Home » , » Kubacakan Pada MU 7 Ayat

Kubacakan Pada MU 7 Ayat

Posted by Layang - Layang Hitam on Wednesday

Cinta Dan Hidup...?


Cuaca siang ini sangat menyengat. Matahari membakar melelehkan kepala-kepala yang ada di atas mereka. Peluh menghujan, membasahi sekujur tubuh mereka. Dehidrasi yang sekarang mereka rasakan. Lambung-lambung mereka sudah saling bergesekan. Berharap seonggok makanan turun. Kerongkongan mereka sudah mengering. Berharap setetes air membasahi dan menghilangkan sedikit dahaga. Bibir-bibir merekapun sama, mereka seperti kekurangan makanan. Mengingat sekarang adalah hari pertama berpuasa, tak aneh jika mereka belum terbiasa.

Tampak, seorang pemuda tengah berdiri di antara kehiruk pikukan saat itu. Berbeda dengan yang lain, wajahnya tampak berseri dan bergairah. Sementara orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, tampak memasang wajah lusuh, lemas dan gontai.
Pemuda itu berjalan sambil membaca sebuah kitab kecil. Lalu, dimasukannya kitab tersebut ke dalam saku baju koko putihnya. Diapun sedikit berjalan menuju seorang pedagang.

“Bi, saya beli kurma, tiga bungkus,” Ucap pemuda itu. Sementara sang gadis, hanya menunduk.


“Assalamu’alaikum, Bi.” Ujarnya dengan suara lembut. Terlihat, seorang gadis yang sama-sama hendak membeli di pedagang yang sama. Gadis itu tampak sedikit gemetaran ketika sang pemuda menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, ukhti. Ukhti baik-baik saja?” Tanya pemuda tersebut heran. Spontan, sang gadis langsung terkejut.
“Oh, nggak apa-apa kok, mas.” “Y.. ya, saya baik-baik saja.” Ucapnya sedikit terbata. Pemuda itupun tersenyum padanya. Gadis itu hanya membalas senyumnya paksa. “Eh maaf ya, saya dulu nih jadinya.” Ucap pemuda itu manis. “Namanya siapa?” “Eh, Astaghfirullahal’adzim. Kenapa jadi memikirkan gadis tadi ya? Hmm, syetan menggoda nih, bisa-bisa, pahala puasaku berkurang. Astaghfirullahal’adzim.” Batin Ahmad. Diapun segera menepis jauh-jauh pemikiran tentang gadis tadi. Jangan hanya menggulung nafsu saja, pikirnya. Diapun segera pergi menuju mushola kecil. Di simpannya bungkusan kurma tadi, lalu dia pergi berwudlu.



“A.. aisya..” Ucap gadis berjilbab kuning itu, sedikit terbata.
“Senang berkenalan denganmu. Nama saya Ahmad.” Ucap lelaki itu.
“Ini, Nak kurmanya.” Tiba-tiba pedagang tersebut menyela. Pemuda itupun menerima bungkusan kurma itu lalu menyondorkan uang.
“Terima kasih, Bi. Saya duluan ya. Assalamu’alaiku.” Ucap pemuda yang tak lain bernama Ahmad itu. Pemuda itupun berlalu meninggalkan kerumunan orang di pasar. Pemuda itu melangkah sambil memikirkan sesuatu. Dia teringat akan gadis berjilbab kuning di pasar tadi. Wajahnya teduh, pandangannya sayu. Dia terlihat sangat anggun. Pikirnya.

“Siap bisnis kali ini, Laura sayang?” Ucap seorang lelaki berumur kira-kira 30 tahunan ke atas.

