Sosialisasi Gerakan Literasasi Mamuju Di SMPN 2 Kalukku
Dalam beberapa kali kesempatan berbicara dengan
kawan-kawan, sambil bercanda, saya sering melontarkan pertanyaan kepada
teman-teman organisasi tentang siapa penulis Indonesia yang mereka kenal.
Jawaban yang saya peroleh selalu sama, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Lalu ketika
diajukan pertanyaan lanjutan apa buku yang pernah ditulis Pramoedya Ananta
Toer. Jawaban seragam pun nyaris sama seperti jawaban yang pertama,”Bumi
Manusia”. Padahal dalam sejarah sastra Indonesia ada banyak penulis buku Indonesia
yang hebat dan “Bumi Manusia” bukan satu-satuya Buku yang ditulis Pramoedya
Ananta Toer tetapi mengapa jawabannya tidak berubah... ?
Kondisi di atas seolah ingin mengkonfirmasi beberapa hal
tentang pendidikan Indonesia.
Pertama, inilah
akibatnya kalau pendidikan kita dikelola secara sentralistik-uniformistik.
Siswa dipaksa untuk melahap kurikulum pembelajaran yang seragam, cara berpikir
yang seragam, cara berbicara yang seragam, bahkan pakaian pun didesain untuk
seragam.
Kedua, terbatasnya
jawaban sosok “Pramoedya Ananta Toer” untuk pertanyaan siapa penulis Indonesia,
dan “Bumi Manusia” untuk pertanyaan apa Buku yang pernah ditulis oleh Pramoedya
Ananta Toer menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia masih sangat
rendah.
Literasi pada dasarnya mengacu pada kemampuan membaca dan
menulis. Kemampuan ini juga tidak bisa dilepaskan dari kemampuan menyimak dan
berbicara. Dengan demikian, literasi identik dengan kemampuan menyeluruh
keterampilan berbahasa yang terdiri dari 4 kemampuan. yaitu :
1. menyimak
2. berbicara
3. membaca
4. menulis
Oleh karena itu seorang dikatakan literate (terdidik)
apabila ia menguasai keempat keterampilan berbahasa. Dan keempat keterampilan
berbahasa tersebut, khususnya keterampilan membaca dan menulis perlu terus
dipelajari, dilatih, dan dibiasakan secara konsisten.
Karena itulah baru-baru ini sebuah organisasi di mamuju
mencoba untuk mendesain bagaimana untuk mempermudah pemahaman perserta didik
dengan berbagai pendekatan yang langsung menyentuh minat dari peserta didik.
kegiatan-kegiatan membaca yang dikemas dengan games, lomba
baca puisi atau pun tetrikal ternyata cukup membangkitkan antusias dari para
pelajar yang ada di beberapa sekolah di mamuju.
Tidak hanya sampai disitu, organisasi itu pun berhasil
membentuk relawan literasi dari beberapa universitas dan sekolah yang ada di
mamuju sehingga informasi tentang literasi akan lebih cepat untuk disampaikan
dan mempermudah kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan berkaitan dengan
peningkatan daya baca dan tulis dari peserta didik.
Mari Kita Tunggu Kejutan Selanjutnya Dari Gerakan Literasi
Mamuju...!!?
Thanks for reading & sharing Layang - Layang Hitam



0 komentar:
Post a Comment