Puasa Jangan Menjadi Penghalang Untuk berbagi
Puasa merupakan tempat pembinaan bagi setiap muslim untuk membina dirinya, di mana masing-masing mengerjakan amalan yang dapat memperbaiki jiwa, meninggikan derajat, memotivasi untuk mendapatkan hal-hal yang terpuji dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak. Juga memperkuat kemauan, meluruskan kehendak, memperbaiki fisik, menyembuhkan penyakit, serta mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengannya pula berbagai macam dosa dan kesalahan akan diampuni, berbagai kebaikan akan semakin bertambah, dan kedudukan pun akan semakin tinggi.
Allah Ta’ala telah mewajibkan bagi kaum muslimin untuk menjalankan puasa sepanjang bulan Ramadhan, bulan tersebut merupakan sayyidusy syuhuur (penghulu bulan-bulan lainnya), padanya dimulai penurunan al-Qur-an. Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan, pendekatan diri, kebajikan, kebaikan, sekaligus sebagai bulan pengampunan, rahmat dan keridhaan. Padanya pula tedapat Lailatul Qadar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mengenai keutamaan bulan ini dan puasa pada bulan ini telah disebutkan dalam banyak hadits, dan yang dapat kami sebutkan di antaranya:
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.”
“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” [1]
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ.”
“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” [2]
3. Hadits yang diriwayatkan dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.”
‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’” [3]
4. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ.”
‘Jika Ramadhan tiba, maka pintu-pintu Surga dibuka.’” [4]
5. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.”
‘Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu Jahannam akan ditutup dan syaitan-syaitan pun dibelenggu.’”[5]
6. Hadits yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.”
‘Barangsiapa bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah lalu.’” [6]
BEBERAPA RAHASIA PUASA
Puasa merupakan sarana paling tangguh untuk membantu memerangi hawa nafsu serta menekan nafsu syahwat sekaligus sebagai sarana pensucian jiwa dan pemberhentiannya pada batas-batas Allah Ta’ala, di mana dia akan menahan lisannya dari berbicara sia-sia, mencela, serta menyerang kehormatan orang lain, berusaha menyebar ghibah (menceritakan kejelekan atau aib orang) dan namimah (mengadu domba) ke tengah-tengah mereka, puasa juga dapat menundukkan tipu daya, pengkhianatan, kecurangan, muslihat, serta mencegah upaya melakukan perbuatan keji, memakan riba, menyuap dan memakan harta manusia dengan cara yang bathil serta berbagai macam penipuan. Selain itu, puasa juga mendorong seorang muslim untuk sesegera mungkin mengerjakan perbuatan baik, baik itu shalat maupun zakat dengan cara yang benar serta menyalurkan kepada pihak-pihak yang telah ditentukan oleh syari’at. Dia juga akan berusaha mengeluarkan shadaqah serta melakukan hal-hal yang bermanfaat, berkeinginan keras untuk memperoleh rizki yang halal dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan keji.[7]
Dengan demikian, di dalam puasa itu terkandung banyak keutamaan yang sangat agung. Selain itu juga memiliki berbagai rahasia besar yang sebagian di antaranya telah diketahui oleh banyak orang, sedang sebagian lainnya tidak diketahui.
Dan di antara rahasia dan manfaat puasa yang paling tampak jelas adalah sebagai berikut:
PUASA MERUPAKAN METODE YANG MANTAP UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN
Di antara manfaat puasa yang agung adalah sebagai sarana menyiapkan seorang muslim dengan kekuatan yang menjadikannya mampu untuk melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Dia dapat melakukan latihan melalui puasa sehari-hari sehingga dia dapat menahan diri dari setiap hal yang dia sukai dan cintai. Dan kepada penguasa nafsu dan syahwat, dia akan mengatakan, “Tidak.”
Sungguh jawaban yang hebat jika berada dalam keridhaan Allah. Jika seorang muslim mampu mengatakan hal tersebut, berarti dia telah berhasil mewujudkan kehormatan dan kedudukan yang tinggi atas syahwat dan ketamakannya. Sedangkan orang-orang yang tidak berpuasa adalah orang yang tidak pernah mampu mengendalikan gejolak jiwa mereka, bahkan mereka selalu tunduk kepada syahwat dan keinginan mereka. Mereka adalah budak-budak yang hina, bahkan lebih buruk dari budak-budak manusia. Seorang penya’ir telah mengungkapkan:[9]
“Kalau bukan karena kesulitan, niscaya umat manusia ini
secara keseluruhan akan menjadi terhormat,
Kedermawanan semakin langka
dan keberanian berarti perang.”
PUASA SEBAGAI CARA PENGGEMBLENGAN TENTARA
Kehidupan militer dengan segala hal yang diharuskannya, baik itu berupa kekerasan, kekasaran, ketegaran, ketundukan pada perintah, serta kedisiplinan pada arahan-arahan komandan. Dan kita bisa dapatkan perwujudan secara praktis pada puasa.
Yang demikian itu karena puasa merupakan sarana penggemblengan kekuatan fisik yang mengharuskan pelakunya menempuh satu manhaj (metode) tersendiri dalam kehidupannya, di mana tiang penyangganya berupa ketegaran, larangan, dan bersabar atas pahit getirnya rasa lapar dan panasnya rasa haus, kelelahan fisik dalam mengendalikan diri serta menahan hawa nafsu dan mengekang keinginannya, seakan-akan seorang muslim yang berpuasa itu adalah seorang tentara yang siap mendengar dan mentaati serta menjalankan perintah Rabb-nya tanpa penolakan atau pembangkangan.
Jika seorang tentara itu tunduk dan berpegang pada perintah serta menjalankannya di bawah pengawasan komandan, maka orang yang berpuasa (sedang) menjalankan perintah tanpa pengawasan dari seorang pun, kecuali dari Allah Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri, yang tidak akan pernah lengah dan tidur, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.
PUASA MEMPERKUAT KEINGINAN
Puasa dapat memperkuat keinginan, mendorong kemauan, mengajarkan kesabaran, membantu menjernihkan fikiran, menghidupkan pemikiran, dan mengilhami pendapat yang cerdas jika seorang yang berpuasa dapat melangkah ke fase relaks (santai), serta melupakan berbagai rintangan yang muncul akibat waktu luang dan terkadang keputusasaan, dan ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat sehingga dia mampu mengatakan kepada pelaku kemunkaran, “Ini munkar.” Dia juga bisa menghadapi segala bentuk hal-hal negatif yang ada di masyarakat. Sehingga dengan demikian, dia telah menjadi seorang anggota masyarakat yang dinamis, yang akan membangun dan tidak merusak, serta melakukan perbaikan dan tidak melakukan peng-hancuran.
Ketika suatu bangsa memiliki keinginan yang kuat dan besar, maka dia tidak akan memperkenankan agresor atau penjajah untuk menginjakkan kaki ke tanahnya atau ikut campur dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dengan kekuatan tersebut, ia juga akan mampu meraih kemenangan di medan pertempuran melawan kebodohan, keterbelakangan, melawan nafsu syahwat, serta sanggup menembus segala rintangan pembangunan dan kemajuan.