Tengah berdiri seorang gadis berambut pirang. Kulitnya putih mulus. Rambutnya panjang sepunggung. Wajahnya sudah menggambarkan sebagai seorang wanita yang cantik. Dia memakai kaos merah dan rok mini. Dia berjalan menerobos malam dengan langkah indah. Anehnya, saat orang-orang tengah melakukan shalat tarawih, dia malah berjalan sendiri mengikuti arah angin. Dia berjalan perlahan. Lalu, dia berdiri di atas trotoar. Jalanannya cukup sepi. Tak lama, sebuah mobil sport terhenti di depan gadis itu. Sang pemilik mobilpun keluar lalu menghampiri sang gadis.
“Tentu saja.” Jawab gadis itu sambil tersenyum manja.
“Hahah, cepat. Hari ini akan ku tambah.” Ujar lelaki tadi sambil tertawa renyah.
Suasana yang sama seperti kemarin. Panas matahari menyengat dan membuat orang-orang merasa kelelahan untuk menahan makan dan minum. Mereka tampak seperti kayu-kayu kering yang di terjang api. Begitu lemas.
Terkadang, dia juga suka mengajar anak-anak sekolah maupun pesantren. Tapi, jadwalnya kini sedang kosong. Sebenarnya, dia juga ingin berdakwah di daerah baru yang dia injak. Namun, dia masih sedikit gugup. Waktu kemarin, dia melihat hanya ada satu shaf yang mengikuti salat tarawih lelakinya. Sementara perempuan, hanya ada dua orang saja. Astaghfirullahal’adzim, begitulah yang bisa Ahmad ucapkan. Dia terlalu prihatin dengan keadaan daerah barunya ini. Pantas saja Allah pernah berfirman, bahwa penghuni neraka, kebanyakan adalah wanita. Wanita yang suka membuka auratnya, wanita-wanita pelac*r, wanita-wanita yang tak menghormati suaminya, Astaghfirullahal’adzim. Semoga saja kita tak termasuk di dalamnya. Amiin, begitulah Ahmad pikir.

Seperti biasa, pemuda yang memiliki nama Ahmad selalu tampil beda dari mereka. Memang, setiap hari Ahmad selalu pergi ke pasar. Dan seperti biasa, dia selalu kembali ke mushola lalu berwudlu. Kesehariannya dia isi dengan hal-hal yang bermanfaat. Pagi-pagi setelah sahur, dia pergi ke masjid. Sampai mungkin pukul enam pagi, dia baru angkat kaki dari masjid dan berniat mandi. Setelah itu, dia shalat dhuha. Dia lalu membaca Al-Qur’an sampai dzuhur tiba. Barulah, setelah itu, dia shalat dzuhur dan pergi ke pasar. Pulang dari pasar, dia kembali berwudlu dan mengaji lagi. Setelah waktu ashar, dia pergi mencari tempat pengajian. Apabila tak ada, dia kembali mengaji lagi. Dia mengaji bukan hanya sebatas mengaji saja. Tapi, sambil mempelajarinya. Membaca arti dan memahami isi kandungannya. Sehari, dia bisa habis dua sampai empat juz mengaji.
Ahmad memang seorang pemuda yang sangat berpegang teguh pada agamanya. Imannya sudah sangat kuat. Dia adalah orang yang sangat zuhud. Dia tak pernah lepas dari sajadah dan Al-Qur’an. Tapi, dia juga tak terlalu melupakan hal-hal duniawi. Dia tak ingin terlalu banyak mudharat saja. Kesehariannya memang dipenuhi dengan pahala dan rahmat. Entah masih ada atau tidak, seorang yang seperti Ahmad sekarang. Rata-rata, orang seperti Ahmad hanya ada satu di antara seratus ribu orang di dunia, bahkan satu juta, mungkin.
Sampai di hari ke dua belas berpuasa, dia melihat gadis berjilbab kuning, yang biasa di panggil Aisya sedang memakan apel di depan rumah tua.

