik tanah Indonesia.
Partai-partai tradisional kehilangan inisiatifnya dalam menghadapi Angkatan
Bersenjata dan Soekarno. Terlebih-lebih, ruangan telah terbuka bagi perluasan
kapitalis bersenjata karena mereka kini telah menguasai perusahaan-perusahaan
bekas milik Belanda. Dalam hal ini, pertanyaan yang harus diajukan adalah:
apakah PADA MASA KINI tentara sesungguhnya sedang mempraktekan kebebasan
relatif mereka terhadap kelas yang dominan secara ekonomi? Aku pikir, dalam hal
ini terdapat dua faktor yang harus diteliti. Pertama, pada akhirnya, kelas
borjuis Indonesia beserta para penghisap di pedesaan, yaitu para pemilik tanah
dan birokrat, tergantung kepada tentara untuk menentang dirinya dalam
menghadapi revolusi. Kelas dominan tersebut terlalu lemah ketika menghadapi
oposisi revolusioner. Kedua, Angkatan Bersenjata Indonesia sesungguhnya
diciptakan oleh revolusi nasional, gerakan yang melibatkan multi-kelas. Hal ini
tidak saja tercermin dari komposisi dalam tubuh Angkatan Bersenjata, akan
tetapi, yang terpenting, kurangnya identitasnya terhadap salah satu kelas di
Indonesia. Ketiga, dengan menggunakan senjatanya, banyak sekali seksi-seksi di
ketentaraan yang telah aktif sebagai kapitalis. Kita tahu dengan jelas bahwa
panglima-panglima daerah banyak yang melibatkan dirinya dalam penyelundupan
dan/atau bekerja sama dengan pengusaha setempat.
Kemenangan
tentara dalam mengambilalih perusahaan-perusahaan Belanda, yang tadinya
dikuasai oleh buruh, mengandung dua aspek penting. Pertama, menciptakan
ketergantungan politik borjuis sipil kepada tentara, yang setuju dengan
keterlibatan tentara dalam menghadapi gerakan kiri. Dengan demikian memberikan
peluang bagi Angkatan Bersenjata untuk melakukan serangan politik yang luas.
Kedua, melapangkan jalan bagi fraksi kapitalis bersenjata dalam bekerja sama
dengan borjuis pribumi yang telah ada, yang lemah secara politik dan tidak
bersenjata. Dengan kata lain, lebih mempercepat proses keterlibatan komersial
perwira-perwira tentara.
Di dalam kelas
kapitalis itu sendiri sudah lama terdapat pertantangan historis, yang tumbuh
akibat kelemahan politik borjuis lama ketika menghadapi gerakan revolusioner.
Pertentangan tersebut adalah antara kapitalis yang BERSENJATA dengan yang TIDAK
BERSENJATA. --Di dalam Angkatan Bersenjata pun terjadi pemilahan antara
jendral-jendral yang satu mewakili kepentingan kapitalis bersenjata, dan yang
lainnya mewakili kepentingan Angkatan Bersenjata sebagai suatu institusi
ketentaraan--(Sampai sekarang, kedua faktor tersebut masih ada. Inilah
persoalan yang harus dihadapi oleh generasi kapitalis pasca-65 para kapitalis
dari kalangan kerabat dekat bila mekanisme untuk menguasai aparat negara, dalam
hal ini kepresidenan Soeharto berakhir.)
Hal yang harus
diperhatikan adalah bahwa tindakan pengambilalihan perusahaan-perusahaaan
Belanda oleh tentara sesungguhnya mewakili kepentingan umum kelas yang berpunya
di Indonesia. Bayangkan bila kelas buruh dan tanilah yang menguasai seluruh
sektor perekonomian modern Indonesia? (Pertentangan akhirnya dapat
diselesaikan, dengan kemenangan mereka yang paling dominan dalam
kontra-revolusi 1965-1966, walaupun pertentangan di antara kelas penguasa
Indonesia untuk selanjutnya berputar di sekitar sumbu itu-itu juga: misalnya
MALARI atau PETISI 50. Akan tetapi, karena pertentangan tersebut akhirnya
dimenangkan oleh KAPITALIS BERSENJATA, kapitalis Indonesia tetap saja tidak
dapat diatasi. Penghancuran fisik gerakan revolusioner HANYALAH satu-satunya
jalan untuk memperoleh keunggulan politik oleh karena mereka tidak mampu
mengalahkannya di bidang ideologi. Oleh karena itu ada kebutuhan untuk selalu
mengintip setiap kebangkitan gerakan yang berbau kerakyatan atau kiri).
Hal yang
pertama-tama harus aku tekankan adalah bahwa, sebagai suatu fraksi kelas,
sesungguhnya belum banyak makan asam-garam. Pada akhir dekade 50-an,
berlangsung dua proses.
Tumbuhnya
kelompok kapitalis bersenjata, yang barisannya adalah Soeharto. (Yang aku
maksud adalah dilihat sebagai gejala sosiologis, bukan sebagai kelompok politik
yang terorganisasi). Aku menyebut Soeharto, karena kelompoknyalah, sepanjang
yang aku temukan, yang pertama-tama memiliki bank dan perusahaan ekspor-impor
sendiri, serta yang menjalin kontak-kontak luar negerinya sendiri, seperti
dengan Malaysia.Semakin kuat kepemimpinan politik kelas borjuis yang lemah dan
terpecah belah. Nasution dan lain-lainnya mulai mengklaim KEPEMIMPINAN POLITIK
atas negeri ini. Perwira tentara seperti Nasution tidak lah bermaksud
"membuat negeri mandiri", akan tetapi ingin diterima sebagai pemimpin
politik oleh kekuatan-kekuatan sosial sejenis yang didukung oleh partai-partai
konservatif unggulan.Oleh karena itu, di masa Orde Baru, ia lebih dekat
hubungannya dengan para kapitalis yang berasal dari kerabat dekat (konco-konco)
pelaku-pelaku utama kontra-revolusi 1965-1966. Pada masa itu, hal tersebut
menciptakan tekanan kepada Angkatan Bersenjata agar mewakili kepentingan
kekuatan-kekuatan tradisi konservatif. Semua itu artinya, anti-partai tapi
pro-kapitalis, atau kebijakan-kebijakan pro-Barat: kebijakan-kebijakan yang
sesuai dengan kepentingan kelompok-kelompok pengusaha yang ada, tapi menentang
wakil-wakil politik tradisional mereka dalam merebut kekuasaan.
Tapi Angkatan
Bersenjata berada dalam posisi yang tidak mampu berjuang sendiri dalam
menghadapi oposisi Kiri, bahkan bila seandainya pun mereka dikalahkkan dalam
aksi pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda. Mereka bersaing dengan
kepemimpinan tradisional konservatif, yakni partai-partai yang terpecah belah
dan tak berkemampuan. Yang jelas, mereka juga tidak dapat bersekutu dengan
gerakan buruh-tani. Bagaimana pun juga, kebutuhan mendesak kampanye mereka
dalam menentang partai-partai, membawa mereka masuk ke dalam persekutuan dengan
Soekarno.
Dikeluarkan
Oleh departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang)
Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)