Syaikh ad-Dausari rahimahullah mengatakan, “Membangun keinginan yang kuat di dalam diri bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai kalangan, baik perkumpulan (organisasi) maupun kalangan militer telah berusaha membangun keinginan yang kuat kepada masyarakat masa kini. Padahal, Islam telah mendahului mereka dalam hal tersebut pada 14 abad yang lalu. Cukup besar kebutuhan seorang muslim, khususnya untuk memiliki keinginan kuat dan kemauan yang keras. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berjuang melawan sakit akibat rasa lapar dan haus dalam menjalankan puasa.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim yang berpuasa untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak kekuatan ini setelah berbuka, mengucilkan atau menghinakannya sehingga pada malam harinya dia akan merusak kuatnya keinginan yang telah dia bangun pada siang harinya.[10]
PUASA MEMBENTUK AKHLAK MULIA
Puasa merupakan tempat penggemblengan diri bagi orang yang menjalankannya untuk membentuk akhlak mulia, akhlak ketakwaan, kebajikan, kebaikan, kepedulian, tolong-menolong, kasih sayang, kecintaan, kesabaran, dan akhlak mulia lainnya yang dibangun oleh puasa pada diri orang yang menjalankannya.
Puasa dapat membentuk muraqabah (rasa selalu berada dalam pengawasan Allah) bagi pelakunya. Bagi dirinya ada satu penjaga umum yang selalu mengawasi dirinya agar tidak ada sesuatu pun yang bersumber dari dirinya yang bertentangan dengan syari’at. Dialah yang membinanya dari dalam sehingga darinya muncul amal-amal lahiriah yang tunduk pada pengawasan ini.
Pernahkah engkau melihat orang yang berpuasa dengan penuh kejujuran dan kesungguhan kepada Rabb-nya melakukan kebohongan kepada orang lain? Pernahkah engkau melihatnya secara tulus ikhlas menjalankan puasanya dan kemudian melakukan kemunafikan di masyarakat? Sesungguhnya keikhlasan itu merupakan satu bagian utuh yang tidak mungkin dipisahpisahkan, di mana puncaknya adalah ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang tulus ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sangat mustahil baginya untuk melakukan penipuan, kecurangan atau berkhianat. Oleh karena itu, puasa merupakan salah satu faktor dasar sekaligus pendalaman akhlak, pembangunan sekaligus pembentukannya untuk mengambil satu sifat amaliyah (perbuatan) yang semuanya berkumpul pada buahnya yang cukup jelas yang telah diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ)“Agar kalian bertakwa.”
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh yang bersifat lahiriah dan juga kekuatan bathin serta melindunginya dari faktor-faktor pencemaran yang merusak. Jika faktor-faktor pencemaran tersebut telah menguasai dirinya, maka ia akan rusak.
Dengan demikian, puasa akan menjaga kejernihan hati dan kesehatan anggota badan sekaligus akan mengembalikan segala sesuatu yang telah berhasil dirampas oleh nafsu syahwat. Puasa merupakan pembantu yang paling besar dalam merealisasikan ketakwaan…”[11]
PUASA MEWUJUDKAN KETENANGAN JIWA
Pergolakan akan berlangsung terus-menerus antara jiwa yang menyuruh berbuat kejahatan dengan jiwa yang menyuruh berbuat kebaikan. Setiap kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang muslim adalah akibat dari penguasaan jiwa yang memerintahkan berbuat kejahatan. Sedangkan setiap upaya pendekatan kepada Allah yang dilakukan oleh seorang muslim adalah senjata kuat yang digunakan oleh jiwa yang memerintahkan berbuat kebaikan.
Oleh karena itu, puasa akan membangun kekuasaan jiwa, menguatkan serta meneguhkannya untuk melaksanakan risalahnya dan memfungsikan perannya dalam menjaga kedamaian dan ketenangan dalam diri seseorang. Peranan penting dari kekuasaan jiwa itu adalah pengarahan melalui kecaman dan teguran yang keras setiap kali gangguan jiwa berupaya untuk mengajak kepada kejahatan, memperdayanya atau menjebaknya agar tunduk kepadanya. Demikianlah, berbagai pertempuran bersembunyi di dalam jiwa dan berbagai kekuatan kebaikan akan menang, yang selanjutnya kedamaian dan rasa aman akan menyelimut dalam jiwa, kemudian beralih ke seluruh anggota badan sehingga bagian yang lain pun menikmati rasa aman dan ketenangan. Akhirnya semua kebaikan terealisasi bagi setiap muslim yang menjalankan puasa.
PUASA MERUPAKAN SALAH SATU WUJUD DARI KESATUAN UMAT ISLAM
Puasa merupakan satu penampakan praktis dari berbagai penampakan kesatuan kaum muslimin, kesetaraan antara si kaya dan si miskin, penguasa dan rakyat, orang tua dan anak kecil, serta laki-laki dan perempuan. Mereka berpuasa untuk Rabb mereka, seraya memohon ampunan-Nya dengan menahan diri dari makan pada satu waktu dan berbuka dalam satu waktu juga. Mereka sama-sama mengalami rasa lapar dan berada dalam pelarangan yang sama di siang hari, sebagaimana mereka mempunyai kedudukan yang sama dalam mengibarkan syi’ar-syi’ar lain yang berkenaan dengan puasa.
Dengan demikian, puasa merealisasikan semacam kesatuan tujuan, rasa, nurani, dan tempat kembali di masyarakat yang berpuasa.
Secara keseluruhan, umat Islam berdiri dalam satu barisan pada satu musim tertentu setiap tahun dan dalam beberapa hari tertentu di antara seluruh umat manusia ini. Ia merupakan barisan penghubung antara bangsa-bangsa yang kuat, antara komponen dari umat Islam secara keseluruhan, meskipun tempat tinggal mereka berjauhan dan berada dalam satu ikatan yang ditempatkan di hadapan satu pengalaman, yang memiliki satu pengaruh dan dalam satu penampakan kebersamaan.
Dengan demikian, hati dan perasaan mereka akan menjadi semakin erat dan akrab sehingga menjadi satu hati yang mengarah kepada kehidupan dengan satu pandangan.
Inilah satu teladan yang baik bagi persatuan antara berbagai masyarakat dari umat ini, bahkan sebagai teladan yang ideal bagi setiap kesatuan dalam kehidupan ini. Sebab, ia merupakan kesatuan yang bersumber dari nurani dan menciptakan masa depan serta tempat kembali dan membangkitkan berbagai kemuliaan dari dalam diri yang nampak secara lahiriahnya, sehingga terwujudnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.” [al-Mu’minun/23: 52]
Kesatuan yang diwujudkan oleh puasa ini merupakan kesatuan permulaan, karena ia merupakan buah dari ibadah yang sungguh-sungguh.
Kesatuan nurani, karena ia bersumber dari amal perbuatan perasaan yang didasarkan pada perencanaan jiwa kemanusiaan.
Kesatuan tempat kembali, karena ia menggiring umat ini secara keseluruhan kepada satu tempat kembali yang berakhir padanya dan berdiam di sana, yaitu takwa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikannya sebagai buah dari puasa.
Kesatuan rasa, karena ia menyatukan rasa dan perasaan umat pada satu tujuan dan menempatkannya pada satu jalan.