Zaman sekarang, sudah jarang orang seperti Ahmad. Orang yang tiap detiknya dipenuhi dengan ingatan kepada Allah. Tak sedetikpun, dia bisa ingkar dan lupa terhadap Allah. Walaupun, masih muda, sekitar umur 26 tahun, tapi ilmunya tentang islam sudah cukup luas. Setiap kali dia membaca suatu surat ataupun hadist, dia pasti akan langsung menghafalkannya dan memahami isi kandungannya. Juga, setiap dia berhadas, dia selalu mengambil wudlu. Seperti yang pernah sahabat Bilal bin Rabbah lakukan. Walau dia masih tak bisa melakukan shalat sunnah setiap kalinya, tapi, dia tetap manusia yang langka di zaman sekarang.
Diumurnya yang masih muda, dia memang sudah hidup sendirian. Dari umur tujuh tahun, dia dikirim ke pesantren karena orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Selama dua belas, dia belajar di pesantren itu. Dia tumbuh sebagai anak yang pandai dan juga tak sombong. Dia adalah orang yang terkenal di pesantrennya. Dia juga, pernah mengajar di pesantrennya selama empat tahun. Namun setelah itu, dia memutuskan untuk mengembara dan lebih dalam mencari ilmu. Dan selama tiga tahun ini, dia mengembara juga mencari ilmu, sambil bekerja. Dia bekerja sebagai apa saja. Terkadang, dia juga bisa bekerja sebagai pedagang, terkadang juga, dia suka mengajar. Apapun yang halal dan mampu dia lakukan, pasti akan dia lakukan.
Dia juga seorang yang hemat dan sederhana. Untuk berbuka dan sahur saja, dia hanya memakan roti dan kurma. Uang yang dia punya dia belikan untuk kebutuhannya dan sisihkan untuk keperluannya nanti. Sisanya, dia sedekahkan, kepada siapa saja yang membutuhkan. Dialah Ahmad. Orang yang rendah hati.
“Assalamu’alaikum, Aisya.” Sapa Ahmad. Aisyapun terkejut dan langsung menghentikan makannya.
“Eh, mas Ahmad. Pulang dari pasar ya?”
“Iya, Aisya. Eh, nggak shaum tuh?”
“Heheh, euu.. aku.. aku lagi ada halangan.” Ucap Aisya sedikit terbata. Ahmadpun hanya tersenyum.
“Begitu ya,”
“Astaghfirullahal’adzim, Aisya, kamu kenapa?” Tanya Ahmad kaget.
“Iya, mas. Eh, nggak apa-apa nih, aku makan apel.”

“Nggak apa-apa, lanjutin aja. Maaf ganggu makannya.”
“Ih, nggak ganggu kok. memang, mas Ahmad rumahnya di mana?”
“Saya nggak punya rumah. Lagi ngembara aja. Kalau mau ketemu saya, datang aja ke mushola dekat sungai. Saya sering di sana kok tiap hari juga.”
“Oh gitu ya, nanti kapan-kapan ke sana.”
“Na’am, ini rumahmu, Ukhti?”
“Bukan, rumah aku ada di kampung sebelah. Ini rumah saudara.”
“Hmm, ya sudah. Saya pulang dulu ya, belum berwudlu, Assalamu’alaikum,” Ucap Ahmad sambil berlalu. Aisyapun sedikit kagum terhadap lelaki pemilik nama Ahmad. Ahmad sungguh seperti sosok orang terbaik yang pernah dia temui. Terkadang, Aisya sering meratapi dan menangisi nasibnya yang sungguh naas juga memprihatinkan. Dia kadang selalu berfikir, ‘Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Untuk apa aku hidup? Benarkah aku hanya seorang yang hina? Benarkah aku layaknya benalu? Lantas, mengapa Tuhan menciptakanku?’
Semilir angin malam menelusuk tulang gadis itu. Setiap malam, gadis itu selalu bersolek. Entah pergi ke mana, tapi dia selalu tampak cantik dan seksi. Perawakannya, bagaikan bidadari keturunan iblis. Berwajah indah, namun berprilaku bejat. Terkadang, dia sering menunggu di trotoar, terkadang juga, dia pergi sendiri ke tempat itu. Tempat yang hina. Namun di anggap pembawa nikmat, bagi manusia-manusia yang tak kenal agama. Mereka yang datang ke tempat itu sudah sangat keterlaluan. Hanya dengan uang, mereka berani menebar syahwat.
“Namanya juga Firman Allah. Nggak ada yang bisa nandingin keindahan bahasanya. Walaupun dia seorang pujangga yang sangat terkenal, tetap saja, Firman Allah lebih memiliki kata-kata dan makna yang sangat dalam. Al-Qur’an ini, udah di anggap kalau bahasanya itu yang indah. Al-Qur’an juga, sebagai pedoman hidup manusia. Segala ilmu pengetahuan bersumber dari Al-Qur’an. Al-Qur’an juga pahala bagi setiap yang membacanya. Setiap satu huruf, kita diberikan satu kebaikan. Jika di bulan Ramadhan seperti ini, pahalanya di naikan jadi setiap huruf itu sepuluh kebaikan. Istimewakan?” Ujar Ahmad. Aisyapun tersenyum. Seperti kali ini, dia tersenyum begitu tulus dan ikhlas. Tak seperti senyum sebelumnya. Senyum yang penuh dengan kebohongan.
Pagi sekali, Aisya sudah berdiri di depan mushola tempat persinggahan Ahmad. Dia ragu untuk menemui Ahmad. Sayup-sayup, terdengar suara Ahmad membaca ayat suci Al-Qur’an. Tiba-tiba saja, tubuh Aisya gemetaran, air mata berlelehan di wajahnya. Dadanya terasa panas dan sesak. Dia merintih kesakitan di sana. Hingga akhirnya, Ahmad mendengar rintihan Aisya. Segera, dia mengakhiri bacaannya lalu memeriksa keadaan di luar. Ketika Ahmad keluar, dia terkejut melihat Aisya terduduk lemas di depan pintu.
“Nggak apa-apa, mas.”

