Relasi antara agama dan politik itu sangat dinamis, unik, menarik, sekaligus lucu. Keduanya kadang saling berseteru. Tapi, bisa juga berdampingan dengan mesra. Sumanto Al Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya dan Kepala General Studies Scientific Research, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Mengambil contoh dari Pilkada Jakarta.
Sejarah
mencatat, tokoh, komunitas, dan institusi keagamaan bisa berperan menjadi
penjaga moral masyarakat serta pengkritik kekuasaan yang garang. Pula, agama
bisa menjadi sumber energi luar biasa untuk melakukan perlawanan terhadap rezim
korup dan despotik. Sejarah gerakan Gereja Katolik di Amerika Latin, Black
Chruches di Amerika Serikat, Sufi Sanusiyah di Lybia, atau Tarekat
Qadiriyah-Naqsabandiyah di Banten, Indonesia, hanyalah sekelumit contoh sejarah
dimana agama telah melakukan fungsi kritisnya sebagai medium kritik sosial
sebuah masyarakat sekaligus sarana perubahan politik sebuah tatanan kekuasaan.
Penting untuk dicatat, bukan hanya agama yang
melakukan perlawanan terhadap politik. Politik juga sering melawan,
mengintimidasi, dan menghancurkan agama. Dengan kata lain, hubungan sekaligus
nasib agama dan politik akan ditentukan oleh otoritas mana yang paling kuat dan
dominan dari keduanya serta bagaimana watak dan karakter para elit politik dan
elit agama yang kebetulan berkuasa. Jika politik menjadi “superordinat”, maka
agama akan berpotensi menjadi “subordinat”. Begitu pula sebaliknya.
Simbiose Mutualisme
Tetapi di sisi lain, agama juga bisa berfungsi
sebagai “stempel” atau legitimator politik-kekuasaan sejak zaman
"baheula" hingga dewasa ini. Di sejumlah negara, dewasa ini
agama-politik banyak melakukan “perkawinan” dan menjalin hubungan “simbiosis
mutualisme”: politik memberi jaminan proteksi keamanan masyarakat agama,
sementara agama memberi “legitimasi teologis” untuk melanggengkan kekuasaan
politik.
Dalam
konteks ini, secara teori, maka hubungan agama dan politik adalah sejajar
(koordinat), bukan saling mendominasi dan menguasai tetapi saling melengkapi
dan menguntungkan satu sama lain. Meskipun dalam prakteknya tentu saja tetap
terjadi “perselingkuhan” sana-sini dimana agama atau politik mencoba “main
mata” dan “berselingkuh” dengan pihak lain diluar “komunitas agama” (misalnya
kelompok adat, kaum pebisnis, sekuler-ateis, dlsb) atau bahkan secara diam-diam
saling menjegal dan mendelegitimasi otoritas masing-masing.
Diktum-diktum keagamaan (ajaran, diskursus, teks,
norma dan lain sebagainya) memang sangat lentur dan fleksibel sehingga mudah
untuk diseret-seret kesana-kemari sesuai dengan kepentingan pemeluknya.
Menarik pelajaran dari sejarah
Dalam konteks sejarah Indonesia, terjadi perkembangan
dinamis menyangkut relasi agama dan politik ini. Dulu pada masa kolonial, agama
berperan ganda: sebagai legitimasi kolonialisme sekaligus kritik sosial. Banyak
tokoh agama, Muslim khususnya, yang bekerja dengan pemerintah kolonial. Tetapi
pada saat yang bersamaan juga banyak di antara mereka yang menjadi pengkritik
dan pemberontak kolonial.
Pada zaman Orde Lama, Presiden Sukarno di satu sisi
mengakomodasi tokoh-tokoh Muslim (khususnya dari Nahdlatul Ulama) tetapi pada
waktu yang bersamaan melibas tokoh-tokoh Muslim lain (khususnya dari Masyumi)
yang kontra dengan kekuasaanya.
Pada masa Orde Baru, Presiden Suharto tidak melirik
kelompok Islam meskipun pada awalnya mereka digandeng untuk mengantarkan jalan
kekuasaan. Pak Harto lebih tertarik menggandeng kelompok abangan-kejawen dan
kalangan militer. Baru pada awal 1990-an, ia tertarik “melirik” Islam dengan
menggaet kelompok kelas menengah teknokrat di bawah bendera ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia) setelah terjadi friksi dengan sejumlah petinggi
militer. Pak Harto dulu juga tidak memberi ruang gerak secuilpun untuk
perkembangan “Islam politik” meskipun mendukung gerakan “Islam kultural” yang
apolitis.
Setelah
Pak Harto tumbang pada 1998, keran kebebasan berekspresi dan berserikat yang
dulu ditutup rapat, kini pun dibuka kembali lebar-lebar. Akibatnya, Indonesia
seperti kebanjiran kelompok-kelompok Islam ekstrim-konservatif.
Tumbuhnya kelompok intoleran
Mereka yang dulu bersembunyi karena ketakutan dengan
politik otoriter-militer Pak Harto, kini bermunculan bak cendawan di musim
hujan. Meski banyak sisi positif-konstruktif di era post-Suharto ini seperti
tumbuh-berkembangnya demokrasi dan kebebasan sipil tetapi ada sejumlah sisi
negatif-destruktif.
Merebaknya para “penumpang gelap” demokrasi seperti
kelompok-kelompok Islam garis keras (Muslim hardliners) yang intoleran,
anti-pluralisme, kontra-kebangsaan, mau menangnya sendiri, serta menggunakan
berbagai tindakan dan cara kekerasan untuk memuluskan agenda dan kepentingan
kelompoknya hanyalah sekelumit contoh dari sisi negatif-destruktif tadi.
Kelompok-kelompok
ini tidak segan-segan untuk memobilisasi massa (dan bahkan Tuhan) dengan
menggunakan sentimen-sentimen primordial agama dan etnisitas demi mencapai
kepentingan politik-ekonomi pragmatis. Inilah yang saya maksud dengan “politik
agama”, yakni “pemerkosaan agama” oleh sejumlah kelompok agama demi kepentingan
politik praktis sektarian.
Pengerahan massa oleh sejumlah “sindikat Islam”
untuk menjegal Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari bursa kandidat Gubernur
Jakarta dengan alasan bahwa ia seorang “Kristen” yang tidak layak memimpin
Jakarta yang mayoritas Muslim adalah contoh kecil tapi mencolok dari “politik
agama” ini.
Jika fenomena “politik agama” sektarian ini tidak
“dikelola” dengan baik, arif, dan bijak maka potensi kekerasan
komunal-horisontal bisa terjadi, dan spirit demokrasi yang sudah diperjuangkan
dengan susah-payah oleh kekuatan rakyat tahun 1998 bisa terkubur di kemudian
hari.
Thanks for reading & sharing Layang - Layang Hitam




0 komentar:
Post a Comment