Kesatuan ‘aqidah, karena ia bersumber dari keimanan dan keyakinan dan bertengger di udara takwa dan ibadah.[12]
Dalam penampilannya yang cukup mengesankan, kesatuan ini memberikan gambaran yang benar mengenai kesatuan besar yang menyamaratakan semua anggota umat meskipun terdapat perbedaan jenis, warna kulit, dan kebangsaan. Jika engkau ingin membuktikan hal tersebut, silakan arahkan pandangan-mu pada saat berbuka di negara yang aman, di Baitullah, untuk menyaksikan ratusan ribu orang yang berbuka bersama dalam satu waktu. Pernahkah engkau menyaksikan tampilan kesatuan yang lebih jelas dari ini? Pada hakikatnya, yang buta itu bukanlah pandangan mata, tetapi hati yang ada di dalam dada.
PUASA MEMILIKI PENGARUH BESAR BAGI KESEHATAN SECARA UMUM
Sesungguhnya pada puasa itu terkandung kesehatan yang besar dengan semua maknanya, baik kesehatan badan, perasaan, maupun rohani.
Dengan demikian, puasa dapat memperbaharui kehidupan seseorang dengan diperbaharuinya sel-sel dan dibuangnya sel-sel yang sudah tua dan mati serta diistirahatkannya perut dan organ pencernaan. Puasa juga dapat memberikan perlindungan terhadap tubuh, membersihkan perut dari sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna dan juga dari kelembaban yang ditinggalkan oleh makanan dan minuman.
Banyak para dokter menyebutkan berbagai manfaat puasa, di antaranya bahwa puasa dapat mempertahankan kelembaban insidentil sekaligus membersihkan pencernaan dari racun yang ditimbulkan oleh makanan yang tidak sehat, dan mengurangi lemak di perut yang sangat berbahaya bagi jantung, yang ia sama seperti pengasingan kuda yang akan dapat menambah kekuatannya untuk bergerak dan lari.
Sedangkan kesehatan rohani yang ditimbulkan oleh puasa adalah berupa bimbingan yang diberikan kepada orang-orang yang berpuasa karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengetahui tujuan dari penciptaan mereka, mempersiapkan mereka untuk mengambil semua sarana takwa yang akan melindunginya dari kehinaan, kerendahan, dan kerugian di dunia dan akhirat. Pada akhirnya hati mereka menjadi selamat dari penyakit syubhat dan penyakit syahwat yang telah menimpa banyak orang.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz telah mengatakan, “Pada puasa itu terdapat banyak manfaat dan hikmah yang besar, di antaranya adalah pembersihan, penggemblengan dan pensucian jiwa dari akhlak tercela dan sifat-sifat buruk, seperti tamak, rakus dan kikir, untuk kemudian dibiasakan dengan akhlak mulia seperti sabar, santun, dermawan, murah hati, dan pengerahan jiwa untuk mengerjakan segala hal yang diridhai Allah dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
Manfaat puasa lainnya adalah membuat seorang hamba dapat memahami dirinya sendiri dan juga kebutuhannya, kelemahan dan kebutuhan dirinya akan Rabb-nya, juga mengingatkan diri akan keagungan nikmat Allah yang diberikan kepadanya, dan mengingatkan akan kebutuhan saudara-saudaranya yang hidup miskin, sehingga mengharuskan dirinya untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memohon pertolongan agar dilimpahkan berbagai kenikmatan untuk selalu mentaati-Nya serta mengasihi saudara-saudaranya yang hidup miskin sekaligus dapat berbuat baik kepada mereka.
Selain itu, manfaat puasa juga dapat membersihkan tubuh dari pencemaran yang buruk dan memberikan kesehatan serta kekuatan. Hal tersebut telah diakui oleh banyak dokter. Bahkan mereka telah banyak mengobati pasien mereka dengan menggunakan puasa ini.” [13]
[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22) dan Shahiih Muslim (III/157))
[2]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22) dan Shahiih Muslim (III/173))
[3]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/157))
[4]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/121))
[5]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/121))
[6]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/177))
[7]. Ash-Shaum karya Syaikh ‘Abdurrahman ad-Dausari, hal. 16.
[8]. Syaikh Abdurrahman ad-Dausari t secara panjang lebar telah menguraikan manfaat puasa. Demikian pula Ustadz Taufiq Sab’u. Bagi yang berminat, silakan merujuknya. Ash-Shaum (hal. 16) dan hal. 87.
[9]. Yang mengungkapkan sya’ir ini adalah al-Mutanabbi. Lihat Diiwaan Abi Thayyib oleh al-Mutanabbi, dengan syarah Abul Baqa’ al-‘Ukbari (III/287).
[10]. Ash-Shaum, karya Syaikh ad-Dausari, hal. 23.
[11]. Zaadul Ma’aad (I/320).
[12]. Lihat kitab Haakadzaa Nashuum, hal. 161 dan seterusnya.
[13]. Ma’ar Rasuul fii Ramadhaan, ‘Athiyyah Muhammad Salim (kitab ini dibe-rikan muqaddimah oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, hal. 5).
Tulisan Ini di Tulis Oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar
Relasi antara agama dan politik itu sangat dinamis, unik, menarik, sekaligus lucu. Keduanya kadang saling berseteru. Tapi, bisa juga berdampingan dengan mesra. Sumanto Al Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya dan Kepala General Studies Scientific Research, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Mengambil contoh dari Pilkada Jakarta.
Sejarah
mencatat, tokoh, komunitas, dan institusi keagamaan bisa berperan menjadi
penjaga moral masyarakat serta pengkritik kekuasaan yang garang. Pula, agama
bisa menjadi sumber energi luar biasa untuk melakukan perlawanan terhadap rezim
korup dan despotik. Sejarah gerakan Gereja Katolik di Amerika Latin, Black
Chruches di Amerika Serikat, Sufi Sanusiyah di Lybia, atau Tarekat
Qadiriyah-Naqsabandiyah di Banten, Indonesia, hanyalah sekelumit contoh sejarah
dimana agama telah melakukan fungsi kritisnya sebagai medium kritik sosial
sebuah masyarakat sekaligus sarana perubahan politik sebuah tatanan kekuasaan.
Penting untuk dicatat, bukan hanya agama yang
melakukan perlawanan terhadap politik. Politik juga sering melawan,
mengintimidasi, dan menghancurkan agama. Dengan kata lain, hubungan sekaligus
nasib agama dan politik akan ditentukan oleh otoritas mana yang paling kuat dan
dominan dari keduanya serta bagaimana watak dan karakter para elit politik dan
elit agama yang kebetulan berkuasa. Jika politik menjadi “superordinat”, maka
agama akan berpotensi menjadi “subordinat”. Begitu pula sebaliknya.
Simbiose Mutualisme
Tetapi di sisi lain, agama juga bisa berfungsi
sebagai “stempel” atau legitimator politik-kekuasaan sejak zaman
"baheula" hingga dewasa ini. Di sejumlah negara, dewasa ini
agama-politik banyak melakukan “perkawinan” dan menjalin hubungan “simbiosis
mutualisme”: politik memberi jaminan proteksi keamanan masyarakat agama,
sementara agama memberi “legitimasi teologis” untuk melanggengkan kekuasaan
politik.
Dalam
konteks ini, secara teori, maka hubungan agama dan politik adalah sejajar
(koordinat), bukan saling mendominasi dan menguasai tetapi saling melengkapi
dan menguntungkan satu sama lain. Meskipun dalam prakteknya tentu saja tetap
terjadi “perselingkuhan” sana-sini dimana agama atau politik mencoba “main
mata” dan “berselingkuh” dengan pihak lain diluar “komunitas agama” (misalnya
kelompok adat, kaum pebisnis, sekuler-ateis, dlsb) atau bahkan secara diam-diam
saling menjegal dan mendelegitimasi otoritas masing-masing.