“Kamu masuk dulu ke sini.” Ajak Ahmad. Aisyapun segera masuk ke dalam mushola kecil itu. Dia terduduk di depan Ahmad.
“Kamu baik-baik aja, Aisya? Tadi kenapa?”
“Ahmad, omong-omong, tadi kamu baca surat apa? Boleh aku tahu artinya?”
“Nggak tahu, tiba-tiba aja tubuh aku gemetaran. Dada aku sesak dan panas.” Ucap Aisya sedikit menyeka air mata.
Bismillaahir-rahmaannir-rahiim, 1: (Ini adalah) satu surat yang Kami (Allah) turunkan dan Kami (Allah) wajibkan (mematuhi)nya, dan Kami (Allah) turunkan dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu mengingatinya.
“Oh, tadi aku baca surat An-Nur ayat satu sampai lima. Boleh, aku bacain ya,
2: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang daripada kedua-duanya seratus kali deraan, dan janganlah belas kasihan kamu kepada kedua-duanya (mempengaruhi kamu) dalam al-din (agama) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan hendaklah hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.
3: Laki-laki penzina tidak mengahwini melainkan perempuan penzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan penzina tidak dikahwini melainkan oleh laki-laki penzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang Mukmin.
24-5: Kecuali orang yang bertaubat sesudah itu, dan memperbaiki, maka sesungguhnya Allah adalah al-Ghafur (Maha Pengampun), lagi al-Rahim (Maha Mengasihani). Semoga kita tak termasuk orang-orang yang suka berzina ya, amiin.” Seketika Aisya mendengar terjemahan surat tersebut, dia menitikan air mata. Ahmad sedikit heran.
4: Dan orang yang menuduh wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) lapan puluh kali deraan, dan janganlah diterima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang yang fasik.
“Kenapa lagi, Ukhti?”
“Aku cuma terharu aja bacanya. Ayatnya bagus banget.”
“Eh, aku pengen dong, denger kamu baca Al-Qur’an. Pasti kamu pinter ya bacanya.”
“Ah enggak kok, mas. Biasa aja.”
“Astaghfirullahal’adzim, Aisya. Aku tak pernah menyangka. Wajah dan tubuhmu yang elok dan anggun itu rela kau korbankan demi uang. Sesungguhnya, wanita yang mulia di sisi Allah, dialah yang bisa menjaga kehormatannya.” Ucap Ahmad. Tiba-tiba, Aisya bergetaran, air matanya berleleh. Pria tadi merasa muak dengan yang dilakukan Aisya. Diapun pergi masuk dan meninggalkan Aisya. Sementara Aisya, dia terduduk lemas membelakangi Ahmad. Ahmad masih berdiri dengan mata berkaca. Aisya menangis tersedu-sedu di atas tanah.

