Home » , , » Apakah Harus Kapitalis Dipertahankan ?

Apakah Harus Kapitalis Dipertahankan ?

Posted by Layang - Layang Hitam on Friday

Sejak Marx mengumandangkan surplus value sebagai roh dalam “mode produksi kapitalis”, setiap model dan rangka analisis yang terdapat dalam disiplin ilmu sosio-humaniora  seperti terarah pada satu pokok masalah: kapitalisme. Secanggih dan serumit apapun analisisnya, tak ada hal lain yang bisa dituding kecuali kapitalisme. Padahal kita tahu baik Marx atau pun Engels tak pernah menyebutnya demikian.
Kapitalisme bukanlah tema baru dalam diskursus ilmu pengetahuan kita—terutama sekali di abad 20; orang-orang seperti Max Weber, Georg Simmel, Karl Polanyi dan Joseph Schumpeter, telah memberikan porsi yang banyak untuk memahami kapitalisme dalam karya-karya teoritisnya. Weber misalnya, selain untuk mengkritisi psikoanalisa Freudian yang begitu dominan dalam melihat fenomena-fenomena sosial di Eropa kala itu, memformulasikan empat “Tipe rasionalitas” (instrumental, nilai, afektual dan tradisional)  yang tak lain merupakan proyeksi dari meaning of subject di tengah-tengah dominasi sistem kapitalisme.
Dengan kata lain, sebagaimana yang dikumandangkan Granovetter di kemudian hari, tindakan sosial dan tindakan ekonomi bukanlah entitas yang bisa dipilah-dipilah melainkan sudah selalu embedded dalam struktur sosial masyarakat. Ini tidak hanya berlaku pada individu sebagai konsumen, tapi juga menjadi pertimbangan dalam setiap upaya ekspansi kapitalisme itu sendiri. Itulah yang dicatat oleh Jessua dalam buku ini: kapitalisme, oleh karena sudah mengakar bahkan sejak abad III mana kala imperium Roma luluh lantah akibat invasi yang dilakukan kaum barbar (luar; asing), juga Perang Salib, dan berpuncak pada Revolusi Industri di Inggris, telah tertanam secara kultural dan universal.
Jessua tentu tak berada di sisi sebagai yang mendukung kapitalisme. Seri Panduan: Kapitalisme yang diterbitkan oleh Jalasutra ini, bagi saya, semacam uraian singkat mengenai perkembangan kapitalisme selama berabad-abad yang dibungkus sangat ciamik ke dalam bentuk narasi-narasi satire. Buku ini seperti mampu menciptakan suatu tegangan parodi dalam diri pembaca. Persisnya ketika kita menyadari, kini, tak seorang pun dapat lepas dari jeratan kapitalisme; sebuah keterceraian antara harapan untuk menjadi manusia adil dalam pikiran dan tindakan, dan kenyataan  bahwa dunia tak pernah memperkenankannya...

salah satu penyebab tunduknya suatu negara adalah sistem nya yang "Korporatokrasi" atau biasa di sebut pemerintahan perusahaan. untuk lebih jelasnya baca : Korporatokrasi, Menyempurnakan Negara Sebagai Pengabdi Perusahaan.






Thanks for reading & sharing Layang - Layang Hitam

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Pencarian

Translate

TERPOPULER