Diktum-diktum keagamaan (ajaran, diskursus, teks,
norma dan lain sebagainya) memang sangat lentur dan fleksibel sehingga mudah
untuk diseret-seret kesana-kemari sesuai dengan kepentingan pemeluknya.
Menarik pelajaran dari sejarah
Dalam konteks sejarah Indonesia, terjadi perkembangan
dinamis menyangkut relasi agama dan politik ini. Dulu pada masa kolonial, agama
berperan ganda: sebagai legitimasi kolonialisme sekaligus kritik sosial. Banyak
tokoh agama, Muslim khususnya, yang bekerja dengan pemerintah kolonial. Tetapi
pada saat yang bersamaan juga banyak di antara mereka yang menjadi pengkritik
dan pemberontak kolonial.
Pada zaman Orde Lama, Presiden Sukarno di satu sisi
mengakomodasi tokoh-tokoh Muslim (khususnya dari Nahdlatul Ulama) tetapi pada
waktu yang bersamaan melibas tokoh-tokoh Muslim lain (khususnya dari Masyumi)
yang kontra dengan kekuasaanya.
Pada masa Orde Baru, Presiden Suharto tidak melirik
kelompok Islam meskipun pada awalnya mereka digandeng untuk mengantarkan jalan
kekuasaan. Pak Harto lebih tertarik menggandeng kelompok abangan-kejawen dan
kalangan militer. Baru pada awal 1990-an, ia tertarik “melirik” Islam dengan
menggaet kelompok kelas menengah teknokrat di bawah bendera ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia) setelah terjadi friksi dengan sejumlah petinggi
militer. Pak Harto dulu juga tidak memberi ruang gerak secuilpun untuk
perkembangan “Islam politik” meskipun mendukung gerakan “Islam kultural” yang
apolitis.
Setelah
Pak Harto tumbang pada 1998, keran kebebasan berekspresi dan berserikat yang
dulu ditutup rapat, kini pun dibuka kembali lebar-lebar. Akibatnya, Indonesia
seperti kebanjiran kelompok-kelompok Islam ekstrim-konservatif.
Tumbuhnya kelompok intoleran
Mereka yang dulu bersembunyi karena ketakutan dengan
politik otoriter-militer Pak Harto, kini bermunculan bak cendawan di musim
hujan. Meski banyak sisi positif-konstruktif di era post-Suharto ini seperti
tumbuh-berkembangnya demokrasi dan kebebasan sipil tetapi ada sejumlah sisi
negatif-destruktif.
Merebaknya para “penumpang gelap” demokrasi seperti
kelompok-kelompok Islam garis keras (Muslim hardliners) yang intoleran,
anti-pluralisme, kontra-kebangsaan, mau menangnya sendiri, serta menggunakan
berbagai tindakan dan cara kekerasan untuk memuluskan agenda dan kepentingan
kelompoknya hanyalah sekelumit contoh dari sisi negatif-destruktif tadi.
Kelompok-kelompok
ini tidak segan-segan untuk memobilisasi massa (dan bahkan Tuhan) dengan
menggunakan sentimen-sentimen primordial agama dan etnisitas demi mencapai
kepentingan politik-ekonomi pragmatis. Inilah yang saya maksud dengan “politik
agama”, yakni “pemerkosaan agama” oleh sejumlah kelompok agama demi kepentingan
politik praktis sektarian.
Pengerahan massa oleh sejumlah “sindikat Islam”
untuk menjegal Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari bursa kandidat Gubernur
Jakarta dengan alasan bahwa ia seorang “Kristen” yang tidak layak memimpin
Jakarta yang mayoritas Muslim adalah contoh kecil tapi mencolok dari “politik
agama” ini.
Jika fenomena “politik agama” sektarian ini tidak
“dikelola” dengan baik, arif, dan bijak maka potensi kekerasan
komunal-horisontal bisa terjadi, dan spirit demokrasi yang sudah diperjuangkan
dengan susah-payah oleh kekuatan rakyat tahun 1998 bisa terkubur di kemudian
hari.
Cuaca siang ini sangat menyengat. Matahari membakar melelehkan kepala-kepala yang ada di atas mereka. Peluh menghujan, membasahi sekujur tubuh mereka. Dehidrasi yang sekarang mereka rasakan. Lambung-lambung mereka sudah saling bergesekan. Berharap seonggok makanan turun. Kerongkongan mereka sudah mengering. Berharap setetes air membasahi dan menghilangkan sedikit dahaga. Bibir-bibir merekapun sama, mereka seperti kekurangan makanan. Mengingat sekarang adalah hari pertama berpuasa, tak aneh jika mereka belum terbiasa.
Tampak, seorang pemuda tengah berdiri di antara kehiruk pikukan saat itu. Berbeda dengan yang lain, wajahnya tampak berseri dan bergairah. Sementara orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, tampak memasang wajah lusuh, lemas dan gontai.
Pemuda itu berjalan sambil membaca sebuah kitab kecil. Lalu, dimasukannya kitab tersebut ke dalam saku baju koko putihnya. Diapun sedikit berjalan menuju seorang pedagang.
“Bi, saya beli kurma, tiga bungkus,” Ucap pemuda itu. Sementara sang gadis, hanya menunduk.
“Assalamu’alaikum, Bi.” Ujarnya dengan suara lembut. Terlihat, seorang gadis yang sama-sama hendak membeli di pedagang yang sama. Gadis itu tampak sedikit gemetaran ketika sang pemuda menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, ukhti. Ukhti baik-baik saja?” Tanya pemuda tersebut heran. Spontan, sang gadis langsung terkejut.
“Oh, nggak apa-apa kok, mas.” “Y.. ya, saya baik-baik saja.” Ucapnya sedikit terbata. Pemuda itupun tersenyum padanya. Gadis itu hanya membalas senyumnya paksa. “Eh maaf ya, saya dulu nih jadinya.” Ucap pemuda itu manis. “Namanya siapa?” “Eh, Astaghfirullahal’adzim. Kenapa jadi memikirkan gadis tadi ya? Hmm, syetan menggoda nih, bisa-bisa, pahala puasaku berkurang. Astaghfirullahal’adzim.” Batin Ahmad. Diapun segera menepis jauh-jauh pemikiran tentang gadis tadi. Jangan hanya menggulung nafsu saja, pikirnya. Diapun segera pergi menuju mushola kecil. Di simpannya bungkusan kurma tadi, lalu dia pergi berwudlu.
“A.. aisya..” Ucap gadis berjilbab kuning itu, sedikit terbata.
“Senang berkenalan denganmu. Nama saya Ahmad.” Ucap lelaki itu.
“Ini, Nak kurmanya.” Tiba-tiba pedagang tersebut menyela. Pemuda itupun menerima bungkusan kurma itu lalu menyondorkan uang.
“Terima kasih, Bi. Saya duluan ya. Assalamu’alaiku.” Ucap pemuda yang tak lain bernama Ahmad itu. Pemuda itupun berlalu meninggalkan kerumunan orang di pasar. Pemuda itu melangkah sambil memikirkan sesuatu. Dia teringat akan gadis berjilbab kuning di pasar tadi. Wajahnya teduh, pandangannya sayu. Dia terlihat sangat anggun. Pikirnya.