“Kalo gitu, bacakan dong sama aku.” Ujar Ahmad. Aisyapun terdiam.
“Ayo, bacakan padaku walau hanya satu ayat saja. Surat Al-Fatihah saja.” Ujar Ahmad. Tiba-tiba saja, Aisya menutup mulutnya. Diapun segera menuju keluar lalu pergi meninggalkan Ahmad. Ahmadpun terdiam. Dia merasa heran dengan sikap Aisya.
Seperti biasa, gadis itu tengah berdiri di atas trotoar. Pandangannya sayu melihat sebuah masjid yang tengah mengadakan penyambutan harin di turunkannya Al-Qur’an. Atau lebih dikenalnya Nuzulul Qur’an. Seketika orang-orang di sana bubar dan berlompatan keluar dari masjid, gadis itupun pergi menuju tempat biasanya. Dia terus berjalan dengan bersimbah air mata. Ketika dia hendak masuk ke dalam tempat gemerlap itu, sebuah suara mengagetkannya.
“Aisya,” Lirihnya. Aisyapun mendongak. Dia melirik ke arah pria yang tak asing di matanya. Tiba-tiba dia berlari dan memeluk pemuda itu erat. Sontak, pemuda itu melepaskan pelukan Aisya dengan keras.
“Astaghfirullahal’adzim, Aisya. Kita ini bukan makhram. Dan apa maksudmu memakai pakaian seperti itu. Pakaian itu tak halal untukmu!” Ucap Ahmad. Aisyapun menunduk. Ahmad menatapnya sedikit murka.
“Cepatlah, Laura. Atau kita batal?” Tanya pria itu. Aisyapun berjalan menuju pria tadi. Terdengar, lantang suara Ahmad.
“Laura, cepat! Aku tidak punya waktu lama lagi. Jika kau masih di sana, akan ku kurangi bayaranmu malam ini,” Seketika, suara seorang pria mengagetkan Ahmad.
“Aisya, apa yang kau lakukan?”
“Maafkan aku. Inilah aku yang sebenarnya.” Ucap Aisya sendu. Ahmad tercengang. Matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka, Aisya yang selama ini dia percayai, ternyata bukan seperti yang dia lihat.
Walaupun aku terpaksa. Tapi, apa boleh buat? Walau aku bekerja sebagai seorang yang hina, aku tak pernah lupa akan Tuhanku, Allah. Aku selalu mengingatnya. Setiap kali, aku selalu berdo’a dan mohon ampunan-Nya atas segala keterpaksaanku ini. Namun, Ayahku selalu menyuruhku untuk meninggalkan shalat. Diapun membakar mukenaku. Aku masih sabar. Akupun sering shalat di masjid. Namun, dia malah mengurungku. Akupun mencoba mengucapkan kata-kata do’a sebisaku. Namun, Ayahpun melarang juga. Aku muak. Akupun melawannya. Pada akhirnya, dia membawaku ke seorang dukun. Entah apa yang dukun itu lakukan padaku. Hingga akhirnya, jika aku mendengar seorang mengaji atau semacamnya, tubuhku sering bergetaran. Dadaku sesak, panas. Itu semua ulah Ayahku. Ayahku jahat. Aku benci dia!” Ucap Aisya sedikit meninggi pada kalimat akhir dan terisak. Matanya terus berlinang dan tak henti-henti menangis suaranya menjadi sedikit parau.
“Aku terpaksa, Ahmad. Aku tak pernah mau melakukan ini! Aku memang hina, Ahmad. Aku seorang pelac*r. Kau jangan mendekatiku lagi, Ahmad. Aku berbeda denganmu. Kau mulia di mata Allah. Aku hina di mata-Nya. Aku hina. Aku bodoh! Aku terlalu lemah!” Teriak Aisya. Ahmadpun berjalan menuju Aisya. Dia menyuruh Aisya berdiri.