“Siap bisnis kali ini, Laura sayang?” Ucap seorang lelaki berumur kira-kira 30 tahunan ke atas.
Tengah berdiri seorang gadis berambut pirang. Kulitnya putih mulus. Rambutnya panjang sepunggung. Wajahnya sudah menggambarkan sebagai seorang wanita yang cantik. Dia memakai kaos merah dan rok mini. Dia berjalan menerobos malam dengan langkah indah. Anehnya, saat orang-orang tengah melakukan shalat tarawih, dia malah berjalan sendiri mengikuti arah angin. Dia berjalan perlahan. Lalu, dia berdiri di atas trotoar. Jalanannya cukup sepi. Tak lama, sebuah mobil sport terhenti di depan gadis itu. Sang pemilik mobilpun keluar lalu menghampiri sang gadis.
“Tentu saja.” Jawab gadis itu sambil tersenyum manja.
“Hahah, cepat. Hari ini akan ku tambah.” Ujar lelaki tadi sambil tertawa renyah.
Suasana yang sama seperti kemarin. Panas matahari menyengat dan membuat orang-orang merasa kelelahan untuk menahan makan dan minum. Mereka tampak seperti kayu-kayu kering yang di terjang api. Begitu lemas.
Terkadang, dia juga suka mengajar anak-anak sekolah maupun pesantren. Tapi, jadwalnya kini sedang kosong. Sebenarnya, dia juga ingin berdakwah di daerah baru yang dia injak. Namun, dia masih sedikit gugup. Waktu kemarin, dia melihat hanya ada satu shaf yang mengikuti salat tarawih lelakinya. Sementara perempuan, hanya ada dua orang saja. Astaghfirullahal’adzim, begitulah yang bisa Ahmad ucapkan. Dia terlalu prihatin dengan keadaan daerah barunya ini. Pantas saja Allah pernah berfirman, bahwa penghuni neraka, kebanyakan adalah wanita. Wanita yang suka membuka auratnya, wanita-wanita pelac*r, wanita-wanita yang tak menghormati suaminya, Astaghfirullahal’adzim. Semoga saja kita tak termasuk di dalamnya. Amiin, begitulah Ahmad pikir.
Seperti biasa, pemuda yang memiliki nama Ahmad selalu tampil beda dari mereka. Memang, setiap hari Ahmad selalu pergi ke pasar. Dan seperti biasa, dia selalu kembali ke mushola lalu berwudlu. Kesehariannya dia isi dengan hal-hal yang bermanfaat. Pagi-pagi setelah sahur, dia pergi ke masjid. Sampai mungkin pukul enam pagi, dia baru angkat kaki dari masjid dan berniat mandi. Setelah itu, dia shalat dhuha. Dia lalu membaca Al-Qur’an sampai dzuhur tiba. Barulah, setelah itu, dia shalat dzuhur dan pergi ke pasar. Pulang dari pasar, dia kembali berwudlu dan mengaji lagi. Setelah waktu ashar, dia pergi mencari tempat pengajian. Apabila tak ada, dia kembali mengaji lagi. Dia mengaji bukan hanya sebatas mengaji saja. Tapi, sambil mempelajarinya. Membaca arti dan memahami isi kandungannya. Sehari, dia bisa habis dua sampai empat juz mengaji.
Ahmad memang seorang pemuda yang sangat berpegang teguh pada agamanya. Imannya sudah sangat kuat. Dia adalah orang yang sangat zuhud. Dia tak pernah lepas dari sajadah dan Al-Qur’an. Tapi, dia juga tak terlalu melupakan hal-hal duniawi. Dia tak ingin terlalu banyak mudharat saja. Kesehariannya memang dipenuhi dengan pahala dan rahmat. Entah masih ada atau tidak, seorang yang seperti Ahmad sekarang. Rata-rata, orang seperti Ahmad hanya ada satu di antara seratus ribu orang di dunia, bahkan satu juta, mungkin.
Sampai di hari ke dua belas berpuasa, dia melihat gadis berjilbab kuning, yang biasa di panggil Aisya sedang memakan apel di depan rumah tua.
Zaman sekarang, sudah jarang orang seperti Ahmad. Orang yang tiap detiknya dipenuhi dengan ingatan kepada Allah. Tak sedetikpun, dia bisa ingkar dan lupa terhadap Allah. Walaupun, masih muda, sekitar umur 26 tahun, tapi ilmunya tentang islam sudah cukup luas. Setiap kali dia membaca suatu surat ataupun hadist, dia pasti akan langsung menghafalkannya dan memahami isi kandungannya. Juga, setiap dia berhadas, dia selalu mengambil wudlu. Seperti yang pernah sahabat Bilal bin Rabbah lakukan. Walau dia masih tak bisa melakukan shalat sunnah setiap kalinya, tapi, dia tetap manusia yang langka di zaman sekarang.
Diumurnya yang masih muda, dia memang sudah hidup sendirian. Dari umur tujuh tahun, dia dikirim ke pesantren karena orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Selama dua belas, dia belajar di pesantren itu. Dia tumbuh sebagai anak yang pandai dan juga tak sombong. Dia adalah orang yang terkenal di pesantrennya. Dia juga, pernah mengajar di pesantrennya selama empat tahun. Namun setelah itu, dia memutuskan untuk mengembara dan lebih dalam mencari ilmu. Dan selama tiga tahun ini, dia mengembara juga mencari ilmu, sambil bekerja. Dia bekerja sebagai apa saja. Terkadang, dia juga bisa bekerja sebagai pedagang, terkadang juga, dia suka mengajar. Apapun yang halal dan mampu dia lakukan, pasti akan dia lakukan.
Dia juga seorang yang hemat dan sederhana. Untuk berbuka dan sahur saja, dia hanya memakan roti dan kurma. Uang yang dia punya dia belikan untuk kebutuhannya dan sisihkan untuk keperluannya nanti. Sisanya, dia sedekahkan, kepada siapa saja yang membutuhkan. Dialah Ahmad. Orang yang rendah hati.
“Assalamu’alaikum, Aisya.” Sapa Ahmad. Aisyapun terkejut dan langsung menghentikan makannya.
“Eh, mas Ahmad. Pulang dari pasar ya?”
“Iya, Aisya. Eh, nggak shaum tuh?”
“Heheh, euu.. aku.. aku lagi ada halangan.” Ucap Aisya sedikit terbata. Ahmadpun hanya tersenyum.
“Begitu ya,”
“Astaghfirullahal’adzim, Aisya, kamu kenapa?” Tanya Ahmad kaget.
“Iya, mas. Eh, nggak apa-apa nih, aku makan apel.”
“Nggak apa-apa, lanjutin aja. Maaf ganggu makannya.”
“Ih, nggak ganggu kok. memang, mas Ahmad rumahnya di mana?”
“Saya nggak punya rumah. Lagi ngembara aja. Kalau mau ketemu saya, datang aja ke mushola dekat sungai. Saya sering di sana kok tiap hari juga.”
“Oh gitu ya, nanti kapan-kapan ke sana.”
“Na’am, ini rumahmu, Ukhti?”
“Bukan, rumah aku ada di kampung sebelah. Ini rumah saudara.”
“Hmm, ya sudah. Saya pulang dulu ya, belum berwudlu, Assalamu’alaikum,” Ucap Ahmad sambil berlalu. Aisyapun sedikit kagum terhadap lelaki pemilik nama Ahmad. Ahmad sungguh seperti sosok orang terbaik yang pernah dia temui. Terkadang, Aisya sering meratapi dan menangisi nasibnya yang sungguh naas juga memprihatinkan. Dia kadang selalu berfikir, ‘Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Untuk apa aku hidup? Benarkah aku hanya seorang yang hina? Benarkah aku layaknya benalu? Lantas, mengapa Tuhan menciptakanku?’
Semilir angin malam menelusuk tulang gadis itu. Setiap malam, gadis itu selalu bersolek. Entah pergi ke mana, tapi dia selalu tampak cantik dan seksi. Perawakannya, bagaikan bidadari keturunan iblis. Berwajah indah, namun berprilaku bejat. Terkadang, dia sering menunggu di trotoar, terkadang juga, dia pergi sendiri ke tempat itu. Tempat yang hina. Namun di anggap pembawa nikmat, bagi manusia-manusia yang tak kenal agama. Mereka yang datang ke tempat itu sudah sangat keterlaluan. Hanya dengan uang, mereka berani menebar syahwat.
“Namanya juga Firman Allah. Nggak ada yang bisa nandingin keindahan bahasanya. Walaupun dia seorang pujangga yang sangat terkenal, tetap saja, Firman Allah lebih memiliki kata-kata dan makna yang sangat dalam. Al-Qur’an ini, udah di anggap kalau bahasanya itu yang indah. Al-Qur’an juga, sebagai pedoman hidup manusia. Segala ilmu pengetahuan bersumber dari Al-Qur’an. Al-Qur’an juga pahala bagi setiap yang membacanya. Setiap satu huruf, kita diberikan satu kebaikan. Jika di bulan Ramadhan seperti ini, pahalanya di naikan jadi setiap huruf itu sepuluh kebaikan. Istimewakan?” Ujar Ahmad. Aisyapun tersenyum. Seperti kali ini, dia tersenyum begitu tulus dan ikhlas. Tak seperti senyum sebelumnya. Senyum yang penuh dengan kebohongan.
Pagi sekali, Aisya sudah berdiri di depan mushola tempat persinggahan Ahmad. Dia ragu untuk menemui Ahmad. Sayup-sayup, terdengar suara Ahmad membaca ayat suci Al-Qur’an. Tiba-tiba saja, tubuh Aisya gemetaran, air mata berlelehan di wajahnya. Dadanya terasa panas dan sesak. Dia merintih kesakitan di sana. Hingga akhirnya, Ahmad mendengar rintihan Aisya. Segera, dia mengakhiri bacaannya lalu memeriksa keadaan di luar. Ketika Ahmad keluar, dia terkejut melihat Aisya terduduk lemas di depan pintu.
“Nggak apa-apa, mas.”
“Kamu masuk dulu ke sini.” Ajak Ahmad. Aisyapun segera masuk ke dalam mushola kecil itu. Dia terduduk di depan Ahmad.
“Kamu baik-baik aja, Aisya? Tadi kenapa?”
“Ahmad, omong-omong, tadi kamu baca surat apa? Boleh aku tahu artinya?”
“Nggak tahu, tiba-tiba aja tubuh aku gemetaran. Dada aku sesak dan panas.” Ucap Aisya sedikit menyeka air mata.
Bismillaahir-rahmaannir-rahiim, 1: (Ini adalah) satu surat yang Kami (Allah) turunkan dan Kami (Allah) wajibkan (mematuhi)nya, dan Kami (Allah) turunkan dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu mengingatinya.
“Oh, tadi aku baca surat An-Nur ayat satu sampai lima. Boleh, aku bacain ya,
2: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang daripada kedua-duanya seratus kali deraan, dan janganlah belas kasihan kamu kepada kedua-duanya (mempengaruhi kamu) dalam al-din (agama) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan hendaklah hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.
3: Laki-laki penzina tidak mengahwini melainkan perempuan penzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan penzina tidak dikahwini melainkan oleh laki-laki penzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang Mukmin.
24-5: Kecuali orang yang bertaubat sesudah itu, dan memperbaiki, maka sesungguhnya Allah adalah al-Ghafur (Maha Pengampun), lagi al-Rahim (Maha Mengasihani). Semoga kita tak termasuk orang-orang yang suka berzina ya, amiin.” Seketika Aisya mendengar terjemahan surat tersebut, dia menitikan air mata. Ahmad sedikit heran.
4: Dan orang yang menuduh wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) lapan puluh kali deraan, dan janganlah diterima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang yang fasik.
“Kenapa lagi, Ukhti?”
“Aku cuma terharu aja bacanya. Ayatnya bagus banget.”
“Eh, aku pengen dong, denger kamu baca Al-Qur’an. Pasti kamu pinter ya bacanya.”
“Ah enggak kok, mas. Biasa aja.”
“Astaghfirullahal’adzim, Aisya. Aku tak pernah menyangka. Wajah dan tubuhmu yang elok dan anggun itu rela kau korbankan demi uang. Sesungguhnya, wanita yang mulia di sisi Allah, dialah yang bisa menjaga kehormatannya.” Ucap Ahmad. Tiba-tiba, Aisya bergetaran, air matanya berleleh. Pria tadi merasa muak dengan yang dilakukan Aisya. Diapun pergi masuk dan meninggalkan Aisya. Sementara Aisya, dia terduduk lemas membelakangi Ahmad. Ahmad masih berdiri dengan mata berkaca. Aisya menangis tersedu-sedu di atas tanah.
“Kalo gitu, bacakan dong sama aku.” Ujar Ahmad. Aisyapun terdiam.
“Ayo, bacakan padaku walau hanya satu ayat saja. Surat Al-Fatihah saja.” Ujar Ahmad. Tiba-tiba saja, Aisya menutup mulutnya. Diapun segera menuju keluar lalu pergi meninggalkan Ahmad. Ahmadpun terdiam. Dia merasa heran dengan sikap Aisya.
Seperti biasa, gadis itu tengah berdiri di atas trotoar. Pandangannya sayu melihat sebuah masjid yang tengah mengadakan penyambutan harin di turunkannya Al-Qur’an. Atau lebih dikenalnya Nuzulul Qur’an. Seketika orang-orang di sana bubar dan berlompatan keluar dari masjid, gadis itupun pergi menuju tempat biasanya. Dia terus berjalan dengan bersimbah air mata. Ketika dia hendak masuk ke dalam tempat gemerlap itu, sebuah suara mengagetkannya.
“Aisya,” Lirihnya. Aisyapun mendongak. Dia melirik ke arah pria yang tak asing di matanya. Tiba-tiba dia berlari dan memeluk pemuda itu erat. Sontak, pemuda itu melepaskan pelukan Aisya dengan keras.
“Astaghfirullahal’adzim, Aisya. Kita ini bukan makhram. Dan apa maksudmu memakai pakaian seperti itu. Pakaian itu tak halal untukmu!” Ucap Ahmad. Aisyapun menunduk. Ahmad menatapnya sedikit murka.