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat Ukhti menangis. Sebaiknya, ceritakan baik-baik apa yang terjadi padamu. Aku bisa membantumu. Ayo, bangun dan mari kita pergi ke mushola. Tenangkan dirimu di sana.” Ucap Ahmad sambil tersenyum manis ke arah Aisya. Aisyapun mengangkat pandangannya ke arah Ahmad. Diapun menyeka air matanya dan berdiri, diapun mengangguk.
Segera, Ahmad mengajak Aisya untuk pergi ke mushola, tempat biasa di mana dia beristirahat. Setelah sampai di sana, Ahmad segera masuk ke dalam dan memberikan sebuah mukena juga sajadah kepada Aisya.
“Untuk apa ini?”
“Shalatlah. Maka, kau bisa lebih tenang.”
“Tak bisa,”
“Mengapa begitu,?”
“Sudah lama, aku tak mengenakan i.. ni.” Ucap Aisya terbata juga terisak. Dia terduduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ahmadpun membiarkan dia tenang dan membaca kitab kecil yang dia simpan di saku bajunya. Kitab yang tak lain adalah Al-Qur’an.”Audzubillahi-minasy-syaithoonir-raaziim, Bismilaahir-rahmaanir-rahiim.” Seketika Ahmad berta’udz, tiba-tiba Aisya terkulai lemah di teras masjid. Tubuhnya gemetaran. Ahmad yang melihat itu, langsung kaget.
“Akan ku jelaskan.”
“Setidaknya, pakai sajalah mukena ini untuk menutup auratmu. Aku bisa zina mata. Dan kita bisa sama-sama berdosa.”
“Baiklah,” Ucap Aisya. Aisyapun segera memakai mukena itu. Dia tampak sedikit terisak ketika memakainya.
“Ahmad, maukah kau mendengar ceritaku?” Tanya Aisya. Ahmadpun mengangguk.
“Kau baik-baik saja, Ukhti?”
“Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Seketika Ahmad berhenti, Aisyapun bangkit.
“Sebenarnya, aku terpaksa melakukan semua ini. Aku terpaksa, Ahmad. Ayahku yang menyuruhku. Dia menyuruhku untuk melakukan ini. Jika tidak, dia akan membunuhku. Membunuh ibuku. Diapun membunuh ibuku. Setelah itu, dia terus mendesakku untuk melakukan hal itu. Aku tak mau. Dan akhirnya, dia memberiku dua pilihan. Melakukan hal tadi, atau Ayahku akan bunuh diri. Aku tak tega kehilangan dua orang tuaku. Akhirnya, akupun mau untuk melakukan hal tadi.
“Aku tak akan pernah diampuni-Nya. Dosaku terlalu menumpuk.”
Lalu, ketika di akhirat, malaikat Malik dan malaikat Ridwan merebutkan wanita itu. Kata malaikat Malik, wanita itu harus masuk neraka karena dia seorang pelac*r. Sedangkan kata malaikat Ridwan, dia harus masuk surga, karena dia telah menolong anjing yang kehausan itu. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk bertemu dengan Allah, dan ternyata, malaikat Ridwanlah yang benar. Wanita itupun di masukan ke dalam surga karena telah menyelawatkan nyawa anjing itu. Walaupun anjing adalah najis, tapi dia tetap makhluk Allah. Dan wanita itupun melakukan hal tadi terpaksa. Karena keadaan yang sangat darurat. Jadi intinya, setiap dosa yang dilakukan karena terpaksa maupun tidak, jika kita benar-benar menyesalinya, Insya Allah, Allah akan memberikan ampunan pada kita. Sebesar apapun dosa kita, jika kita benar-benar bertaubat dan tak akan mengulanginya lagi, maka Insya Allah, kau akan diampuni. Allah itu Maha Pengampun.” Ucap Ahmad.