“Cepatlah, Laura. Atau kita batal?” Tanya pria itu. Aisyapun berjalan menuju pria tadi. Terdengar, lantang suara Ahmad.
“Laura, cepat! Aku tidak punya waktu lama lagi. Jika kau masih di sana, akan ku kurangi bayaranmu malam ini,” Seketika, suara seorang pria mengagetkan Ahmad.
“Aisya, apa yang kau lakukan?”
“Maafkan aku. Inilah aku yang sebenarnya.” Ucap Aisya sendu. Ahmad tercengang. Matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka, Aisya yang selama ini dia percayai, ternyata bukan seperti yang dia lihat.
Walaupun aku terpaksa. Tapi, apa boleh buat? Walau aku bekerja sebagai seorang yang hina, aku tak pernah lupa akan Tuhanku, Allah. Aku selalu mengingatnya. Setiap kali, aku selalu berdo’a dan mohon ampunan-Nya atas segala keterpaksaanku ini. Namun, Ayahku selalu menyuruhku untuk meninggalkan shalat. Diapun membakar mukenaku. Aku masih sabar. Akupun sering shalat di masjid. Namun, dia malah mengurungku. Akupun mencoba mengucapkan kata-kata do’a sebisaku. Namun, Ayahpun melarang juga. Aku muak. Akupun melawannya. Pada akhirnya, dia membawaku ke seorang dukun. Entah apa yang dukun itu lakukan padaku. Hingga akhirnya, jika aku mendengar seorang mengaji atau semacamnya, tubuhku sering bergetaran. Dadaku sesak, panas. Itu semua ulah Ayahku. Ayahku jahat. Aku benci dia!” Ucap Aisya sedikit meninggi pada kalimat akhir dan terisak. Matanya terus berlinang dan tak henti-henti menangis suaranya menjadi sedikit parau.
“Aku terpaksa, Ahmad. Aku tak pernah mau melakukan ini! Aku memang hina, Ahmad. Aku seorang pelac*r. Kau jangan mendekatiku lagi, Ahmad. Aku berbeda denganmu. Kau mulia di mata Allah. Aku hina di mata-Nya. Aku hina. Aku bodoh! Aku terlalu lemah!” Teriak Aisya. Ahmadpun berjalan menuju Aisya. Dia menyuruh Aisya berdiri.
“Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat Ukhti menangis. Sebaiknya, ceritakan baik-baik apa yang terjadi padamu. Aku bisa membantumu. Ayo, bangun dan mari kita pergi ke mushola. Tenangkan dirimu di sana.” Ucap Ahmad sambil tersenyum manis ke arah Aisya. Aisyapun mengangkat pandangannya ke arah Ahmad. Diapun menyeka air matanya dan berdiri, diapun mengangguk.
Segera, Ahmad mengajak Aisya untuk pergi ke mushola, tempat biasa di mana dia beristirahat. Setelah sampai di sana, Ahmad segera masuk ke dalam dan memberikan sebuah mukena juga sajadah kepada Aisya.
“Untuk apa ini?”
“Shalatlah. Maka, kau bisa lebih tenang.”
“Tak bisa,”
“Mengapa begitu,?”
“Sudah lama, aku tak mengenakan i.. ni.” Ucap Aisya terbata juga terisak. Dia terduduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ahmadpun membiarkan dia tenang dan membaca kitab kecil yang dia simpan di saku bajunya. Kitab yang tak lain adalah Al-Qur’an.”Audzubillahi-minasy-syaithoonir-raaziim, Bismilaahir-rahmaanir-rahiim.” Seketika Ahmad berta’udz, tiba-tiba Aisya terkulai lemah di teras masjid. Tubuhnya gemetaran. Ahmad yang melihat itu, langsung kaget.
“Akan ku jelaskan.”
“Setidaknya, pakai sajalah mukena ini untuk menutup auratmu. Aku bisa zina mata. Dan kita bisa sama-sama berdosa.”
“Baiklah,” Ucap Aisya. Aisyapun segera memakai mukena itu. Dia tampak sedikit terisak ketika memakainya.
“Ahmad, maukah kau mendengar ceritaku?” Tanya Aisya. Ahmadpun mengangguk.
“Kau baik-baik saja, Ukhti?”
“Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Seketika Ahmad berhenti, Aisyapun bangkit.
“Sebenarnya, aku terpaksa melakukan semua ini. Aku terpaksa, Ahmad. Ayahku yang menyuruhku. Dia menyuruhku untuk melakukan ini. Jika tidak, dia akan membunuhku. Membunuh ibuku. Diapun membunuh ibuku. Setelah itu, dia terus mendesakku untuk melakukan hal itu. Aku tak mau. Dan akhirnya, dia memberiku dua pilihan. Melakukan hal tadi, atau Ayahku akan bunuh diri. Aku tak tega kehilangan dua orang tuaku. Akhirnya, akupun mau untuk melakukan hal tadi.
“Aku tak akan pernah diampuni-Nya. Dosaku terlalu menumpuk.”
Lalu, ketika di akhirat, malaikat Malik dan malaikat Ridwan merebutkan wanita itu. Kata malaikat Malik, wanita itu harus masuk neraka karena dia seorang pelac*r. Sedangkan kata malaikat Ridwan, dia harus masuk surga, karena dia telah menolong anjing yang kehausan itu. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk bertemu dengan Allah, dan ternyata, malaikat Ridwanlah yang benar. Wanita itupun di masukan ke dalam surga karena telah menyelawatkan nyawa anjing itu. Walaupun anjing adalah najis, tapi dia tetap makhluk Allah. Dan wanita itupun melakukan hal tadi terpaksa. Karena keadaan yang sangat darurat. Jadi intinya, setiap dosa yang dilakukan karena terpaksa maupun tidak, jika kita benar-benar menyesalinya, Insya Allah, Allah akan memberikan ampunan pada kita. Sebesar apapun dosa kita, jika kita benar-benar bertaubat dan tak akan mengulanginya lagi, maka Insya Allah, kau akan diampuni. Allah itu Maha Pengampun.” Ucap Ahmad.
“Kau jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebuah hadist mengatakan, bahwa Allah pernah berfirman.”Wahai anak Adam, kalau dosa-dosamu (sangat banyak) sampai setinggi awan di langit, kemudian kamu meminta meminta ampun kepada-Ku, niscaya aku akan mengampunimu dan aku tidak peduli. Sesungguhnya, jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu datang menjumpai-Ku (ketika meninggal) dengan keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Maka, Aku akan memberikanmu ampunan sepenuh bumi.” Maka kau tak boleh berputus asa.
“Bagaimana bisa aku meminta ampunan. Jika mengucapkannya saja aku tak mampu. Dadaku selalu sesak dan panas.”
“Mulailah dengan Bismillah, Ucapkanlah, Bismillah,”
“Bismil.. llah.” Aisyapun menyandarkan kepalanya ke pundak Ahmad. Dia terlalu lemah untuk mengucapkan kalimat itu. Entah hal apa yang telah diperlakukan oleh Ayahnya. Sehingga kini, dia seperti itu.
“Bis… mil.. llah..” Ucap Aisya terbata-bata dan sedikit menahan sakit.
“Ucapkan lagi, Bismillah,”
“Mulailah lagi, Aisya.”
“Pada zaman Nabi Isa A. S, Bani Israil saat itu sedang di landa kekeringan dan kekurangan makanan. Hingga, ada seorang wanita, yang sudah tak kuat untuk menahan lapar dan haus. Diapun terpaksa, menjual kehormatannya karena keadaan yang sangat terpaksa itu. Akhirnya, diapun mendapatkan uang. Diapun dapat bertahan hidup. Hingga suatu hari, ketika dia kelaparan dan kehausan lagi, tak ada seorang lelakipun yang mau dengannya. Pada akhirnya, diapun menemukan sebuah sumur. Karena sudah tak kuat dan hampir mati, saat itu juga, dia mendekati sumur. Diapun menurunkan sepatunya dengan kerudungnya. Ketika dia hendak minum, ada seekor anjing yang sangat kehausan. Dia terlihat sangat lemah. Wanita itupun memberikan air yang dia ambil dari sumur untuk anjing itu. Anjing itupun selamat. Tapi, tidak dengan wanita tadi. Dia meninggal di sana juga, karena kelaparan dan kehausan.
“Aku tak bisa, aku tak kuat Ahmad. Aku terlanjur sudah seperti ini. Terlanjur menjadi bahan bakar api neraka. Jahanam. Aku penghuni Jahanam. Dosaku terlanjur menumpuk. Umurku belum tentu dapat menghapus semua dosa-dosaku.” Ucap Aisya sesenggukan.
“Apakah kau pernah mendengar kisah pelacur yang masuk surga?” Tanya Ahmad. Aisya hanya menggeleng sambil masih sesenggukan.
“Dari arah masjid, tiba-tiba ada segerombolan orang memakai pakaian putih memanggul dan mengiring jenazah ini. Mereka begitu banyak. Sambil diperjalanan, mereka berucap ‘laa-ilaaha-illal-laah’. Mereka begitu cepat menguburkannya. Lalu menghilang seketika. Dan akhirnya, pemilik makam ini mengekuarkan wangi yang sangat luar biasa. Subhanallah, pasti mulia orang ini. Sepertinya, mereka adalah malaikat-malaikat,”
“Aku tak pernah berfikir sejauh itu. Apakah semua yang kau katakan itu benar? Apakah aku dapat seperti wanita dalam ceritamu itu?”
“Insya Allah, jika kau benar-benar menyesalinya. Jika kau benar-benar bertaubat. Jangan pernah kamu berputus asa dari Rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Semua itu benar. Hanya janji Allah dan Rosul-Nya saja yang tak akan pernah diingkari. Percayalah,”
“Aku terlalu hina. Aku terlalu kotor untuk ini. Aku tak pernah berfikir, bagaimana kasih sayang-Nya padaku. Aku hina!” Isak Aisya.
“Jangan rendah diri. Itu tak baik. Ayolah, mulai dengan membaca basmalah, kau bisa.”
“Aku tak bisa, Ahmad. Sebenarnya aku iri pada mereka, Ahmad. Pada wanita-wanita yang bebas beribadah tanpa rasa sakit sedikitpun. Mereka bebas. Mereka tak sepertiku, aku iri, Ahmad.”
“Bism.. millaahir-Rah.. ahmaanir.. nir-Rahiim.”
“Ucapkan lagi,”
“Bismilaah.. hir-Rahmaan.. nir-Rahiim.” Aisyapun menghela nafas.
“Bagaimana? Apakah kau masih sakit mengucapkannya?”
Semalam suntuk, dia terjaga, dia belum berhenti-henti berdo’a menyesali dosa-dosanya. Dia tak reda juga menangisi segala yang dia lakukan. Seakan-akan, dosa-dosanya ikut tersapu turun bersamaan air matanya.
Angin malam terus menelusuk celah-celah do’anya. Wanita itu tengah menangis tersedu-sedu. Sesenggukan. Hanya dengan sehelai kain putih yang menutupi semua anggota tubuhnya kecuali wajah, dia bisa terus berdo’a dan memohon ampunan dari-Nya.
Setelah sampai di masjid, dia mengabarkan hal itu. Kemudian, diapun membawa Aisya untuk dimandikan di tempat lain. Hanya dia saja yang memandikannya. Diapun lupa, bahwa dia belum membawa kafan. Segera, dia simpan jasad Aisya di masjid dan membatalkan untuk memandikannya dulu. Diapun segera berlari menuju pasar untuk membeli kafan. Di tengah jalan, dia melihat orang-orang sedang berkumpul di dekat tempat pemakaman.
“Assalamualaikum,” Ucap Ahmad. Diapun melihat di antara segerombolan orang-orang itu. Terlihat, sebuah kuburan yang tanahnya masih basah bertuliskan nama Aisya binti Qomar. Dan tanggal kematiannya tepat tanggal hari itu juga. Kuburan baru itu mengeluarkan bau yang sangat harum. Lebih harum dari segala wewangian yang ada di bumi. Ahmad terkejut. Diapun segera berlari menuju masjid. Di sana, tak ada jenazah Aisya sama sekali. Diapun kembali ke tempat pemakaman tadi. Dia kaget sekali. Ada banyak sekali orang yang melayat ke sana. Ahmad semakin bingung. Diapun berlari menerobos orang-orang di sana. Walau terdesak-desak, dia tetap ingin mencapai yang paling depan.
Sesaat dia sampai di sana. Dia bertanya pada laki-laki paruh baya yang tengah berdiri di sana.
“Assalamualaikum, Pak. Sebenarnya, siapa yang menguburkan jasad ini? Dari mana mereka?”
“Subhanallah, Aisya,” Ucap Ahmad. Laki-laki paruh baya itupun kaget.
“Aisya? Aisya mana? Yang namanya Aisyakan cuma Laura, pelac*r itu,” Tanya laki-laki itu heran.
“Memang benar, Pak. Dia Aisya, dia bukan lagi pelac*r. Dia adalah orang yang mulia. Dia orang terbaik di antara kalian. Dia sudah menyesali dosa-dosanya. Semalam suntuk, dia terjaga. Dia hebat,” Lirih Ahmad sedikit menitikan air mata.
“Subhanallah, padahal, orang-orang di sini malah memfitnah dan menyebarkan berita-berita buruk terhadap dia. Saya tak bisa percaya akan hal itu.” Ucap lelaki itu. Ahmadpun hanya tersenyum.
Fajar belum menyingsing sempurna. Bau harum dari makam Aisya belum hilang-hilang. Ratusan orang berbondong-bondong melihat keajaiban tersebut. Mereka semua masih kurang percaya jika Aisyalah orang yang ada di sana. Padahal, jika bukan dia, siapa lagi?
Saat itu, Ahmad masih sedikit mengantuk. Tapi, dia memaksakan diri untuk tetap sahur. Sayup-sayup, dia mendengar suara seseorang tengah membaca Al-Qur’an. Tepatnya, membaca surat Al-Fatihah. Samar-samar, dia melihat seorang gadis bergaun putih tengah mengaji di sana. Diapun melirik ke arah Ahmad. Dia tersenyum manis.
“Telahku bacakan padamu tujuh ayat, Mas.” Lirihnya. Seketika, pandangan Ahmadpun menjelas.
“Aku percaya, kau pasti sudah bahagia di surga sana, Aisya.”
“Aisya?” Ucapnya. Sesaat, senyum dan bayangan itupun hilang tak meninggalkan bekas di sana. Ahmadpun tersenyum.
-SELESAI-