“Kau jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebuah hadist mengatakan, bahwa Allah pernah berfirman.”Wahai anak Adam, kalau dosa-dosamu (sangat banyak) sampai setinggi awan di langit, kemudian kamu meminta meminta ampun kepada-Ku, niscaya aku akan mengampunimu dan aku tidak peduli. Sesungguhnya, jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu datang menjumpai-Ku (ketika meninggal) dengan keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Maka, Aku akan memberikanmu ampunan sepenuh bumi.” Maka kau tak boleh berputus asa.
“Bagaimana bisa aku meminta ampunan. Jika mengucapkannya saja aku tak mampu. Dadaku selalu sesak dan panas.”
“Mulailah dengan Bismillah, Ucapkanlah, Bismillah,”
“Bismil.. llah.” Aisyapun menyandarkan kepalanya ke pundak Ahmad. Dia terlalu lemah untuk mengucapkan kalimat itu. Entah hal apa yang telah diperlakukan oleh Ayahnya. Sehingga kini, dia seperti itu.
“Bis… mil.. llah..” Ucap Aisya terbata-bata dan sedikit menahan sakit.
“Ucapkan lagi, Bismillah,”
“Mulailah lagi, Aisya.”
“Pada zaman Nabi Isa A. S, Bani Israil saat itu sedang di landa kekeringan dan kekurangan makanan. Hingga, ada seorang wanita, yang sudah tak kuat untuk menahan lapar dan haus. Diapun terpaksa, menjual kehormatannya karena keadaan yang sangat terpaksa itu. Akhirnya, diapun mendapatkan uang. Diapun dapat bertahan hidup. Hingga suatu hari, ketika dia kelaparan dan kehausan lagi, tak ada seorang lelakipun yang mau dengannya. Pada akhirnya, diapun menemukan sebuah sumur. Karena sudah tak kuat dan hampir mati, saat itu juga, dia mendekati sumur. Diapun menurunkan sepatunya dengan kerudungnya. Ketika dia hendak minum, ada seekor anjing yang sangat kehausan. Dia terlihat sangat lemah. Wanita itupun memberikan air yang dia ambil dari sumur untuk anjing itu. Anjing itupun selamat. Tapi, tidak dengan wanita tadi. Dia meninggal di sana juga, karena kelaparan dan kehausan.
“Aku tak bisa, aku tak kuat Ahmad. Aku terlanjur sudah seperti ini. Terlanjur menjadi bahan bakar api neraka. Jahanam. Aku penghuni Jahanam. Dosaku terlanjur menumpuk. Umurku belum tentu dapat menghapus semua dosa-dosaku.” Ucap Aisya sesenggukan.
“Apakah kau pernah mendengar kisah pelacur yang masuk surga?” Tanya Ahmad. Aisya hanya menggeleng sambil masih sesenggukan.
“Dari arah masjid, tiba-tiba ada segerombolan orang memakai pakaian putih memanggul dan mengiring jenazah ini. Mereka begitu banyak. Sambil diperjalanan, mereka berucap ‘laa-ilaaha-illal-laah’. Mereka begitu cepat menguburkannya. Lalu menghilang seketika. Dan akhirnya, pemilik makam ini mengekuarkan wangi yang sangat luar biasa. Subhanallah, pasti mulia orang ini. Sepertinya, mereka adalah malaikat-malaikat,”
“Aku tak pernah berfikir sejauh itu. Apakah semua yang kau katakan itu benar? Apakah aku dapat seperti wanita dalam ceritamu itu?”

“Insya Allah, jika kau benar-benar menyesalinya. Jika kau benar-benar bertaubat. Jangan pernah kamu berputus asa dari Rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Semua itu benar. Hanya janji Allah dan Rosul-Nya saja yang tak akan pernah diingkari. Percayalah,”
“Aku terlalu hina. Aku terlalu kotor untuk ini. Aku tak pernah berfikir, bagaimana kasih sayang-Nya padaku. Aku hina!” Isak Aisya.
“Jangan rendah diri. Itu tak baik. Ayolah, mulai dengan membaca basmalah, kau bisa.”
“Aku tak bisa, Ahmad. Sebenarnya aku iri pada mereka, Ahmad. Pada wanita-wanita yang bebas beribadah tanpa rasa sakit sedikitpun. Mereka bebas. Mereka tak sepertiku, aku iri, Ahmad.”
“Bism.. millaahir-Rah.. ahmaanir.. nir-Rahiim.”
“Ucapkan lagi,”
“Bismilaah.. hir-Rahmaan.. nir-Rahiim.” Aisyapun menghela nafas.
“Bagaimana? Apakah kau masih sakit mengucapkannya?”
Semalam suntuk, dia terjaga, dia belum berhenti-henti berdo’a menyesali dosa-dosanya. Dia tak reda juga menangisi segala yang dia lakukan. Seakan-akan, dosa-dosanya ikut tersapu turun bersamaan air matanya.
Angin malam terus menelusuk celah-celah do’anya. Wanita itu tengah menangis tersedu-sedu. Sesenggukan. Hanya dengan sehelai kain putih yang menutupi semua anggota tubuhnya kecuali wajah, dia bisa terus berdo’a dan memohon ampunan dari-Nya.
Setelah sampai di masjid, dia mengabarkan hal itu. Kemudian, diapun membawa Aisya untuk dimandikan di tempat lain. Hanya dia saja yang memandikannya. Diapun lupa, bahwa dia belum membawa kafan. Segera, dia simpan jasad Aisya di masjid dan membatalkan untuk memandikannya dulu. Diapun segera berlari menuju pasar untuk membeli kafan. Di tengah jalan, dia melihat orang-orang sedang berkumpul di dekat tempat pemakaman.
“Assalamualaikum,” Ucap Ahmad. Diapun melihat di antara segerombolan orang-orang itu. Terlihat, sebuah kuburan yang tanahnya masih basah bertuliskan nama Aisya binti Qomar. Dan tanggal kematiannya tepat tanggal hari itu juga. Kuburan baru itu mengeluarkan bau yang sangat harum. Lebih harum dari segala wewangian yang ada di bumi. Ahmad terkejut. Diapun segera berlari menuju masjid. Di sana, tak ada jenazah Aisya sama sekali. Diapun kembali ke tempat pemakaman tadi. Dia kaget sekali. Ada banyak sekali orang yang melayat ke sana. Ahmad semakin bingung. Diapun berlari menerobos orang-orang di sana. Walau terdesak-desak, dia tetap ingin mencapai yang paling depan.
Sesaat dia sampai di sana. Dia bertanya pada laki-laki paruh baya yang tengah berdiri di sana.
“Assalamualaikum, Pak. Sebenarnya, siapa yang menguburkan jasad ini? Dari mana mereka?”
“Subhanallah, Aisya,” Ucap Ahmad. Laki-laki paruh baya itupun kaget.
“Aisya? Aisya mana? Yang namanya Aisyakan cuma Laura, pelac*r itu,” Tanya laki-laki itu heran.
“Memang benar, Pak. Dia Aisya, dia bukan lagi pelac*r. Dia adalah orang yang mulia. Dia orang terbaik di antara kalian. Dia sudah menyesali dosa-dosanya. Semalam suntuk, dia terjaga. Dia hebat,” Lirih Ahmad sedikit menitikan air mata.
“Subhanallah, padahal, orang-orang di sini malah memfitnah dan menyebarkan berita-berita buruk terhadap dia. Saya tak bisa percaya akan hal itu.” Ucap lelaki itu. Ahmadpun hanya tersenyum.
Fajar belum menyingsing sempurna. Bau harum dari makam Aisya belum hilang-hilang. Ratusan orang berbondong-bondong melihat keajaiban tersebut. Mereka semua masih kurang percaya jika Aisyalah orang yang ada di sana. Padahal, jika bukan dia, siapa lagi?
Saat itu, Ahmad masih sedikit mengantuk. Tapi, dia memaksakan diri untuk tetap sahur. Sayup-sayup, dia mendengar suara seseorang tengah membaca Al-Qur’an. Tepatnya, membaca surat Al-Fatihah. Samar-samar, dia melihat seorang gadis bergaun putih tengah mengaji di sana. Diapun melirik ke arah Ahmad. Dia tersenyum manis.
“Telahku bacakan padamu tujuh ayat, Mas.” Lirihnya. Seketika, pandangan Ahmadpun menjelas.
“Aku percaya, kau pasti sudah bahagia di surga sana, Aisya.”
“Aisya?” Ucapnya. Sesaat, senyum dan bayangan itupun hilang tak meninggalkan bekas di sana. Ahmadpun tersenyum.

-SELESAI-

Thanks for reading & sharing Layang - Layang Hitam

Previous
« Prev Post

Pencarian

Translate

TERPOPULER